Arsip Kategori: Bisnis Atsiri (Essential Oils )

Standart Of Nutmeg Oil

Seringkali kita kebingungan dalam menilai apakah hasil penyulingan minyak kita standart atau itu tidak. Sehingga layak untuk dijual khususnya dalam kualitas. Standart kualitas tersebut hanya bisa diuji dengan Uji laboratorium dengan menggunakan alat Gastromatografi. Berikut ini dapat dijadikan salah satu acuan standart minyak pala atau Nutmeg oil.

Lanjut membaca

Refleksi Membangun Usaha Minyak Atsiri ( lanjutan )

Episode yang lalu kita telah mempersiapkan condensor dengan baik,  dari sisi kapasitas alatnya maupun volume air pendinginnya. Selanjutnya kita perhatikan air yang beada di steam boiler maupun di dalam tabung reaktan ( jika menggunakan uap langsung ). Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah berapa volume uap yang dibutuhkan untuk mendistilasi voleme bahan baku dan volume tabung. Jika uap terlalu kecil maka tidak akan mampu membawa secara maksimal uap di tabung untuk keluar ke condensor. Hal ini akan berakibat rendemen akan kecil.  Kalau volume uap terlalu besar maka akan terjadi ketidak efisienan di kalori sehingga bahan bakar akan boros.

Lanjut membaca

Refleksi Membangun Usaha Minyak Atsiri

Membangun usaha adalah sesuatu yang khas dalam hidup ini.  Khas karena sifatnya yang khusus. Dalam tulisan-tulisan terdahulu sudah banyak dikupas tentang bagaimana membangun usaha dan jurus-jurus mulai membangun usaha. Pada episode ini lebih banyak akan dikupas setelah bendera usaha kita kibarkan khususnya dalam usaha minyak atsiri, apa yang dialami dan bagaimana lika dan likunya.

Lanjut membaca

Minyak atsiri dan Produk Unggulan

Sore ini sambil nyantai saya mendengarkan radio yang salah satu themanya adalah pidato menteri UKM ( Usaha Kecil Menengah ) yang menyatakan bahwa produk unggulan UKM adalah ukiran jepara dan kerajinan perak Bali.  Ya kita sangat setuju, akan tetapi masih banyak sesungguhnya produk unggulan dan telah terbukti peran ekspornya dari zaman baheula sampai sekarang. Kalau kita ingat Belanda dulu datang ke Indonesia karena salah satunya adalah daya tarik rempah-rempahnya. Bahkan Belanda mampu membangun perkebunan-perkebunan di seluruh antero Nusantara dan  masih bisa dinikmati sampai sekarang.  Justru sekarang ini perhatian terhadap produk unggulan ini sangat rendah, bahkan cenderung dibiarkan berjalan tanpa dukungan yang cukup berarti…
Lanjut membaca

Analisa Makro Minyak Nilam

Tanaman Nilam ( Pogostemon cablin Benth ) merupakan salah satu penghasil minyak atsiri yang penting. Nilam dapat tumbuh dan berkembang didataran rendah sampai tinggi. Menurut beberapa pustaka nilam dapat ditanam sampai pada ketinggian 1200 m dpl. Akan tetapi nilam akan tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 50 – 400 m dpl. Tanaman ini mengehendaki suhu yang panas dan lembab, serta membutuhkan curah hujan yang merata sepanjang tahun. Curah hujan yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman nilam berkisar antara 2000 – 2500 mm/th, suhu optimum 24 – 28 C dengan kelembaban lebih dari 75 %.
Lanjut membaca

MARKETING MINYAK ATSIRI ( Bag II )

Refresh :
Pemasaran minyak atsiri, menurut hemat penulis terdiri dari :
1. Rantai konvensional : Penyuling, Pengepul dan Eksportir.
2. Rantai non konvensional : End users ( Fabrikan ) dan Individual.

Dalam bagian II ini kita akan membahas marketing minyak atsiri dengan pola rantai non konvensional, yakni melalui End users ( Fabrikan ) dan Individual.
Lanjut membaca

Marketing Minyak Atsiri Bag I

Komoditi minyak atsiri sebagian besar bahkan hampir seluruhnya boleh dikatakan merupakan komponen lokal. Sedangkan pasarnya sebagaian besar adalah pasar ekspor. Namun anehnya dalam neraca perdagangan minyak atsiri dan turunannya berdasarkan statistik tahun 2004 adalah minus. Artinya lebih besar impor dari ekspor. Nilai ekspor pada tahun 2004 adalah sekitar 47 Juta dollar, sedangkan nilai impornya 217 juta dollar. Kenapa demikian???
Lanjut membaca

Beberapa Contoh Sistim Penyulingan………

Berikut diberikan beberapa contoh sistim penyulingan yang teneranya mewakili Kayu, Bunga dan Rimpang :

I. SISTIM PENYULINGAN MASOIA OIL ( Criptocaria masoia )
Lanjut membaca

Peluang Usaha Minyak Atsiri…..Bagian I

Diera sekarang ini era yang penuh dengan ketidak pastian, gelombang PHK dimana-mana. Berimplikasi pada turunya konsumsi, barang menumpuk, harga cenderung turun  karena over supply barang. Pengusaha puyeng tujuh keliling, karyawan dan bekas karyawan pada putus asa seakan sudah tidak ada hari esok. Bahkan lebih jauh lagi…diprediksi tahun 2009 ekspor akan turun 50 %. In dikatornya bulan Nopember ekspor turun 11 %. Apakah dunia ini akan kiamat??? tidak jawabku tegas dalam salah satu trainning yang diadakan oleh salah satu majalah agribisnis terkenal. Masih ada peluang-peluang yang cukup besar untuk bisa dilakukan. Turunnya konsumsi produk-produk tersier tidak bisa dipungkiri akan tetapi menggarap suatu produk yang seratus persen ( 100 % ) produk lokal dengan konsumsi lokal dan ekspor.
Lanjut membaca

Pemerintah Belum Optimal Dalam Pengembangan Bisnis Atsiri

Bisnis minyak atsiri ( essential oils ) sudah berlangsung sangat lama di Indonesia. Bahkan sejak zaman penjajahan sudah ada. Akan tetapi pada umumnya masih dalam skala industri rumah tangga, masih sangat langka pemain-pemain ( baca Perusahaan ) besar menekuni bisnis ini.

Ada puluhan jenis atsiri yang bersifat komersial.  Beberapa jenis yang paling populer di Indonesia adalah Cengkeh hasil minyaknya Eugenol, Jahe dengan ginger oil, Pala menghasilkan myristic oil, Nilam dengan pachouly oil. dan masih banyak lagi.

Proses produksi atsiri ada cara yang diekstrak dengan solven tertentu dan dengan cara di suling. Secara prinsip hampir semua komponen produksinya adalah lokal tetapi marketnya ekspor. Salah satu contoh adalah pachouly oils kebutuhan dunia adalah 1500 Ton pertahun, 90 % adalah dari Indonesia.

Kalau kita berkesempatan jalan-jalan di pulau Kalimantan, betapa besarnya lahan-lahan tidur yang tidak produktif.  Sesungguhnya oportunity loss yang demikian besar.  Salah siapakah gerangan ?? satu sisi begitu banyaknya pengangguran baik tertutup maupun terbuka, kemiskinan yang masih demikian besar ( itupun memakai versi pemerintah, kriteria miskin adalah pendapatan dibawah 1 $. Apalagi menggunakan versi PBB yakni 2 $ perhari ), kredit konsumsi yang relatif besar.

Dari variable-variable diatas, mari kita tarik benang merahnya. Banyaknya lahan tidur yang tidak produktif merupakan sasaran utamanya. Sehingga akan merubah menjadi lahan produktif.  Modal didapat dari pengalihan sebagian kredit konsumsi ke sektor riil. Tentu saja dengan disederhanakan sistem untuk mengakses kredit tersebut. Teknologi tidak sulit karena bisnis ini bukan merupakan hight tec. Tetapi merupakan bisnis yang bersifat padat karya. Dengan iklim type A ( bulan basah lebih banyak dari bulan kering ) maka tidak berkesulitan untuk mengembangkan bahan bakunya.

Jadi jelaslah sesungguhnya tidak ada alasan apapun untuk tidak dapat mengembangkan pembangunan yang berdasarkan potensi daerah dan masyarakat setempat. Hanya dibutuhkan stimulan dari pemerintah dan pengelolaan lahan yang efektif dan tepat guna.

Kita belum berbicara bisnis turunannya. Yang terjadi saat ini adalah kita masih menjual bahan baku lantas dimurnikan diluar akan kembali ke Indonesia berupa produk murni yang harganya bisa puluhan kali lipat.  Contoh eugenol murni ( 90 % up ) merupakan bahan untuk saos rokok kita impor dengan harga perkilogram sampai puluhan juta rupiah.  Padahal pada saat bahan baku harganya hanya ratusan ribu rupiah. Begitu pula terjadi pada Nut Meg ( Pala ) Cristal, Pachouly oils dan sebagainya.

Kesimpulannya adalah banyak sekali yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan potensi diri Bangsa ini yang demikian besar……..Kayu dan batu jadi tanaman……….kata Koes Plus.

Menanam rupiah memanen dollar…………………………..