Budaya Menghargai Proses dan Materialisme

Sebagai anak bangsa kita merasa galau sedih dan malu mana kala melihat laporan hasil pemeringkatan ” yang jelek-jelek ” kita selalu mendapat rangking yang diatas. Misal negara terkorup di asia, negara dengan kualitas pendidikan terburuk, disiplin terjelek, lau lintas yang paling semrawut, dan sebagainya dan sebagainya.  What wrong ? bukankah kita bangsa yang punya budaya adi luhung, sopan santun, ramah tamah. Tidak ada kaitannya kata mbah sastro dalam suatu diskusi warung kopi.  Lo terus…..aku belum berucap mbah sastro sudah menimpali budaya merupakan kebiasan terus menerus yang dilakukan oleh suatu komunitas. Sedangkan komunitas merupakan kumpulan dari individu-individu yang punya persamaan.  Tambah bingung aku, cuma aku mencoba diam berusaha memahami apa maksud mbah Sastro. 

Sambil makan pisang goreng yang masih panas mbah Sastro menjelaskan ” akar permasalahan budaya yang jelek-jelek itu salah satu yang cukup dominan adalah karena kita-kita ini lebih menghargai hasil dari pada proses. Itu merupakan pemicu lahirnya materialisme ( mendewakan materi ). Mosok sih mbah ? mulutku begitu saja terbuka antara pertanyaan dan sanggahan.  Dengan kaki yang digerak gerakkan secara ritmis kayak kiai Sudrun ( meminjam istilah EMHA ) mbah Sastro dengan semangat menjelaskan.  Kalau dua orang datang ke sampean satunya memakai jas lengkap, memakai mobil mewah ” merk eropa “, sedangkan satunya lagi memakai kaos lusuh mobilnyapun hijet 1000 alias truntung, pasti sampean pertama kali akan melayani yang pake jas tho ? sampil nanya mbok Minah, tukang warung kopi. La iyo tho mbah, jawab mbok Minah. Lah iki padahal yang pakai jas  dan mobil mewah tadi dari hasil korupsi beras raskin ( beras untuk orang miskin) sedangkan yang satunya lagi adalah bos pemulung. Dia bekerja keras dengan timnya tidak saja mengembangkan ekonomi kerakyatan tetapi juga pengabdi lingkungan hidup cuma tidak pernah gembar gembor tentang daur ulang, sampah yang dibuang sembarangan. Camer ( calon mertua ) cais ( calon istri ) lebih bangga pada orang yang berjas tadi, pasti itu. Padahal kalau diterawang pake mata batin orang yang berjas tadi itu busuk. Apalagi bersentuhan mendekatpun aku tak kuat saking bau busuknya.  Lo mbah, bukankah orang yang berjas tadi itu parfumnya wangi pasti import tuh…………..goblok kamu kata mbah Sastro, dasar budaya instan, selalu hanya lihat kurungan tidak bisa melihat yang sejati…..ya begini ini bangsa ini sampai kapanpun ……katanya sambil menghilang dikegelapan malam……………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s