Arsip Bulanan: Februari 2008

Cash Flow Quadrant dan Interpreneur

Pada saat kecil kita sering ditimang-timang oleh orang tua kita, le (panggilan anak lelaki jawa ) kalau nanti kamu besar mau jadi apa? umumnya akan menunjuk menjadi doker, guru, tukang insinyur dan sebagainya….coba kita pikirkan kok tidak ada ya yang pengin jadi pengusaha gitu.

Dalam bukunya motivator dunia Robert Kyosaki ” Cash Flow Quadrant ” membagi profesi yang berkaitan dengan pendapatan menjadi empat quadrant ( Bagian ) yang masing-masing mempunyai kekhasan. Umumnya, caranya, hasilnya, konsekuensinya……dan sebagainya.
Lanjut membaca

Dialog Imajiner antara Mbah Sastro & Kiai Juned

Malam itu nampak hening aku sedang termangu diteras beranda depan rumah, semilir angin sepoi udara pegunungan gunung Salak seakan menyapaku dan mengucapkan salam, tiba-tiba dikanan kiriku sret…………dua orang makhluk hidup berupa manusia aneh, misterius kadang-kadang ngedap-ngedapi yakni mbah Sastro dan Kiai Juned.

Setelah shlolat begini mbah Sastro merasakan  apa ya mbah ?tiba-tiba kiai Juned membuka percakapan. We lha yo merasakan , bebas lepas tidak ada beban dan berharap ibadahku diterima dan diberikan pahala yakni berupa surga dan diajuhkan dari api neraka. ” Oh jadi sholat mbah Sastro terasa sebuah kewajiban gitu, kalau udah sholat rasanya enteng alias ringan tidak ada beban, terus ada harapan masuk surga gitu ” kiai Juned menoba menekankan kembali jawaban mbah Sastro. Jadi ibadah mbah Sastro seperti ibadahnya para buruh, yakni bebas kalau sudah melakukan kewajiban dan sekaligus seperti pedagang alias berjual beli dengan Allah, minta pahala dan surga dari ibadah kita. Lantas seperti apa? la wong jelas di Alquran begitu kok. Ayak-ayak wae…kata mbah Sastro. Tambah bingung aku. Yakin yang mana?entahlah…..tiba-tiba aku kaget mendengar suara  kiai Juned sedikit meninggi. ” itulah kalau mempelajari sesuatu apalagi alquran sebatas kulit tidak sampai dalam hakekat ( meminjam istilah filsafat sampai radixnya ). Untuk apa sih sholat ? emang kalau kita tidak sholat Allah rugi, sedih, maka kalau kita sholat akan dikasih hadiah berupa pahala dan sorga, dan sebaliknya kalau kita tidak sholat akan dihukum. Emang Allah maha penghukum dan pendendam……….Wah tambah bingung aku………..” itu semua merupakan gambaran salah. Menggambarakan Allah dengan serupa makhluk…..tidak-tidak……tidak begitu,  kiai Juned terus kayak peluru M16 ditembakkan tidak ada jeda sedikitpun. Terus apa dong kegunaan sholat. Betul sholat sarana untuk mengingat Allah tetapi sesungguhnya mengingat Allah itu tidak hanya pas sholat tapi any time sepanjang jantung kita berdetak kita senantiasa harus mengingat Allah. ” dan ingatlah Tuhanmu baik dikala pagi dan petang “. Kalau sudah setiap saat kita diharuskan mengingat, terus sholat bagian dari setiap saat itu. Jadi fungsi mengingat hakekatnya udah hilang. Banyak sekali makna dan kegunaan sholat tapi kalau diperas adalah sebagai perwujudan rasa syukur makhluk kepada khaliknya. Makna syukur harus diartikan secara luas. Manusia yang terdiri antara ruh dan empat unsur angin, api, air, dan bumi yang sejatinya adalah adam. Hilang salah satu unsur maka meninggallah manusia itu. Berpisahnya ruh dan raganya (kurungannya). Keberadaan empat unsur tersbut wajib disyukuri keberadaanya.
Lanjut membaca

Teguhseksiono’s Weblog

SELAMAT DATANG DI Teguhseksionos Weblog. Pendakian, Pergulatan dan Pergumulan Pemikiran tentang : Budaya, Hutan, Lingkungan, Bisnis Atsiri dan apa aja yang bersentuhan dengan hidup dan kehidupan ini……………..Terobosan, syukur tercipta pemikiran  revolusioner untuk perdapan umat manusia. 

BUMI MENJERIT !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Saham bumi pada manusia sesungguhnya mayoritas, ( kalau itu diistilahkan pada Perusahaan ).  Sudah seharusnya manusia mempunyai kewajiban memberikan deviden ( keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham) kepada bumi. Betapa besar kontribusi bumi pada kehidupan manusia, hampir tidak terhitung. Mulai sebagai tempat berpijak, tempat menumbuhkan kebutuhan-kebutuhan manusia untuk keperluan metabolisme, gravitasinya memungkinkan manusia tidak terlempar keruang angkasa, mineral yang dikeduk manusia, dan masih banyak lagi, tidak terhitung………………………..

Kalau bumi sebagai pemilik saham mayoritas kehidupan manusia, apa deviden  yang diberikan manusia kepada bumi ???? selain terus memperkosanya, menyakitinya, dan membuat dia sedih dan menderita. Betapa “absurdnya” tindakan manusia itu, ” air susu dibalas dengan air tuba “.

Kalau kita mengenal manajemen hutan jati, khusunya di jawa akan menjumpai istilah yang namanya ”bonita”, yakni suatu indikator untuk standarisasi kesuburan dalam suatu unit manajemen hutan terkecil ( petak/anak petak ). Ternyata kenyataan dilapangan sudah jauh dari standart tersebut. Akibatnya SDH ( Sumber Daya Hutan ) semakin menurun. Hal tersebut karena pengelola hanya menitik beratkan pada produktifitas, produktifitas, produktifitas karena demi memenuhi target.

Penggunaan pupuk kimia ( an, Organik ) selain meningkatkan kadar keasaman tanah juga tidak memperbaiki struktur tanah. Akibatnya terjadi degradasi kesuburan yang luar biasa. 

Eksploitasi tambang yang saat ini sedang ramai-ramainya. Tidak saja menurunkan kesuburan bahkan perusakan yang luar biasa. Lubang-lubang yang menganga, sana-sini menjadi danau-danau kecil karena kemampatan aerase tanah. Sungguh meninggalkan rasa perih yang tidak terhingga.

Bukit yang terjal yang mestinya diteras sering dan ditanami pohon-pohon berkayu yang berakar dalam agar mampu sebagai “catchmen area”, banyak ditanami sayur-sayuran yang tidak mampu mencegah erodibilitas tanah. akibatnya erosi bahkan longsor……………korbannya manusia juga………………………….

Telah habis kali kesabaran bumi, isak tangis dan teriakan ngilu bumi tidak terdengar oleh manusia yang serakah dan pongah. Hati atau qolbunya mampat. Memang sih hanya orang yang hatinya bening yang mampu mendengar teriakan-teriakan bumi. Buki juga senantiasa bertasbih mensucikan namaNYA, memujiNYA dan membesarkaNYA. Hei manusia engkau dimana ????????????

   

KARYAWAN, GAJI DAN INTERPRENEUR.

Seiring dengan waktu, jumlah penduduk semakin meningkat, pendidikan para warganya pun begitu. Seiring itu pula permasalahan kehidupan semakin komplek, kompetisi semakin ketat. 

Dengan pertumbuhan 6.8 % target pemerintah tahun 2008, yang tidak diamini oleh lembaga-lembaga ekonomi dunia yang mematok 6.1 %. Bahkan mungkin bisa lebih rendah dari itu. Sementara pertumbuhan yang 6.8 % didorong sebagian besar pada aspek keuangan dan ITI ( dua aspek ini tidak bersifat padat modal bukan padat karya ) sehingga dari target setiap persen pertumbuhan akan menyerap tenaga kerja 400.000 orang, akan jauh dari perkiraan tersebut. Mungkin hanya separuhnya saja.

Bisa dibayangkan antara suplay demand employ akan tidak seimbang. Suplay demikian banyak sementara demand naik sangat sedikit. Akibatnya perusahaan mempunyai posisi bargaining yang kuat. Bagaimana mensiasati kondisi tersebut ?

Jawaban tidak ada kata lain, harus profesional dibidangnya. Seperti apakah profesional itu? profesional dari kata profesi = mata pencaharian yang ahli dibidangnya.  Menurut hemat kami kriteria menjadi ahli tidak saja mampu mengoperasikan/melaksanakan sesuatu saja tapi harus sudah mampu melakukan innovasi yang bersifat logic, rasional dan harus lebih efisien. Tetapi apa realitasnya ??????

Realitas yang kita temui dilapangan adalah begitu banyaknya “para profesional” yang tidak saja rendahnya standarisasi profesi tetapi semangat untuk belajar dan mengembangkan diri yang rendah. Sekedar menjalankan “tugas-tugas” harian. Lainnya EGP ajalah ” Emang Gue Pikirin “.  Kalau ini melanda para pekerja laki-laki ( bukan membedakan gender ) tetapi memang fakta di masyarakat laki-laki merupakan kepala rumah tangga dan tiang keluarga.  Bisa dibayangkan dinamika perusahaan yang diisi oleh orang-orang yang berkarakter demikian.  Lebih jauh lagi harapan naik gaji yang besar selalu membayang……wah. Gawatnya lagi karena waktu yang terus berjalan kemampuan yang stagnan, maka job telah maksimal sesuai dengan kemampuannya. Tidak dapat ditingkatkan lagi. Than so what gitu loh……………..pasti Perusahaan akan mencapai suatu titik over pricing dalam membayar tenaga kerja tersebut.

Jiwa interpreuner harus ditumbuhkan dari mulai kecil. Bukankah Islam juga mengajarkan interpreuner seperti yang dilakukan Rosulullah. Beliau menjadi seorang interpreuner yang berhasil. Jiwa interpreuner ini dimaksudkan tidak harus terjun ke wira usaha ( kalau berani itu lebih bagus ) setidaknya dihayati semangat dan keuletannya.  Seorang wiraswasta dipaksa untuk fight secara total untuk bisa survival, dipaksa kreative, innovative berdaya guna dan berhasil guna.

Kalau karyawan punya jiwa interpreuner yang kuat percayalah gaji tidak usah diharap-harap karena secara otomatis. Sebab siapapun yang mengkaryakannya akan puas dengan dedikasi, kemampuan dan tanggung jawabnya.

Mbah Sastro Menggugat !!!!!!!!!

Sedang enak-enaknya nongkrong di warung kopi, tiba-tiba sekelbat bayangan putih datang dan mengucap salam, ternyata yang datang mbah Sastro. Apa kabar mbah? sapaku. Sedih, kecewa, jengkel alias mangkel. Lo ada apa tho? aku pengin tahu.

Setiap jumat masjid penuh, tiap tahun kita memberangkatkan haji sampai kuota  yang 200.000 ( dua ratus ribu ) dari Arab Saudi tidak cukup. Tapi kok moral masyarakat ini kok tidak beranjak lebih baik. Coba untuk training ini menghabiskan berapa banyak duit. Kalau dihitung tiap jamaah haji plus segala macemnya mengahabiskan  tiga puluh juta rupiah ( Rp. 30.000.000) kali 200.000 orang maka akan habis 6 trilyun. Wah ngitung uangnya mungkin semalam nggak selesai. Itu pertahun lo. Kalau 20 tahun terus berapa?

Harusnya terjadi revolusi moral secara besar-besaran. Tidak hanya evolusi tapi ” REVOLUSI  MORAL “. Ini terjadi karena pemisahan antara dunia dan akherat. Sholat mah sholat tetapi maksiat jalan terus. Haji mah haji tetapi korupsi tidak pernah henti. Padahal Sholat, Zakat, Haji dan ibadah ritual lainnya adalah sarana training yang out putnya adalah moral alias akhlaqul karimah. Bukankah agama ini diturunkan untuk memperbaiki akhlak?

Coba kalau bener-bener mendirikan sholat pasti out putnya adalah  tercegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, disiplin, ulet, kerja keras, punya visi dan misi ke depan. Maksydnya ? aku minta dijelaskan lebih detail. Coba sholat 5 waktu yang sudah ditentukan waktu-waktunya, harus bersih, harus urut dan tertib sesuai rukun dan wajib sholat. Pasti orang yang mendirikan sholat pasti orang yang disiplin ( waktu ), 5 kali sehari ( kerja keras ), terus menerus ( ulet ). 

Kita harusnya tidak kalah dengan disiplin ”boshido”nya orang jepang. Belum lagi haji….padahal salah satu yang ditekankan sebelum berhaji lihat tetanggamu yang berjarak 40 rumah. Apakah sudah kenyang ” tidak kurang beras “, anaknya sudah bayar SPP atau belum ( Maksudnya apa kuat bayar SPP ), dan sebagainya. Pokoknya menekankan sisi sosial.  Bahkan sering kita dengar ” ini haji kami yang ke sepuluh “ padahal dikanan dan kiri rumahnya ada tangisan anak yang kelaparan karena orang tuanya belum beli beras…….  

Budaya Menghargai Proses dan Materialisme

Sebagai anak bangsa kita merasa galau sedih dan malu mana kala melihat laporan hasil pemeringkatan ” yang jelek-jelek ” kita selalu mendapat rangking yang diatas. Misal negara terkorup di asia, negara dengan kualitas pendidikan terburuk, disiplin terjelek, lau lintas yang paling semrawut, dan sebagainya dan sebagainya.  What wrong ? bukankah kita bangsa yang punya budaya adi luhung, sopan santun, ramah tamah. Tidak ada kaitannya kata mbah sastro dalam suatu diskusi warung kopi.  Lo terus…..aku belum berucap mbah sastro sudah menimpali budaya merupakan kebiasan terus menerus yang dilakukan oleh suatu komunitas. Sedangkan komunitas merupakan kumpulan dari individu-individu yang punya persamaan.  Tambah bingung aku, cuma aku mencoba diam berusaha memahami apa maksud mbah Sastro. 

Sambil makan pisang goreng yang masih panas mbah Sastro menjelaskan ” akar permasalahan budaya yang jelek-jelek itu salah satu yang cukup dominan adalah karena kita-kita ini lebih menghargai hasil dari pada proses. Itu merupakan pemicu lahirnya materialisme ( mendewakan materi ). Mosok sih mbah ? mulutku begitu saja terbuka antara pertanyaan dan sanggahan.  Dengan kaki yang digerak gerakkan secara ritmis kayak kiai Sudrun ( meminjam istilah EMHA ) mbah Sastro dengan semangat menjelaskan.  Kalau dua orang datang ke sampean satunya memakai jas lengkap, memakai mobil mewah ” merk eropa ”, sedangkan satunya lagi memakai kaos lusuh mobilnyapun hijet 1000 alias truntung, pasti sampean pertama kali akan melayani yang pake jas tho ? sampil nanya mbok Minah, tukang warung kopi. La iyo tho mbah, jawab mbok Minah. Lah iki padahal yang pakai jas  dan mobil mewah tadi dari hasil korupsi beras raskin ( beras untuk orang miskin) sedangkan yang satunya lagi adalah bos pemulung. Dia bekerja keras dengan timnya tidak saja mengembangkan ekonomi kerakyatan tetapi juga pengabdi lingkungan hidup cuma tidak pernah gembar gembor tentang daur ulang, sampah yang dibuang sembarangan. Camer ( calon mertua ) cais ( calon istri ) lebih bangga pada orang yang berjas tadi, pasti itu. Padahal kalau diterawang pake mata batin orang yang berjas tadi itu busuk. Apalagi bersentuhan mendekatpun aku tak kuat saking bau busuknya.  Lo mbah, bukankah orang yang berjas tadi itu parfumnya wangi pasti import tuh…………..goblok kamu kata mbah Sastro, dasar budaya instan, selalu hanya lihat kurungan tidak bisa melihat yang sejati…..ya begini ini bangsa ini sampai kapanpun ……katanya sambil menghilang dikegelapan malam……………

Pemerintah Belum Optimal Dalam Pengembangan Bisnis Atsiri

Bisnis minyak atsiri ( essential oils ) sudah berlangsung sangat lama di Indonesia. Bahkan sejak zaman penjajahan sudah ada. Akan tetapi pada umumnya masih dalam skala industri rumah tangga, masih sangat langka pemain-pemain ( baca Perusahaan ) besar menekuni bisnis ini.

Ada puluhan jenis atsiri yang bersifat komersial.  Beberapa jenis yang paling populer di Indonesia adalah Cengkeh hasil minyaknya Eugenol, Jahe dengan ginger oil, Pala menghasilkan myristic oil, Nilam dengan pachouly oil. dan masih banyak lagi.

Proses produksi atsiri ada cara yang diekstrak dengan solven tertentu dan dengan cara di suling. Secara prinsip hampir semua komponen produksinya adalah lokal tetapi marketnya ekspor. Salah satu contoh adalah pachouly oils kebutuhan dunia adalah 1500 Ton pertahun, 90 % adalah dari Indonesia.

Kalau kita berkesempatan jalan-jalan di pulau Kalimantan, betapa besarnya lahan-lahan tidur yang tidak produktif.  Sesungguhnya oportunity loss yang demikian besar.  Salah siapakah gerangan ?? satu sisi begitu banyaknya pengangguran baik tertutup maupun terbuka, kemiskinan yang masih demikian besar ( itupun memakai versi pemerintah, kriteria miskin adalah pendapatan dibawah 1 $. Apalagi menggunakan versi PBB yakni 2 $ perhari ), kredit konsumsi yang relatif besar.

Dari variable-variable diatas, mari kita tarik benang merahnya. Banyaknya lahan tidur yang tidak produktif merupakan sasaran utamanya. Sehingga akan merubah menjadi lahan produktif.  Modal didapat dari pengalihan sebagian kredit konsumsi ke sektor riil. Tentu saja dengan disederhanakan sistem untuk mengakses kredit tersebut. Teknologi tidak sulit karena bisnis ini bukan merupakan hight tec. Tetapi merupakan bisnis yang bersifat padat karya. Dengan iklim type A ( bulan basah lebih banyak dari bulan kering ) maka tidak berkesulitan untuk mengembangkan bahan bakunya.

Jadi jelaslah sesungguhnya tidak ada alasan apapun untuk tidak dapat mengembangkan pembangunan yang berdasarkan potensi daerah dan masyarakat setempat. Hanya dibutuhkan stimulan dari pemerintah dan pengelolaan lahan yang efektif dan tepat guna.

Kita belum berbicara bisnis turunannya. Yang terjadi saat ini adalah kita masih menjual bahan baku lantas dimurnikan diluar akan kembali ke Indonesia berupa produk murni yang harganya bisa puluhan kali lipat.  Contoh eugenol murni ( 90 % up ) merupakan bahan untuk saos rokok kita impor dengan harga perkilogram sampai puluhan juta rupiah.  Padahal pada saat bahan baku harganya hanya ratusan ribu rupiah. Begitu pula terjadi pada Nut Meg ( Pala ) Cristal, Pachouly oils dan sebagainya.

Kesimpulannya adalah banyak sekali yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan potensi diri Bangsa ini yang demikian besar……..Kayu dan batu jadi tanaman……….kata Koes Plus.

Menanam rupiah memanen dollar…………………………..

Hutan Tanaman Industri Solusi Kehutanan Masa Depan

Akhir-akhir ini diRiau sangat marak berita di mass media tentang illegal loging. Semua memberi komentar tentang illegal loging tidak terkecuali pemimpin negeri ini pun memberikan tanggapannya. Masalahnya adalah kita sering kurang proporsional. Selalu ekstrem ke salah satu posisi. Pada saat ” awan dunia ” pada posisi lingkungan dengan instrumen “global warmingnya” semua akan bicara tentang lingkungan, pohon, hutan. Akhirnya akan bicara tentang stop penebangan tanpa melihat esensi masalah yang sebenarnya.

Kenapa kita tidak proporsional melihat sesuatu? selain aspek lingkungan, masih banyak aspek-aspek yang lain yang perlu dilihat, dikaji dan dipertimbangkan. Misal aspek ekonomi, sosial dan sisi kesejahteraan rakyat.

Bagaimana membangun hutan yang produktif dan lestari, serta menyokong fungsi lingkungan dengan ” global warmingnya “. Banyak sistim manajemen hutan yang bisa digunakan untuk mencapai visi, missi dan sasaran diatas.  

Hutan Tanaman Industri dengan sistim silvikultur THPB ( Tebang Habis Dengan Permudaan Buatan ) merupakan salah satu sistim yang bisa mengemban visi, misi dan sasaran diatas. Kenapa ?

Kalau kita bicara HTI yang lebih spesific peruntukannya adalah sebagai bahan baku pulp.  Selama ini negara yang lebih maju pengelolaan hutan untuk bahan baku pulp adalah negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.  Padahal di negara-negara tersebut mengalami empat (4 ) musim. Sehingga umumnya jenis species yang digunakan adalah yang berdaun jarum ( Conifer ).  Species tersebut akan dorman (stop pertumbuhan ) pada musim dingin dan gugur. Dengan demikian MAI ( Mean Annual Increament ) maupun CAI ( Current Annual Increament ) akan lenih rendah dari negara-negara tropis seperti Indonesia. Apalagi curah hujan sebagian negara Indonesia termasuk type iklim A ( menurut scmith & Ferguson ). Berarti secara ”competitive advantage” negara-negara tropis jauh lebih unggul dan efisien. Kekalahan kita hanya pada politik global.

Dengan cepatnya pertumbuhan HTI pulp di Indonesia pangsa pasar pulp dunia mulai terjadi kompetisi yang lebih ketat. Sehingga isue-isue mulai dilemparkan oleh negara-negara yang merasa tersaingi. Isue mengenai dumping kayu BBS ( Bahan Baku serpih ) sampai pada isue lingkungan dengan menggunakan jargon illegal loggingnya.

Jangan-jangan ramai-ramai di Riau ada pesan sponsornya ya??? hanya Allah yang tahu. Sekian dulu ya……………………………………………… 

    

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Dengan mengucap rasa syukur kehadlirat Illahi Robbi, telah terbit Weblog ini. Kami akan mengupas masalah-masalah Hutan, Agribisnis khususnya atsiri (essential oils), Politik, Agama dan Sosial Budaya. MARI KITA RAMAIKAN JAGAT MAYA INI DENGAN SEMANGAT BERLOMBA=LOMBA DALAMKEBAIKAN.