Kebetulan tidak membawa kamus bahasa Indonesia karangan Purwo Darminto, sehingga tidak dapat memberi batasan versi kamus. Bahasan disini mengambil sudut pandang dari sisi ” orang kebanyakan “. Secara umum orang memandang rizqi hanya dari sudut yang sangat sempit, seperti hitungan duit yang masuk kekantong. ” Rasanya kita sudah berdoa habis-habisan dan berusaha-kaki untuk kepala dan kepala untuk kaki. Tetapi kok begini-begini saja ya…” sering terlintas ada dibenak kang Dadang. Seorang pedagang di Pasar Anyar Bogor. Lain lagi cerita kang Iwan ” aku sudah mengikuti petunjuk ustadz untuk sholat dhukha setiap hari…tanpa boleh terlewatkan dan bukankah sholat Dhukha sebagai pembuka pintu rizqi??”tapi kok ya tidak berubah-berubah masih kayak keneh…..katanya. Lain lagi cerita Mas Joko ” Aku disuruh tirakat puasa saat hari lahir dan diteruskan puasa senin kamis……..sudah kujalani dengan penuh “keikhlasan” tapi kok ya nggak ada perubahan. Ada lagi celotehan dari Teh Aan ” Abdi disuruh Mamak ( Kyai ) untuk sholat malam setiap hari kecuali pas haangan……Alkhamdulillah tak jalanin dengan penuh ketekunan tapi ya…lagi-lagi kok masih susah susah juga ya……………