ASAP dan BUDAYA ” CARA BERBUDI DAYA “

Menjelang bulan kering seperti ini, ancaman polusi udara untuk daerah-daerah Sumatera dan Kalimantan mulai mengancam. Bahkan cakupan polusi tersebut telah sampai ke negeri jiran Malesia dan Singapura. Rakyat mereka dibikin sesak nafas dan pada sakit saluran nafas atas ( alias radang tenggorokan )……upaya prefentif dan kuratif telah dilakukan tetapi yang namanya asap kok ya tidak kapok-kapok selalu nongol. La wong beberapa hari lalu saja terpaksa penerbangan di bandara Supadio Pontianak dihentikan total karena jarak pandang yang kurang memenuhi syarat minimal, terhalang oleh asap.

Pemerintah sebagai regulator telah memasang jerat-jerat hukum. Pengusaha yang sedang membuka lahan ( land clearing ) dituding sebagai biangnya. Maka diancam dengan hukuman yang berat ( berdasarkan undang-undang lingkungan hidup ). Belum lagi kalau sempat terjadi merupakan makanan empuk bagi “pemeras-pemeras”. Upaya kuratif dibentulah SATGASDAMKARHUT ( Satuan Tugas Pemadam Kebakaran Hutan ) disetiap daerah untuk memadamkan api. Bahkan pasukan penjinak api dari negeri jiran banyak berdatangan untuk maksud serupa. Tapi sekali lagi kok asap tidak kapok-kapok….selalu penuh melayang layang diudara sehingga pandangan gelap, nafas sesak, matahari merah bahkan tidak kelihatan pokoknya serba tidak nyaman deh……………………………………………………………………

Menurut hemat penulis akar permasalahan pada budaya. Petani atau saudara-saudara kita yang mau membuka ladangnya sudah menjadi kebiasaan yang turun-temurun adalah dimulai dengan menebas, menebang ladangnya pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Selanjutnya tebasan dan tebangan ladangnya dibiarkan mengering. Setelah betulbetul kering dan suasana terik agar proses pembakaran bisa sempuna. Maka dibakarlah ladangnya. Memang biasanya sudah disekat bakar secara polygon tertutup akan tetapi biasanya sekatnya tidak lebar dan daerah sekitarnya berupa tanaman alang-alang yang kering. Sehingga selain ladanya juga terikut kekabar lahan-lahan sekitarnya efek dari angin ” api loncat / Jump fire ” lebih buruk lagi kondisinya kalau yang terbakar adalah lahan gambut, Karena akan terjadi kebakaran dibawah tanah ” sub surface “, akan terus mengeluarkan asap dan cukup sulit untuk dimatikan. Bisa dibayangkan berapa banyak asap yang diproduksi oleh kegiatan diatas?? karena waktu prosesnya hampir bersamaan. Setelah proses pembukaan lahan tersebut para petani akan menyebar benih padi pada awal musim hujan. Kemudian akan ditinggal dan sekali-sekali saja didatangi sampai saat panen tiba. Untuk musim tanam berkutnya mereka akan pindah ke area yang lain. an lahan

Kalau pengusaha perkebunan dan HTI masih melakukan pembakaran, maka konsekuensinya jelas karena undang-undang lingkungan akan menjeratnya. Tidak hanya perdata bahkan bisa pidana. Rasanya kalau berani melakukan itu adalah tindakan yang sangat tidak rasional antara manfaat dan resiko yang harus ditempuh. Pada prinsipnya pembakaran lahan hanya memperkecil biaya pembukaan lahan saja. Sedangkan tanpa pembakaran lahan secara teknologi dan biaya masih bisa dicover.

Sedangkan untuk petani peladang kebiasaan bercocok tanam seperti itu sudah merupakan kebiasaan yang membudaya. Untuk merubah kbiasaan tersebut memrlukan proses. Sedangkan proses memerlukan waktu. Itupun kalau ada pembinaan dan pendampingan yang terus menerus dan berkelanjutan. Maksudnya adalah diarahkan untuk bertani secara efektif. Hal tersebut memerlukan perubahan displin, pengetahuan, motivasi dan sebagainya. Artinya harus betul-betul merubah dirinya. Sedangkan watak ” masyarakat rural ” sulit menerima sesuatu yang asing. La wong masyarakat urban saja juga susah untuk merubah diri. Inilah tantangan sekaligus akar permasalahan yang belum secara rinci terprogram untuk penyelesaiannya. Maka apabila tidak tepat menyelesaikan hakekat permasalahannya ya tidak akan pernah selesai…………asap masih terus mengepul pada saat kemarau……entah sampai kapan????? tanyalah pada rumput yang bergoyang………………..katanya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s