Teguhseksiono’s Weblog

Entries categorized as ‘Budaya’

Hukum dan Keadilan

November 14, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Wah sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini, maklum kadang-kadang fokus hidup terdapat pergeseran sehingga kadang kita lebih kepada fokus tertentu dan meninggalkan fokus yang lain. Ini pula yang menyebabkan lama absen menulis di blog ini karena sedang fokus dibidang lain…………
(lagi…)

Kategori: Budaya

Refleksi hidup……

Mei 17, 2009 · & Komentar

Waktu ibarat angin yang mengalir dan tidak bisa direm….terus berjalan, berputar, menuju kemana??? apa yang dia tuju??berakhir dimana?? kita tidak tahu hanya kita meyakini akan berakhir setelah memasuki alam absolut ” akherat ” dimana ruang dan waktu sudah nisbi…….menurut Syech Siti Jenar alam yang kita sebut hidup ini sesungguhnya alam kematian sedangkan setelah kita mati sesunggguhnya itu alam kehidupan….
(lagi…)

Kategori: Budaya

Free your mind…….

Mei 15, 2009 · 1 Komentar

Hidup kita pada hakekatnya adalah suatu prosess. Setiap proses tentu mengharuskan memerlukan waktu. Selama berproses tersebut senantiasa selalu mengalami pengalaman demi pengalaman. Ada pengalaman pahit ada pengalaman manis, ada pengalaman lucu, ada pengalaman malu, ada pengalaman sedih, ada pengalaman bahagaia, ada pengalaman sukses alias berhasil, ada pengalaman gagal bahkan sampai total. Setiap insan pasti mengalaminya termasuk nota bene orang-orang yang dikategorikan sukses atau berhasil juga mengalami hal yang sama.
(lagi…)

Kategori: Budaya

Pemilu, Sisitim Kekuasaan dan Elit Politik.

April 16, 2009 · & Komentar

Pemilu ( Pemilihan Umum ) telah memanggil kita seluruh rakyat menyambut gembira, hak demokrasi pancasila…..dan setrusnya adalah mars pemilu pada zaman orde baru. Pemilu dari masa ke masa dengan warna dan hakekat hasil yang berbeda-beda. Pada zaman orde baru pemilu secara hakekat adalah pemilu formalitas. Bagaimana tidak, mulai dari proses pemilihan umum itu sendiri, kompisisi anggota MPR antara yang diangkat dan dipilih, sistim partai politik khususnya Golkar secara ineternal yang menempatkan Dewan Penasehat sebagai kekuasaan tertinggi bisa membatalkan Munas dan membubarkan kepengurusan dan sebagainya adalah sistim-sistim yang diciptakan agar kekuasaan akan langggeng. Tiga jalur yang memungkinkan untuk pengambil alihan kekuasaan pada zaman orde baru ditutup rapat-rapat. Jalur Politik, Jalur TNI dan jalur Birokrasi. Jalur politik diciptakanya sistim kekuasaan yang berujung pada satu titik kekuatan yakni Dewan pembina, jalur TNI sangat jelas karena Presiden adalah panglima tertinggi ( PANGTI ) sedangkan jalur birokrasi diciptakan sistim monoloyalitas………..jadi kalau tiadak hanya karena Tuhan saja kekuasaan tidak akan berubah..???? Penikmat kekuasaan yang seperti ini adalah para elit politik. dengan aksesibilitas yang besar pada aset-aset ekonomi memungkinkan para elit politik menumpuk harta dan itu syah-syah saja sepanjang tidak merusak sistim kekuasaan yang dibangun.
(lagi…)

Kategori: Budaya

Kereta Api, Kecerdasan Emosi Masyarakat….

April 6, 2009 · 1 Komentar

Kala pagi tiba dan kewajibanku pagi itu harus ke kantor jakarta yang letaknya deket dengan musium nasional ( Monas ) maka pilihan terbaikku adalah menggunakan jasa kereta api, selain lebih efisien secara ekonomi juga lebih nyaman, bisa istirahat. Kereta yang di gunakan oleh PT. KAI adalah ketera pakuan yang konon hibah dari pemerintah Jeepang. Memang sih masih sangat kelihatan huruf-huruf kanji yang tertempel didinding-dinding kereta. Masih cukup bagus mungkin untuk ukuran Indonesia masih sangat bagus, bersih, nyaman karena semua ber AC. Keamanannya pun relatif terjamin karena pintu semua tertutup pada saat kereta jalan dan membuka secara automatic pada saat penumpang akan turun pada tempat-tempat yang telah ditentukan.
(lagi…)

Kategori: Budaya

Revolusi Budaya

Februari 25, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Aku termasuk dalam kelompok klub ” Gaptek” alias gagap teknologi. Betapa fenomena yang luar biasa terjadi perubahan yang demikian dahsyat dalam teknologi informasi dalam dekade terakhir.
Pada saat-saat zaman sekolah dulu, telephon rumah masih sangat jarang, sehingga komunikasi tercepat kalau “meminta” arus kas dari ortu ya lewat “telegram” menggunakan jasa Telkom. Memang dengan keterbatasan teknologi memaksa kita menggunakan kata atau kalimat yang efisien, tetapi penerimanya akan mampu memahami keseluruhan berita yang kita sampaikan. Dalam telegram cukup kita tulis ” Putro waras artho telas ” ortu kita sudah memahami kondisi kita dan apa yang kita butuhkan.
(lagi…)

Kategori: Budaya

Membangun Pendidikan dan Industri…………

Februari 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pendidikan pada hakekatnya adalah meningkatkan sumber daya manusia melalui jalur formal.  Dengan ditetapkannya Anggaran Pendapatan Belanja Negara ( APBN ) sebesar 20 % merupakan suatu modal dasar untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan.
(lagi…)

Kategori: Budaya

REFLEKSI Tahun 2008 Untuk mengarungi Tahun 2009

Desember 31, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

picture-0000 Detik demi detik berganti jam demi jam terus menerus sehingga berganti bulan dan tak terasa sudah 365 hari, 12 bulan kita lalui selama tahun 2008. Hari ini 31 Desember 2008. Segala rasa, segala suasana, segala warna kita lalui. Ada saat sangat berbahagia berbinar-binar ada saat duka nestapa. Suasana riuh rendah ramai, pernah pula kita alami saat yang sangat sepi menyayat. Ada saat warna kelam, kadang juga kita alami keabu-abuan, lain waktu kita ngalamin yang terang benderang.
(lagi…)

Kategori: Budaya

Ekonomi Kerakyatan dan Potensi Daerah Setempat…

September 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hempasan demi hempasan ekonomi makro terus mendera bangsa bahkan dunia ini. Mulai dari tahun 1997, dengan krisis moneter, belum lagi sembuh terus beruntun didera oleh bencana alam yang menyedot energi dan materi yang tidak sedikit. Hampir dikatakan tanpa putus bencana yang melanda tanah air. Kayak alunan musik yang terus bergantian. Belum lagi dampaknya terobati telah mendera lagi harga minyak yang membubung tinggi, bahkan pernah menyentah 145 US $ per barel. Meskipun sekarang ini harga minyak masih dalam kisaran 105 US $ perbarel. Bisa dibayangkan turbulensi ekonomi yang demikian berat. Ada indikasi prediksi dari buku ” global paradoksnya John Neisbit  ” mendekati kenyataan. Dimana lembaga-lembaga ekonomi besar di Amerika mulai runtuh mulai dari “subpreme mortgage, disusul Lehman Brothers bangkrut dengan utang 613 miliar US $, Merrryl Lynch diauisisi Bank of America senilai 50 miliar US $ dan  diindikasikan lagi akan berdampak domino kepada lembaga-lembaga keuangan berikutnya……….yang jelas bursa terguncang dengan anjloknya indeks.

(lagi…)

Kategori: Budaya

RIZQI Itu Apa ??

September 22, 2008 · 1 Komentar

Kebetulan tidak membawa kamus bahasa Indonesia karangan Purwo Darminto, sehingga tidak dapat memberi batasan versi kamus. Bahasan disini mengambil sudut pandang dari sisi ” orang kebanyakan “. Secara umum orang memandang rizqi hanya dari sudut yang sangat sempit, seperti hitungan duit yang masuk kekantong. ” Rasanya kita sudah berdoa habis-habisan dan berusaha-kaki untuk kepala dan kepala untuk kaki. Tetapi kok begini-begini saja ya…” sering terlintas ada dibenak kang Dadang. Seorang pedagang di Pasar Anyar Bogor. Lain lagi cerita kang Iwan ” aku sudah mengikuti petunjuk ustadz untuk sholat dhukha setiap hari…tanpa boleh terlewatkan dan bukankah sholat Dhukha sebagai pembuka pintu rizqi??”tapi kok ya tidak berubah-berubah masih kayak keneh…..katanya. Lain lagi cerita Mas Joko ” Aku disuruh tirakat puasa saat hari lahir dan diteruskan puasa senin kamis……..sudah kujalani dengan penuh “keikhlasan” tapi kok ya nggak ada perubahan. Ada lagi celotehan dari Teh Aan ” Abdi disuruh Mamak ( Kyai ) untuk sholat malam setiap hari kecuali pas haangan……Alkhamdulillah tak jalanin dengan penuh ketekunan tapi ya…lagi-lagi kok masih susah susah juga ya……………

(lagi…)

Kategori: Budaya

IstanA BoGor dan Keanehannya……..

September 11, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Langsung ke: navigasi, cari

Istana Presiden di Bogor

Istana Presiden di Bogor

Istana Bogor merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan ini dikarenakan aspek historis, kebudayaan dan fauna yang menonjol. Salah satunya adalah adanya rusa – rusanya yang indah yang didatangkan langsung dari Nepal dan tetap terjaga dari dulu sampai sekarang.

Saat ini sudah menjadi trend warga Bogor dan sekitarnya setiap hari Sabtu, Minggu dan hari libur lainnya berjalan- jalan diseputaran Istana Bogor sambil memberi makan rusa- rusa indah yang hidup di halaman Istana Bogor dengan wortel yang diperoleh dari petani- petani tradisional warga Bogor yang selalu siap sedia menjajakan wortel- wortel tersebut setiap hari libur. Seperti namanya, istana ini terletak di Bogor, Jawa Barat.

Walaupun berbagai kegiatan kenegaraan sudah tidak dilakukan lagi, khalayak umum diperbolehkan mengunjungi secara rombongan, dengan sebelumnya meminta izin ke Sekretaris Negara, c.q. Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.

Rusa-rusa yang bebas berkeliaran di depan Istana Bogor

Rusa-rusa yang bebas berkeliaran di depan Istana Bogor

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Sejarah

Istana Bogor dahulu bernama Buitenzorg atau Sans Souci yang berarti “tanpa kekhawatiran”.

Sejak tahun 1870 hingga 1942, Istana Bogor merupakan tempat kediaman resmi dari 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu orang Gubernur Jenderal Inggris.
(lagi…)

Kategori: Budaya

Ramadhon dimata orang awam…..

September 11, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Siklus selalu berulang, begitu pula yang namanya bulan puasa atau romadhon akan berulang setiap tahun. Begitu pula tahun 1429 hijriah ini. Pada bulan ini setiap muslim diwajibkan berpuasa satu bulan penuh. Puasa secara syariat adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan seksual mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Kenapa ya kok mesti ada puasa segala?? membikin badan lemes, tidak bisa konsentrasi maksimal, serta banyak lagi pengaruh fisik dibanding sehari-hari kala tak berpuasa.

(lagi…)

Kategori: Budaya

Tantangan itu Indah

Agustus 22, 2008 · & Komentar

Dalam menjalani proses hidup dan kehidupan ini sering, bahkan senantiasa kita dihadapkan pada masalah. Apa saja, mulai dari masalah rumah, masalah sekolah, masalah pekerjaan apa lagi. Pada umumnya adalah berawal dari hubungan  ( relationship ) antar sesama. Tetapi apapun bentuknya yang paling sering kita lakukan adalah salah dalam mensikapi masalah itu sendiri. Kita sudah kadung tidak suka menghadapi masalah, jadi begitu ia dateng kita sudah cemberut, hati kecut, kesal, dan kecenderungan untuk menolak. Kalau boleh mbok jangan dikasih masalah gitu pikirnya…………

(lagi…)

Kategori: Budaya

Refleksi 63 Tahun Indonesia Merdeka ( Bag 2 )

Agustus 13, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Salah satu amanat yang dibebankan bangsa dan negara ini dituangkan dalam pembukaan UUD 45 adalah memajukan kesejahteraan umum. Amanat ini harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya agar tujuan didirikannya bangsa dan negara ini bisa dicapai. Berawal dari zaman penjajahan dimana aspek-aspek fital perekonomian dikuasai oleh bangsa penjajah dan dinikmati sepenuh-penuhnya untuk bangsa tersebut. Hal ini menyebabkan perekonomian rakyat demikian sengsara menjadi kelas tiga ditanah airnya sendiri. Dengan segenap kesungguhan para founding fathers negeri ini memproklamirkan kemerdekaan tepat pada 17 Agustus 1945 atau 63 tahun yang lalu. Semburat sinar harapan akan hadlirnya kesejahteraan bagi warga bangsa inipun lahir bak mentari pagi yang sedang terbit sementara petani mengharapkan dan yakin akan datangnya siang.

(lagi…)

Kategori: Budaya

Refleksi 63 Indonesia Merdeka ( Bag I )

Agustus 12, 2008 · 1 Komentar

BAGIAN I

Bendera sang saka merah putih berkibar di bumi pertiwi, seakan bernyanyi riang menyongsong masa depan yang gilang gemilang. Tanah airku Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Zamrud katulistiwa, hijau, gemah ripah loh jinawi, sarwo tentrem kerto raharjo, thukul kang tanpo kinandur, bak penggalan surga. Hari itu 63 Tahun yang lalu berteapatan dengan tujuh belas agustus tahun empat lima. Dengan segala hiruk pikuk romantikanya diproklamirkanlah negara baru didunia ini yakni Indonesia. Tujuan bangsa ini sangat jelas bahwa….melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

(lagi…)

Kategori: Budaya

Surat Terbuka untuk Menteri Pendidikan………..

Juli 3, 2008 · & Komentar

Bp. Menndiknas yang terhormat,

Kami adalah salah satu orang tua murid yang tahun ini 2008 lulus dari Sekolah Dasar ( SD ), tentu saja sesuai dengan program pemerintah tentang wajib belajar 9 tahun, kami bermaksud melanjtkan pendidikan anak kami ke SMP. Dengan berbekal hasil UASBN ( Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional ) mendapatkan 26,1. Terdiri dari 3 mata pelajaran Matematika, Ipa, dan Bahasa Indonesia. Atau rata-rata 8,7. Dalam satu kelas nilai tersebut menduduki rangking ke 2. (lagi…)

Kategori: Budaya

ASAL KATA ” PEMERINTAH “dan Mental Birokrasi.

Juni 18, 2008 · 1 Komentar

Seringkali kalau kita ngumpul di waroeng kopi timbulah thema-thema diskusi yang tanpa rencana lebih dahulu. Biasanya bertema ekonomi, politik sampai pada head line news saat ini. Kali ini pesertanya kebetulan ada temen yang lahir dan besar  di Kepulauan Riau. Sekarang bertempat tinggal di Jakarta dan Menado. Punya bisnis di Papua Newgini. Sering berpelancong diluar negeri khususnya China dan Amerika. Satunya lagi temen pengusaha atsiri yang sudah bangkotan, jelajah Nusantara sudah pasti apalagi jelajah luar negeri khususnya India dan China. Tentu wawasan mereka cukup untuk didengar. benar banyak hal-hal yang sebelumnya aku anggap sepele ternyata cukup menggelitik.

(lagi…)

Kategori: Budaya

BBM, BLT DAN INDONESIA

Mei 30, 2008 · & Komentar

BBM ( Bahan Bakar Minyak ) adalah energi yang berasal  dari fosil yang bersifat irreversible resourchis. Jadi betul-betul hanya bergantung pada keberadaan sumber daya tersebut. Dalam arti cadangan yang disiapkan Tuhan di alam ini. Sementara secara umum umat manusia sangat bergantung kepada sumber daya ini. Bahkan bisa dikatakan tidak bisa hidup tanpa energi yang dihasilkan dari sumber daya alam ini. Karena hampir seluruh aspek kehidupannya menggunakan energi ini.

Tentu saja dalam kondisi demikian keberadaan energi ini sangat sensitif terhadap komunitas manusia baik ditinjau dari aspek pilitik dan ekonomi. Sementara sampai dengan saat ini energi yang dapat diperbaharui belum juga secara signifikan menggantikan energi yang berasal dari fosil. Padahal energi yang berasal dari fosil berefek negatif terhadap bumi secara global karena sifatnya yang melepaskan carbon ( gas emisi carbon ) yang sebelumnya terikat diperut bumi, Akibatnya terjadinya peningkatan suhu ( alias global warming/ efek dari rumah kaca ).

(lagi…)

Kategori: Budaya

DIAGRAM “CARTESIUS ” DAN POSISI KITA

Mei 27, 2008 · & Komentar

Diagram cartesius terbagi ke dalam empat kuadran. Masing-massing dibelah oleh dua sumbu. Sumbu x adalah penghasilan, sedangkan sumbu Y adalah perilaku. Perpotongan dua sumbu X dan Y ada di titik nol.

Dengan demikian terdapat empat kondisi :

(lagi…)

Kategori: Budaya

Iklan…Otak Kanan….Aneh….Cespleng

Mei 26, 2008 · & Komentar

Aku sendiri pernah aktif di dunia marketing….tetapi tidak seaneh strategi-strategi jitu yang dikembangin oleh EU ( Enterprneur University ), kadang sampai tidak masuk akal…….atau bahkan tidak pake akal…..hehehehe…………………….Tapi hasilnya wow Luar Biasa…………hihihi……

Otak kanan yang sifatnya melompat-lompat tidak sistematis, sulit dipahami oleh otak kiri yang sistematis, teratur dan numerik………kadang-kadang membingungkan….ya kalau pusing pegangan tiang sambil mejem ya hehehe…………………

Tahukah anda bakmi ” Mbah MO ” yang sangat terkenal itu. Terletak dipinggiran Yogyakarta. Kurang lebih 15 Kg dari kota Yogyakarta. Tempat yang sangat sederhana, lincak panjang, meja….khas warung jawa…..sangat sederhana……tetapi yang datang wow penuh…..dan rata-rata bermobil ria alias golongan menengah keatas…..bahkan konon SBY dan para penggedhe suka makan di baki ” Mbah Mo “.

(lagi…)

Kategori: Budaya

Sembilan Cara Gila Jadi Pengusaha……..

Mei 26, 2008 · & Komentar

  1. Ciptakan masa depan dengan masa depan………………………
  2. Pake otak kanan jangan otak kiri……………………..

 

Sifat Otak Kiri

(lagi…)

Kategori: Budaya

Senja Ini Masih Terang…………

Mei 26, 2008 · 1 Komentar

 

Senja ini masih terang…………………………………………

Meskipun semburat merah menyala

Seakan menantang kan datangnya malam.

Langkahku gontai menelusuri jalan itu

Yang senantiasa ada mengikutiku

 

(lagi…)

Kategori: Budaya

PERENUNGAN MAS BEJO

Mei 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bejo adalah nama khas jawa, salah satu etnis terbesar di negara adiluhung ini. Nama yang identik dengan nama pasaran. Dia dilahirkan ditengah dusun kepulauan madura, cuman dari kecil dia sudah hidup di sekitar kota solo. Wajahnya biasa-biasa saja, malah bisa disebut culun. Dalam usia 35 tahun, Bejo atau sering disebut mas Bejo ( oleh temen2 sekampungnya ) sedikit nervous alias gamang alias gugup dalam menghadapi kehidupan ini.

 

Sebetulnya aku hidup ini untuk apa??kenapa aku hidup??apakah aku sudah direncanakan untuk hidup??perencanaan seperti apa??kenapa aku hidup disini??kok tidak disana?? Kenapa saat ini ada orang menangis tetapi dalam waktu yang sama ada orang yang sedang tertawa terbahak-bahak??kenapa ada orang yang miskin, papa, susah sebaliknya ada yang kaya raya??kenapa ada orang yang lahir pinter, cerdas, sebaliknya ada orang yang bodoh, klowor, ora dongan, telmi???? Wah banyak banget kontradiktif-kontradiktif yang bikin puyeng. Tetapi aku ingin punya jawaban yang jelas, gamblang dan bisa diterima akal. Jarene mas Mahasiswa harus dapat jawaban yang Ilmiah dan Reseonable.

 

(lagi…)

Kategori: Budaya

Dialog Imajiner antara Mbah Sastro & Kiai Juned

Februari 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Malam itu nampak hening aku sedang termangu diteras beranda depan rumah, semilir angin sepoi udara pegunungan gunung Salak seakan menyapaku dan mengucapkan salam, tiba-tiba dikanan kiriku sret…………dua orang makhluk hidup berupa manusia aneh, misterius kadang-kadang ngedap-ngedapi yakni mbah Sastro dan Kiai Juned.

Setelah shlolat begini mbah Sastro merasakan  apa ya mbah ?tiba-tiba kiai Juned membuka percakapan. We lha yo merasakan , bebas lepas tidak ada beban dan berharap ibadahku diterima dan diberikan pahala yakni berupa surga dan diajuhkan dari api neraka. ” Oh jadi sholat mbah Sastro terasa sebuah kewajiban gitu, kalau udah sholat rasanya enteng alias ringan tidak ada beban, terus ada harapan masuk surga gitu ” kiai Juned menoba menekankan kembali jawaban mbah Sastro. Jadi ibadah mbah Sastro seperti ibadahnya para buruh, yakni bebas kalau sudah melakukan kewajiban dan sekaligus seperti pedagang alias berjual beli dengan Allah, minta pahala dan surga dari ibadah kita. Lantas seperti apa? la wong jelas di Alquran begitu kok. Ayak-ayak wae…kata mbah Sastro. Tambah bingung aku. Yakin yang mana?entahlah…..tiba-tiba aku kaget mendengar suara  kiai Juned sedikit meninggi. ” itulah kalau mempelajari sesuatu apalagi alquran sebatas kulit tidak sampai dalam hakekat ( meminjam istilah filsafat sampai radixnya ). Untuk apa sih sholat ? emang kalau kita tidak sholat Allah rugi, sedih, maka kalau kita sholat akan dikasih hadiah berupa pahala dan sorga, dan sebaliknya kalau kita tidak sholat akan dihukum. Emang Allah maha penghukum dan pendendam……….Wah tambah bingung aku………..” itu semua merupakan gambaran salah. Menggambarakan Allah dengan serupa makhluk…..tidak-tidak……tidak begitu,  kiai Juned terus kayak peluru M16 ditembakkan tidak ada jeda sedikitpun. Terus apa dong kegunaan sholat. Betul sholat sarana untuk mengingat Allah tetapi sesungguhnya mengingat Allah itu tidak hanya pas sholat tapi any time sepanjang jantung kita berdetak kita senantiasa harus mengingat Allah. ” dan ingatlah Tuhanmu baik dikala pagi dan petang “. Kalau sudah setiap saat kita diharuskan mengingat, terus sholat bagian dari setiap saat itu. Jadi fungsi mengingat hakekatnya udah hilang. Banyak sekali makna dan kegunaan sholat tapi kalau diperas adalah sebagai perwujudan rasa syukur makhluk kepada khaliknya. Makna syukur harus diartikan secara luas. Manusia yang terdiri antara ruh dan empat unsur angin, api, air, dan bumi yang sejatinya adalah adam. Hilang salah satu unsur maka meninggallah manusia itu. Berpisahnya ruh dan raganya (kurungannya). Keberadaan empat unsur tersbut wajib disyukuri keberadaanya.
(lagi…)

Kategori: Budaya

KARYAWAN, GAJI DAN INTERPRENEUR.

Februari 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seiring dengan waktu, jumlah penduduk semakin meningkat, pendidikan para warganya pun begitu. Seiring itu pula permasalahan kehidupan semakin komplek, kompetisi semakin ketat. 

Dengan pertumbuhan 6.8 % target pemerintah tahun 2008, yang tidak diamini oleh lembaga-lembaga ekonomi dunia yang mematok 6.1 %. Bahkan mungkin bisa lebih rendah dari itu. Sementara pertumbuhan yang 6.8 % didorong sebagian besar pada aspek keuangan dan ITI ( dua aspek ini tidak bersifat padat modal bukan padat karya ) sehingga dari target setiap persen pertumbuhan akan menyerap tenaga kerja 400.000 orang, akan jauh dari perkiraan tersebut. Mungkin hanya separuhnya saja.

Bisa dibayangkan antara suplay demand employ akan tidak seimbang. Suplay demikian banyak sementara demand naik sangat sedikit. Akibatnya perusahaan mempunyai posisi bargaining yang kuat. Bagaimana mensiasati kondisi tersebut ?

Jawaban tidak ada kata lain, harus profesional dibidangnya. Seperti apakah profesional itu? profesional dari kata profesi = mata pencaharian yang ahli dibidangnya.  Menurut hemat kami kriteria menjadi ahli tidak saja mampu mengoperasikan/melaksanakan sesuatu saja tapi harus sudah mampu melakukan innovasi yang bersifat logic, rasional dan harus lebih efisien. Tetapi apa realitasnya ??????

Realitas yang kita temui dilapangan adalah begitu banyaknya “para profesional” yang tidak saja rendahnya standarisasi profesi tetapi semangat untuk belajar dan mengembangkan diri yang rendah. Sekedar menjalankan “tugas-tugas” harian. Lainnya EGP ajalah ” Emang Gue Pikirin “.  Kalau ini melanda para pekerja laki-laki ( bukan membedakan gender ) tetapi memang fakta di masyarakat laki-laki merupakan kepala rumah tangga dan tiang keluarga.  Bisa dibayangkan dinamika perusahaan yang diisi oleh orang-orang yang berkarakter demikian.  Lebih jauh lagi harapan naik gaji yang besar selalu membayang……wah. Gawatnya lagi karena waktu yang terus berjalan kemampuan yang stagnan, maka job telah maksimal sesuai dengan kemampuannya. Tidak dapat ditingkatkan lagi. Than so what gitu loh……………..pasti Perusahaan akan mencapai suatu titik over pricing dalam membayar tenaga kerja tersebut.

Jiwa interpreuner harus ditumbuhkan dari mulai kecil. Bukankah Islam juga mengajarkan interpreuner seperti yang dilakukan Rosulullah. Beliau menjadi seorang interpreuner yang berhasil. Jiwa interpreuner ini dimaksudkan tidak harus terjun ke wira usaha ( kalau berani itu lebih bagus ) setidaknya dihayati semangat dan keuletannya.  Seorang wiraswasta dipaksa untuk fight secara total untuk bisa survival, dipaksa kreative, innovative berdaya guna dan berhasil guna.

Kalau karyawan punya jiwa interpreuner yang kuat percayalah gaji tidak usah diharap-harap karena secara otomatis. Sebab siapapun yang mengkaryakannya akan puas dengan dedikasi, kemampuan dan tanggung jawabnya.

Kategori: Budaya

Mbah Sastro Menggugat !!!!!!!!!

Februari 23, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sedang enak-enaknya nongkrong di warung kopi, tiba-tiba sekelbat bayangan putih datang dan mengucap salam, ternyata yang datang mbah Sastro. Apa kabar mbah? sapaku. Sedih, kecewa, jengkel alias mangkel. Lo ada apa tho? aku pengin tahu.

Setiap jumat masjid penuh, tiap tahun kita memberangkatkan haji sampai kuota  yang 200.000 ( dua ratus ribu ) dari Arab Saudi tidak cukup. Tapi kok moral masyarakat ini kok tidak beranjak lebih baik. Coba untuk training ini menghabiskan berapa banyak duit. Kalau dihitung tiap jamaah haji plus segala macemnya mengahabiskan  tiga puluh juta rupiah ( Rp. 30.000.000) kali 200.000 orang maka akan habis 6 trilyun. Wah ngitung uangnya mungkin semalam nggak selesai. Itu pertahun lo. Kalau 20 tahun terus berapa?

Harusnya terjadi revolusi moral secara besar-besaran. Tidak hanya evolusi tapi ” REVOLUSI  MORAL “. Ini terjadi karena pemisahan antara dunia dan akherat. Sholat mah sholat tetapi maksiat jalan terus. Haji mah haji tetapi korupsi tidak pernah henti. Padahal Sholat, Zakat, Haji dan ibadah ritual lainnya adalah sarana training yang out putnya adalah moral alias akhlaqul karimah. Bukankah agama ini diturunkan untuk memperbaiki akhlak?

Coba kalau bener-bener mendirikan sholat pasti out putnya adalah  tercegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, disiplin, ulet, kerja keras, punya visi dan misi ke depan. Maksydnya ? aku minta dijelaskan lebih detail. Coba sholat 5 waktu yang sudah ditentukan waktu-waktunya, harus bersih, harus urut dan tertib sesuai rukun dan wajib sholat. Pasti orang yang mendirikan sholat pasti orang yang disiplin ( waktu ), 5 kali sehari ( kerja keras ), terus menerus ( ulet ). 

Kita harusnya tidak kalah dengan disiplin ”boshido”nya orang jepang. Belum lagi haji….padahal salah satu yang ditekankan sebelum berhaji lihat tetanggamu yang berjarak 40 rumah. Apakah sudah kenyang ” tidak kurang beras “, anaknya sudah bayar SPP atau belum ( Maksudnya apa kuat bayar SPP ), dan sebagainya. Pokoknya menekankan sisi sosial.  Bahkan sering kita dengar ” ini haji kami yang ke sepuluh “ padahal dikanan dan kiri rumahnya ada tangisan anak yang kelaparan karena orang tuanya belum beli beras…….  

Kategori: Budaya

Budaya Menghargai Proses dan Materialisme

Februari 23, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagai anak bangsa kita merasa galau sedih dan malu mana kala melihat laporan hasil pemeringkatan ” yang jelek-jelek ” kita selalu mendapat rangking yang diatas. Misal negara terkorup di asia, negara dengan kualitas pendidikan terburuk, disiplin terjelek, lau lintas yang paling semrawut, dan sebagainya dan sebagainya.  What wrong ? bukankah kita bangsa yang punya budaya adi luhung, sopan santun, ramah tamah. Tidak ada kaitannya kata mbah sastro dalam suatu diskusi warung kopi.  Lo terus…..aku belum berucap mbah sastro sudah menimpali budaya merupakan kebiasan terus menerus yang dilakukan oleh suatu komunitas. Sedangkan komunitas merupakan kumpulan dari individu-individu yang punya persamaan.  Tambah bingung aku, cuma aku mencoba diam berusaha memahami apa maksud mbah Sastro. 

Sambil makan pisang goreng yang masih panas mbah Sastro menjelaskan ” akar permasalahan budaya yang jelek-jelek itu salah satu yang cukup dominan adalah karena kita-kita ini lebih menghargai hasil dari pada proses. Itu merupakan pemicu lahirnya materialisme ( mendewakan materi ). Mosok sih mbah ? mulutku begitu saja terbuka antara pertanyaan dan sanggahan.  Dengan kaki yang digerak gerakkan secara ritmis kayak kiai Sudrun ( meminjam istilah EMHA ) mbah Sastro dengan semangat menjelaskan.  Kalau dua orang datang ke sampean satunya memakai jas lengkap, memakai mobil mewah ” merk eropa ”, sedangkan satunya lagi memakai kaos lusuh mobilnyapun hijet 1000 alias truntung, pasti sampean pertama kali akan melayani yang pake jas tho ? sampil nanya mbok Minah, tukang warung kopi. La iyo tho mbah, jawab mbok Minah. Lah iki padahal yang pakai jas  dan mobil mewah tadi dari hasil korupsi beras raskin ( beras untuk orang miskin) sedangkan yang satunya lagi adalah bos pemulung. Dia bekerja keras dengan timnya tidak saja mengembangkan ekonomi kerakyatan tetapi juga pengabdi lingkungan hidup cuma tidak pernah gembar gembor tentang daur ulang, sampah yang dibuang sembarangan. Camer ( calon mertua ) cais ( calon istri ) lebih bangga pada orang yang berjas tadi, pasti itu. Padahal kalau diterawang pake mata batin orang yang berjas tadi itu busuk. Apalagi bersentuhan mendekatpun aku tak kuat saking bau busuknya.  Lo mbah, bukankah orang yang berjas tadi itu parfumnya wangi pasti import tuh…………..goblok kamu kata mbah Sastro, dasar budaya instan, selalu hanya lihat kurungan tidak bisa melihat yang sejati…..ya begini ini bangsa ini sampai kapanpun ……katanya sambil menghilang dikegelapan malam……………

Kategori: Budaya