PERDAGANGAN KAYU TROPIS DAN RIMBAWAN KITA

 

Kita hari ini jumat tanggal 9 mei 2008, terbelalak oleh berita di salah satu media cetak harian dengan judul “ Waspadai Perdagangan Kayu Tropis Dunia “, yang membuat tercengang bukan judulnya tetapi data-data yang sangat “nggegirisi” data-data yang lansir oleh Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Efendi mengungkapkan, dari data Food and Agriculture Organization ( FAO ), tahun 2004-2007, “ Malaysia adalah pengekport kayu bulat tropis ( log ) terbesar didunia. Rata-rata ekspor kayu itu diatas 5 Juta meter kubik (m3) pertahun atau totalnya 20 juta M3 .”

“Pada periode yang sama ,Malesia juga sebagai pengeksport kayu gergajian tropis ( sawnwood)terbesar dengan rata-rata ekspor sekitar 3 Juta M3 setahun. Selain itu, Malesia dinobatkan sebagai pengekpor terbanyak plywood tropis, rata-rata mencapai lebih dari 4,5 juta m3 pertahun atau mencapai 18 juta m3 selama 2004-2007.

 

Data-data ini sangat menohok rimbawan indonesia, tidak saja yang duduk di birokrasi tetapi juga yang bergerak di sektor swasta. Mari kita arahkan dari sudut pandang yang berbeda. Maksud sudut pandang berbeda ini adalah baik yang melatar belakangi maupun solusi-solusi yang diusulkan.

Salah satu sudut pandang yang “ konvensional “ adalah kemungkinannya “ penyelundupan “ dari Indoneisia bahkan dikemukakan bahwa ekspor kayu tersebut adalah praktek legalisasi kayu ilegal dari Indonesia. Solusinya adalah memperketat ilegal loging dengan merangkul semua pihak. Jadi lebih banyak diarahkan pada penindakan /represif.

 

Dalam kondisi negara yang masih “ menderita ekonomi “, tekanan subsidi BBM, pengangguran, kurangnya investasi, penigkatan pendapatan masyarakat ( total produksi bruto nasional dan jumlah penduduk ), bayang-bayang tingginya inflasi, ketahanan pangan dan ekonnomi masarakat dengan adanya “ gejolak “ global BBM yang berimbas kepada seluruh aspek kehidupan, dan sebagainya yang semua itu bermuara pada aspek ekonomi.

 

Salah satu aspek ekonomi yang agak mundur adalah disektor kehutanan, khususnya dalam segi ekspor misal produk kayu : sawn timber dan plywood. Kalau kita lihat didaerah-daerah banyak industri-industri kehutanan yang tutup. Hal ini banyak terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Sumatera serta daerah-daerah lain. Hal ini disebabkan oleh kurangnya bahan baku, khususnya log. Efek domino dari penutupan dari pabrik-pabrik ini sangat panjang. Antara lain: terjadinya pengangguran, turunnya daya beli eks karyawan dan keluarganya, usaha2 kecil sekitar pabrik tutup, transportasi sekitar pabrik, bahkan antar pulau dan sebagainya.

Kita mungkin berfikir ini merupakan konsekuensi logis dari degradasi hutan ( baca turunyya riap kayu persatuan waktu ), akan tetapi tidak bisa dielakkan data yang keluar seperti yang diuraikan diatas. Apa yang salah?? Pasti ada yang salah. Baik dalam segi regulasinya ( oleh Pemerintah cq. Departemen Kehutanan ) maupun Operator ( Pemilik IUPHHK HA ).

 

Sebetulnya sistim yang diterapkan kalau semua komponen mengikuti sistim manajemen kehutanan dengan disiplin maka tidak akan terjadi degradasi volume kayu  ( penurunan riap ). Karena dikelola secara “sustain yeld prinsiple”/ sistim kelestarian hutan. Pengembangan TPTI ( Tebang Pilih Tanam Indonesia ) dengan kewajiban enrichment planting sesuai dengan hasil sampling plotnya. Selain itu juga harus disiplin terhadap tebangan bloknya. Memang yang menjadi masalah adalah apabila IUPHHK HA sudah melakukan  PWH ( Pembukaan Wilayah Hutan ) maka masyarakat ikut masuk dan melakukan penebangan juga. Masyarakat ini  lah yang cenderung tidak terkendali karena dibiayai oleh “ cukong “ yang nota bene menjadi illegal loging. Hal inilah yang menyebabkan pengelolaan hutan tidak pada posisi “ sustained yield principle “. Akibat dari hal tersebut perusahaan demi untuk meningkatkan volume tebangan maka akan melakukan tebangan diluar blok yang telah digariskan. Akibatnya tidak terjadi jangka benah yang telah diprogramkan. Hal tersebut terjadi terus menerus menyebabkan degradasi volume kayu ( penurunan riap ) yang pada posisi dan waktu tertentu daya dukung bahan baku untuk kapasitas terpasang industri tidak mencukupi ( dalam wilayah IUPHHK HA ).

 

Tetapi kenapa masih banyak “ diperkirakan “ kayu selundupan ke Malaisia??? Dari manakah asalnya??( maksudnya adalah dari areal IUPHHK atau dari areal Hutan Lindung??atau dari areal LOA ( Log Over Area ). Atau mungkin dari areal  yang terkena hak yang lain??? Dari areal manapun yang jelas kita harus berfikir jernih akar potensi sumber daya alam kayu tersebut tidak jatuh ketangan bangsa lain. Ini tantangan bagi semua rimbawan Indonesia tidak hanya dibirokrasi tetapi juga yang berada di swasta. Betapa secara pragmatis kita kehilangan demikian besar termasuk multiplier effeknya. Bayangkan begitu banyak tenaga kerja kita baik yang “ halal maupun yang haram “ yang bekerja dinegeri jiran khususnya dibidang industri perkayuan.  Padahal bahan bakunya sebagian diperkirakan dari Indonesia. Sementara industri perkayuan di Indonesia banyak yang tutup karena kekurangan bahan baku. Ini adala hal sifatnya absurd. Satu sisi pabrik-pabrik kita tutup tetapi  sisi lain bahan baku kita lari keluar dan dimanfaatkan bangsa lain.

Berarti harus dipikirkan solusi mengatasi hal ini dengan tujuan atau sasaran bahan baku bisa dimanfaatkan didalam negeri dengan tidak merusak lingkungan. Setidak-tidaknya masih dalam wilayah kontrol pemerintah Indonesia.

 

Deregulasi dan debirokratisasi peraturan-peraturan yang ada dengan memperbaiki moral hazard petugas-petugas yang berkompeten. Memang hal ini seakan mimpi disiang bolong. Melihat situasi dan kondisi negara kita. Tetapi kalau tidak memulai dan berfikir kita mampu dan bisa mengelola sumberdaya hutan dengan baik kapan kita akan mulai ada perbaikan. Apakah kita akan membiarkan multiplier effek dari industri perkayuan dan perdagangan di nikmati oleh negara Jiran terus?????Mumupung kita memperingati 100 tahun kebangkitan Indonesia, mumpung kita sedang hangat-hangatnya memperingati 10 Tahun reformasi, mumpung lagi hangat-hangatnya pemerintah menaikkan BBM yang langsung atau tidak langsung mendistorsi perekonomian masyarakat yang berakibat semakin beratnya beban masyarakat yang berpendapatan kecil apalagi yang tidak berpendapatan????????????

 

 

 

 

 

One response to “PERDAGANGAN KAYU TROPIS DAN RIMBAWAN KITA

  1. Wah gawat tuh negara kita, selalu kurang cerdas ya…..hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s