Pemerintah Belum Optimal Dalam Pengembangan Bisnis Atsiri

Bisnis minyak atsiri ( essential oils ) sudah berlangsung sangat lama di Indonesia. Bahkan sejak zaman penjajahan sudah ada. Akan tetapi pada umumnya masih dalam skala industri rumah tangga, masih sangat langka pemain-pemain ( baca Perusahaan ) besar menekuni bisnis ini.

Ada puluhan jenis atsiri yang bersifat komersial.  Beberapa jenis yang paling populer di Indonesia adalah Cengkeh hasil minyaknya Eugenol, Jahe dengan ginger oil, Pala menghasilkan myristic oil, Nilam dengan pachouly oil. dan masih banyak lagi.

Proses produksi atsiri ada cara yang diekstrak dengan solven tertentu dan dengan cara di suling. Secara prinsip hampir semua komponen produksinya adalah lokal tetapi marketnya ekspor. Salah satu contoh adalah pachouly oils kebutuhan dunia adalah 1500 Ton pertahun, 90 % adalah dari Indonesia.

Kalau kita berkesempatan jalan-jalan di pulau Kalimantan, betapa besarnya lahan-lahan tidur yang tidak produktif.  Sesungguhnya oportunity loss yang demikian besar.  Salah siapakah gerangan ?? satu sisi begitu banyaknya pengangguran baik tertutup maupun terbuka, kemiskinan yang masih demikian besar ( itupun memakai versi pemerintah, kriteria miskin adalah pendapatan dibawah 1 $. Apalagi menggunakan versi PBB yakni 2 $ perhari ), kredit konsumsi yang relatif besar.

Dari variable-variable diatas, mari kita tarik benang merahnya. Banyaknya lahan tidur yang tidak produktif merupakan sasaran utamanya. Sehingga akan merubah menjadi lahan produktif.  Modal didapat dari pengalihan sebagian kredit konsumsi ke sektor riil. Tentu saja dengan disederhanakan sistem untuk mengakses kredit tersebut. Teknologi tidak sulit karena bisnis ini bukan merupakan hight tec. Tetapi merupakan bisnis yang bersifat padat karya. Dengan iklim type A ( bulan basah lebih banyak dari bulan kering ) maka tidak berkesulitan untuk mengembangkan bahan bakunya.

Jadi jelaslah sesungguhnya tidak ada alasan apapun untuk tidak dapat mengembangkan pembangunan yang berdasarkan potensi daerah dan masyarakat setempat. Hanya dibutuhkan stimulan dari pemerintah dan pengelolaan lahan yang efektif dan tepat guna.

Kita belum berbicara bisnis turunannya. Yang terjadi saat ini adalah kita masih menjual bahan baku lantas dimurnikan diluar akan kembali ke Indonesia berupa produk murni yang harganya bisa puluhan kali lipat.  Contoh eugenol murni ( 90 % up ) merupakan bahan untuk saos rokok kita impor dengan harga perkilogram sampai puluhan juta rupiah.  Padahal pada saat bahan baku harganya hanya ratusan ribu rupiah. Begitu pula terjadi pada Nut Meg ( Pala ) Cristal, Pachouly oils dan sebagainya.

Kesimpulannya adalah banyak sekali yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan potensi diri Bangsa ini yang demikian besar……..Kayu dan batu jadi tanaman……….kata Koes Plus.

Menanam rupiah memanen dollar…………………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s