PERENUNGAN MAS BEJO

Bejo adalah nama khas jawa, salah satu etnis terbesar di negara adiluhung ini. Nama yang identik dengan nama pasaran. Dia dilahirkan ditengah dusun kepulauan madura, cuman dari kecil dia sudah hidup di sekitar kota solo. Wajahnya biasa-biasa saja, malah bisa disebut culun. Dalam usia 35 tahun, Bejo atau sering disebut mas Bejo ( oleh temen2 sekampungnya ) sedikit nervous alias gamang alias gugup dalam menghadapi kehidupan ini.

 

Sebetulnya aku hidup ini untuk apa??kenapa aku hidup??apakah aku sudah direncanakan untuk hidup??perencanaan seperti apa??kenapa aku hidup disini??kok tidak disana?? Kenapa saat ini ada orang menangis tetapi dalam waktu yang sama ada orang yang sedang tertawa terbahak-bahak??kenapa ada orang yang miskin, papa, susah sebaliknya ada yang kaya raya??kenapa ada orang yang lahir pinter, cerdas, sebaliknya ada orang yang bodoh, klowor, ora dongan, telmi???? Wah banyak banget kontradiktif-kontradiktif yang bikin puyeng. Tetapi aku ingin punya jawaban yang jelas, gamblang dan bisa diterima akal. Jarene mas Mahasiswa harus dapat jawaban yang Ilmiah dan Reseonable.

 

Sebetulnya mas Bejo pendidikan formal hampir tidak pernah mengecap. Hanya beberapa tahun menikmati pendidikan di pesantren salafiah. Yaitu pesantren yang mengajarkan kitab-kitab kuning. Mas Bejo sempat menamatkan safinatun najah dan sulam taufiknya imam munawai, Riyadhusholihin, Nahwu, shorof, dan sedikit Tasawuf. Meskipun begitu mas Bejo tergolong murid yang cerdas secara alamiah dan cenderung berfikiran dan berprinsip lurus. Sampe oleh temen-temennya disebut “ samin “. Sebetulnya sifat samin ini konon kabarnya berasal dari suatu daerah di Purwodadi, Jawa Tengah. Daerah tersebut dihuni oleh suatu komunitas manusia yang berperilaku aneh kalau dipandang dari sudut pandang manusia modern. Komunitas samin tersebut berperilaku “apa adanya “ jujur sejujurnya, bloko sutho. Itu dalam segala hal. Baik dalam berbicara maupun dalam bermuamalah. Beda dengan masyarakat modern yang dengan kecanggihan tipunya. Kecanggihan dalam merekayasa sesuatu, kecanggihan dalam mengkorup sesuatu, kecanggihan dalam menjalani hidup dengan kepalsuan.

 

 Aku hidup ini untuk apa??sebelum bisa menjawab itu, harus tahu dulu hidup itu apa sih??what is a meaning of life?? Kita dikatan hidup kalau dalam tubuh kita lengkap ada 4 unsur : Angin, Air, Api, Bumi. Salah satu hilang maka kita dikatakan orang mati. Nah kalau ada empat unsur berarti dikatakan hidup. Kemudian pertanyaan awal kembali??kalau ada unsur ( baca benda ) berarti ada sesuatu yang mencipta benda itu. Karena benda itu tidak ujug-ujug ada dengan sendirinya. Lantas siapa sesuatu yang Maha Hebat yang menciptakan unsur-unsur manusia??pasti lebih dari manusia itu sendiri. Karena yang menciptakan kursi tidak serupa dengan kursi. Yang menciptakan mobil tidak serupa dengan mobil. Pasti jauh lebih canggih yang menciptakan itu. Itulah Tuhan Allah…….

 

 

Siapakah Tuhan Allah itu?? Keterangan itu adalah La kamith lihi syaiiun “ tidak menyerupai terhadap segala sesuatu. Tidak bisa dibayangkan, dimetaforakan, atau diapapun. Terus bagaimana ya aku “nggagapin adanya Tuhan”. Sebab kalau aku bener-bener yakin adanya Tuhan mestinya aku jauh lebih hati2 dalam setiap kata dan perbuatan. Sangat aneh dan janggal bahkan gila alias tidak masuk akal orang yang yakin adanya Allah tetapi masih melakukan kata dan tindakan yang menyimpang…..aneh, pembual dan munafik adanya kepercayaan pada  Tuhan “ itu fikiran yang ada dibenak mas Bejo “. Bagaimana fikiran manusia sebgai ciptaan akan nyampai.???tidak…..paling banter pikiran manusia akan nyampai pada jalan menuju Tuhan Allah, bukan nyampai pada Dzat Tuhan Allah itu sendiri. La khaula wala kuwata illa billahil aliyil adhim.

 

Untuk bisa mengetahui keberadaan Allah diperlukan dogma “kepercayaan”. Dogma tersebut bisa didapat dengan hidayah dan inayah Allah. Jadi kita bisa beriman kepada Allah adalah karena atas pemberiannya yakni lewat hidayah dan inayahnya. Tanpa pemberiannya kita tidak akan bisa mendapatkan percaya pada Allah.  Konon menurut cerita di buku yang berjudul Foklor Maduranya EMHA Ainun Najib pada zaman Sunan Kudus ( salah satu ajajran wali songo ),  Dalam pesantrennya ada salah satu santri yang namanya Saridin. Dalam kebiasaan dalam pesantren tersebut setiap baca Al qurnan dilantunkan dengan nada-nada yang indah “ ghuzaini I. II,III,IV,V, hujaz, dsb “ pokonya sangat merdu……….tak terkeculai dalam ikror “ Syahadat “.

 

 Pada hari itu seluruh santri berkumpul di halaman pesantren, termasuk Sunan Kudus untuk mendengarkan komitmen ketuhanan dan keislaman Saridin, bahkan diikuti warga kampung sekitar pesantren. Saridin berada ditegah-tengah berdiri tegap. Waktunya tiba…..Saridin komat kamit kayak baca mantera, santri-santri pada sepi,tegang karena siap-siap pengin mendengarkan komitmennya Saridin. Tiba2 Saridin berlari sangat cepat dan naik ( manjat kelapa ) dengan tangan dan kakinya, dadanya tidak menempel pada pohon. Saridin memanjat terus sampai pelepah ternyata dia terus memanjat sampai diatas buah2 kelapa dan sampailah dipucuk pohon dan dia menjatuhkan diri…….pada teriaklah para santri sambil pada menutupi wajahnya. Mereka membayangkan kengerian yang luar biasa………tetapi sampai waktu yang diperkirakan tiba tidak ada bunyi layaknya orang jatuh dari ketinggian. Ramai ramailah para santri mendekati tubuh Saridin yang terbujur. Sebelum para santri sempat menolong, Saridin sudah bangkit seakan tidak terjadi apa-apa. Maka gegerlah pada tercengang dan tidak percaya akan apa yang terjadi.

 

Akhirnya Sunan Kudus mengumpulkan para santri dan warga setempat di Masjid. Sunan Kudus mengatakan kepada seluruh hadirin dengan Saridin yang ada di sampingnya “ Saridin barusan melakukan syahadat. Saridin tidak membaca syahadat tetapi melakukan komitment terhadap syahadat. Kalau hanya membaca sangat gampang, anak kecil yang berumur 1,5 Tahun  aja bisa membaca syahadat.

 

 

 

 

 Apakah kamu tidak takut Din?? Tanya Sunan Kudus. Ya takut Sunan. Tetapi kenapa kamu melakukan itu??karena mati dan hidup ada di tangan Allah bukan karena jatuh dari pohon kelapa dan sebagainya…..kita diam disini bisa mati kalau Allah berkehendak. Kejadian seantero dunia raya maya pada ini terjadi karena kehendak Allah. Hanya manusia sering sombong seakan dialah subyek apadahal manusia adalah obyek. Subyeknya adalah sang khalik “ penjelasan Sunan Kudus yang diamini oleh para hadirin……itulah keyakinan kepada Tuhan Allah. Tidak akan takut oleh apapun. Hanya pasrah dan bertekuk lutut dengan Tuhannya. Bagaimana kekokohan fondasi dasar keimanan dalam mengarungi hidup sangatlah penting. Kalau fondasi lemah pada suatu saat terkena tekanan badai akan oleng, terhempas dan terkandas. Sepanjang masih angin sepoi-sepoi tidak terasa……tetapi dari pengalaman pasti akan melewati badai yang sedemikian dahsyat menurut ukuran masing-masing.

 

Jadi untuk apa kita hidup sudah jelaslah sekarang, seperti yang disitir dalam alquran “ tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadat kepadaku “ jelas untuk apa kita hidup adalah untuk beribadah dengan Sang Khalik. Ibadah jangan dibayangkan hanya ibadah ritual saja. Tetapi mengandung arti yang sangat luas, segala yang baik dan diniatkan untuk ibadah adalah ibadah termasuk saat kita tidur sekalipun.

 

Masih banyak pertanyaan yang ada di benak mas Bejo. Tetapi setidaknya dia sudah sedikit lega dari pertanyaan yang mendasar dia sudah dapat menyelesaikan. Mas Bejo mencoba untuk berkontemplasi sambil membaca wirid-wirid kalimah thoyibah “ La illaha ilallah…………” dengan harap terkuaklah hijab yang akan mampu menguak misteri rahasia-rahasia alam yang demikian remang-remang alias tidak jelas ini. Kontemplasi mas Bejo kayaknya sudah mulai dalam……tiba-tiba sekelbat bayangan putih, dibarengi dengan rasa bulu seluruh badan berdiri, kemudian hawa dingin mengalir dari ubun-ubun sampai keujung kaki.. Assalamualaikum…..tiba-tiba bayangan putih tadi memberi salam, baunya wangi haluuus, melebihi minyak apapun yang telah dan pernah mas Bejo hirup. Dengan terbata-bata dijawablah slam tersebut Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh…………..Hai bani adam yang mulia, aku baca dalam qolbumu dan akal fikiranmu menyembur banyak pertanyaan-pertanyaan, yang engkau yang membikin engkau bingung dan puyeng bukan??Benr, dengan gemtar……

 

Ketahuilah Tuhanmu maha mutlak kepemilikannya atas seluruh isi alam. Beliau punya saham 100 % dan tidak ada selainnya yang punya saham hatta 0.0001 % pun. Maka keputusan-ke-putusanya mutlak. Tidak bisa diganggu gugat dan di vetto. Memang didunia diciptakan berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada miskin ada kaya, ada baik, ada buruk. Itulah keadilan Tuhan. Wah mulai mas Bejo setelah disinggung tentang keadilan mulai berani karena emosi dendam. Mana ada keadilan satu sisi diciptakan miskin, papa, bodoh sementara yang alain kaya, enak???Ketahuilah ukuran-ukuran yang dipakai manusia dan ukuran-ukuran atau parameter yang diapaki Tuhan berbeda.

 

 

 

 Manusia hanya tahunya kulit sudah sombong seakan tahu segalanya…….Allah punya parameter sendiri dalam menetapkan hukum-hukunya.  Secara umum kukatakan bahwa cara pandang “ dunia “. Kalau bani adam memandang dunia adalah tujuan, maka itulah awal kesalahan…..dan cenderang rentan secara mental serta memperlakukan materi sebagai tuhannya. Karena bani adam yang seperti itu akan lebih mencintai tuhan harta, tuhan keluarga dari pada Tuhan Allah yang hakiki. Karena harapan dia adalah kemuliaan dunia, kekayaan dunia, dia silau oleh materi……padahal hadup didunia itu nisbi, relatif. Artinya bahwa sesuatu tidak mutlak. Selalu ada plus dan minus. Sementara kalau bani adam memandang dunia adalah tempat bercocok tanam dan panennya diakherat “ sesuai hadist Rosul “ maka cara pandangnya akan luas dan lebih mampu memaknai setiap kejadian apapun manis atau pahit. Bagniya samikna waathokna……Padahal dalam alquran sudah sangat jelas bahwa 1 tahun dakherat sama dengan 1000 tahun didunia. Coba berbandingannya demikian jauhnya. Artinya dunia ini sangat sementara “ mampir ngombe “.  Jadi apapun kondisi didunia harus tetap konsisiten pada posisi : Syukur dan Sabar. Karena apapun  yang kondisi dia sedang hadapi pada hakekatnya sementara tidak mutlak. Sepanjang tetap berpegangan pada rambu-rambu Allah dan Rosulnya. Memandang dunia ini dengan biasa-biasa saja. Mas Bejo yang hidup bersahaja, lurus, bekerja keras dengan seluruh ruh kerja kerasnya diniatin ibadah, tekun dalam ibadah ritual dan sosial. Karena keyakinannya berujung pada kesejatian atau keabadian bukan pada kesementaraan.

 

Allah itu punya hak absolut untuk menetapkan sesuatu ( Qudroh ) tetapi Allah juga punya kehendak ( IRODAH ). Wah bikin mas Bejo agak puyeng. Bagaimana ya kalau Qudroh Allah tiba-tiba tidak sesuai dengan kehendak Allah. Berarti Qudroh Allah bisa dirubah dong dengan Irodahnya. Begitu hasil konklusi pemikiran mas Bejo. Dengan demikian kalau kita pada posisi tertentu dan kita ingin perubahan, maka mau tidak mau atau suka tidak suka harus ada irodah Allah tanpa irodah Allah maka tidak akan pernah terjadi. Doa adalah bagian dari meminta kepada Allah agar irodahnya sesuai dengan keinginan kita, Hanya masalahnya apakah keinginan kita sesuai dengan kehendak Allah dan itu yang terbaik atau keinginan kita tidak sesuai dengan kehendak Allah dan itu yang terbaik pula. Manakala keinginan kita sesuai dengan kehendak Allah maka kita katakan akan tercapai apa yang kita cita dan inginkan. Tetapi manakala keinginan kita tidak sesuai dengan kehendak Allah maka menurut kita itu tidak tercapai. Padahal tetap tercapai hanya bentuknya yang lain dan pasti yang lebih baik ( menurut pandangan Allah ).

 

 Wallu a’lam bishowab.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s