Cash Flow Quadrant dan Interpreneur

Pada saat kecil kita sering ditimang-timang oleh orang tua kita, le (panggilan anak lelaki jawa ) kalau nanti kamu besar mau jadi apa? umumnya akan menunjuk menjadi doker, guru, tukang insinyur dan sebagainya….coba kita pikirkan kok tidak ada ya yang pengin jadi pengusaha gitu.

Dalam bukunya motivator dunia Robert Kyosaki ” Cash Flow Quadrant ” membagi profesi yang berkaitan dengan pendapatan menjadi empat quadrant ( Bagian ) yang masing-masing mempunyai kekhasan. Umumnya, caranya, hasilnya, konsekuensinya……dan sebagainya.

Quadrant I ( Employee ) : Karyawan, orang yang bekerja untuk orang lain. Mayoritas masyarakat berada pada quadrant ini karena umumnya karena tujuan-tujuan pragmatis. Mudah mendapatkan, ” aman “, “ada kepastian “, dan sebagainya. Coba kita telaah secara kritis : 1. Secara pendapatan pada umumnya akan mengikuti garis lurus miring sebesar dengan sudut sebesar inflasi. Harsus bekerja terus menerus tidak ada kebebasan waktu. Eight to Five ( istilah temen-temen ), harus dalam penjara yang tidak ada jeruji besinya, diawasi terus menerus, bahkan bagi karyawati untuk menunaikan tugas keibuannya harus menggunakan taktik yang jitu ( itupun kalau ada fasilitasnya ). Pokoknya serba terbatas baik waktu, pendapatan, hubungan sosial dan sebagainya. Tetapi kenapa mayoritas masyarakat di quadrant ini ???? yang paling banyak mempengaruhi menurut hemat kami adalah hambatan budaya. Baik cara berfikir, cara bertindak, manajemen resiko, kerja keras ( kebalikan dari budaya priyayi yang santai tetapi kaya ), presepsi masyarakat, penghargaan terhadap proses, penghargaan dari pemerintah, support pemerintah, hambatan birokrasi, dan sebagainya.

Hambatan budaya ( Cara berfikir ): pada umumnya kita dibentuk oleh kebiasan yang simple ( instan ), malas berfikir keras agar kreatifitasnya keluar, tidak komperehensif alias sepotong-sepotong. Kebiasaan yang demikian akan lebih cocok pada quadrant employee. Karena syarat dari interpreneur adalah berfikir kritis, komprehensif, berfikir dan bekerja sangat keras untuk menghasilkan pendapatan yang tidak terbatas.

Hambatan budaya ( Cara bertindak ) : Ini paling banyak ditemui dilapangan juga, bagaimana secara keilmuan dan pengetehauan cukup, referensi cukup, peluang ada, tetapi hambatannnya tidak berani atau mau melakukan ( Just Do IT !!!!! ). Kalau-kalau….terus pikiran negatif yang paling banyak mewarnai, akhirnya hanya berkhayal saja dan tidak ada hasil apapun. Fokus yang dilihat adalah yang gagal…tuh lihat si Eko gagal susah sekarang hidupnya, padahal semua itu proses. Kalau lihat keberhasilan orang akan dicari alibi ” wajar kalau orang itu sukses ” dan kalau kita wajar tidak sukses. 

Hambatan budaya ( Manajemen resiko ): Mereka umumnya tidak memahami manajemen resiko, seakan interpreneur adalah terjun bebas dan all risk dipertaruhkan. Ini juga dialami penulis cara berfikir seperti ini. Padahal tidak, resiko bisa kita kelola dengan apik tetapi dengan tetap gigih menjalankan usaha sampai tingkat resiko bisa seminimal mungkin dalam ” mempengaruhi “kehidupan kita. Secara detail setiap orang akan berbeda karena latar belakang, assets, jenis usaha yang sangat bervariasi.

Hambatan budaya ( Kerja keras ) : Bahwa sesungguhnya secara umum kita ini seharusnya termasuk bangsa yang pekerja keras, karena kita ini termasuk bangsa agraris. Lihat petani, pagi buta sehabis subuh sudah berangkat pulang petang. Datanglah bangsa penjajah yang dengan sengaja mengkebiri ” budaya kerja keras” dengan menciptakan strata-strata dalam masyarakat. Salah satu strata yang terhormat adalah strata priyayi yang tidak harus kerja keras, asal berkolaborasi dengan penjajah maka hisupnya akan sejahtera.

Hambatan-hambatan budaya yang lain : Presepsi masyarakat, support pemerintah, hambatan birkrasi. Pada umumnya dimasyarakat definisi bekerja adalah harus jelas berangkat pagi pulang petang, dengan pakain resmi. Baru dikatakan bekerja. Sementara bagi interpreneur jam kerja tidak mengikuti umumnya. Waktu harus dikelola sendiri dan dengan sunngguh-sungguh sehingga efektif dan efisien. Dengan semboyan ” Efisien or Die “. Belum lagi menghadapi hambatan birokrasi & support pemerinyah. Kalau kita lihat dinegara tetangga ” Australia “. Kalau ada warganya yang sedang mengembangkan suatu unit usaha dan memperkerjakan tenaga kerja maka pemerintah akan mensupport karena sudah membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran. ” Apa yang bisa dibantu ” kata petugas dinegara sana. Sementara dinegara kita mulai dari ribetnya perizinan, sampai keperluan pembelian BBM pun setengah mati, terancam oleh sangsi hukum dan sebagainya dan sebagainya…bagaimana jiwa interpreneur akan tumbuh yang akan membantu mengurangi pengangguran yang demikian besar dinegara kita ????????????

QUADRANT  II ( Self Employee )

Pada quadrant ini umumnya dihuni oleh orang-orang profesional, seperti : Dokter, Notaris, dan sebagainya. Pada intinya pada quadran ini orang masih harus bekerja keras sendiri dan tidak bisa diwakilkan. Jadi besar pendapatan tergantung waktu yang harus dialokasikan untuk melaksanakan jobnya tersebut. Biasanya untuk mencapai posisi ini harus melewati jenjang pendidikan yang khusus. Proporsi dalam masyarakat umumnya relatif sedikit pada quadran ini.

QUADRANT III ( Interpreneur ) : Pada quadrant ini mempunyai waktu yang tidak terbatas, pendxapatan yang tidak terbatas. Semua berpulang pada manajemen diri. Ciri -ciri pada quadrant ini adalah berfikir kraetif memaksimalkan otak kiri dan kanan. kecerdasan Intelegensia, Emosional dan spiritual  sangat diperlukan. Manajemen resiko yang apik, mental yang tangguh, mempunyai jejaring yang luas.

Tujuan para pemain di quadran ini adalah membangun assets. Ini tidak akan mungkin dilakukan oleh quadran-quadran lain. Karena dengan terbangunnya assets maka bisa memasuki quadran IV, yakni kemerdekaan waktu dan kebebasan finansial.

Quadran ini betul – betul merupakan tantangan. Kata orang bisa membikin hisup lebih hidup. Seangat tanpa kenal lelah. Sangat berbeda pada posisi kita sebagai employe. Mudah capek, malas, karena hanya menunggu waktu gajian. Disini menjanjikan matahari yang bersinara terang. Kalau dalam istilah kapitalis ” Pensiun muda pensiun kaya “.Usia berapakah kita akan pensiun ????????

QUDRANT IV ( Kmerdekaan Waktu dan Kebebasan Finansial )

Pada quadrant ini bukan lagi kita bekerja untuk mencari asset. Tetapi Assets yang telah bekerja untuk kita. Otomatis kita tidak perlu bekerja lagi tetapi penghasilan akan terus bertambah. Kita bisa melakukan apapun tanpa dibatasi oleh waktu. Melakukan wisata, ibadah atau apapun yang kita inginkan. Definisi kaya menurut Robert Kyosaki adalah apabila kita esok menyatakan berhenti bekerja apakah kekayaan kita akan terus bertambah. Jadi pada saat itulah kita bisa menyatakan diri kita pensiun dan bisa menimati apapun………………….apa yang kita mau………..MAU………HAYooo……… 

5 responses to “Cash Flow Quadrant dan Interpreneur

  1. kesimpulannya apa pak ?

  2. IZIN COPY BAPAK semoga bermanfaat

  3. Ping-balik: Testimoni Spontan para pemilik LKP dari berbagai daerah |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s