ASAL KATA ” PEMERINTAH “dan Mental Birokrasi.

Seringkali kalau kita ngumpul di waroeng kopi timbulah thema-thema diskusi yang tanpa rencana lebih dahulu. Biasanya bertema ekonomi, politik sampai pada head line news saat ini. Kali ini pesertanya kebetulan ada temen yang lahir dan besar  di Kepulauan Riau. Sekarang bertempat tinggal di Jakarta dan Menado. Punya bisnis di Papua Newgini. Sering berpelancong diluar negeri khususnya China dan Amerika. Satunya lagi temen pengusaha atsiri yang sudah bangkotan, jelajah Nusantara sudah pasti apalagi jelajah luar negeri khususnya India dan China. Tentu wawasan mereka cukup untuk didengar. benar banyak hal-hal yang sebelumnya aku anggap sepele ternyata cukup menggelitik.

Temenku yang punya bisnis di Papua Newgini mulai membuka pembicaraan ” sulit kayaknya negara kita ini akan maju ” . Coba begitu sulitnya kalau mau usaha dinegara sendiri sekalipun. Mulai dari perizinan yang melelahkan, premanisme dilokasi proyek, sampai pada kepastian hukum  yang tidak jelas. Wah mau berinvestasi untuk membantu pemerintah mengurangi pengangguran aja setengah mati susahnya. Bayangkan bagaimana investor diharapkan masuk untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi bangsa ini. Paling-paling investor yang hanya membeli portofolio atau paling banter berani investasi pada sektor2 padat modal bukan padat karya. Ia, emang begitulah faktanya, harusnya kita-kita yang usaha ini pemerintah betul2 all out membantu kita agar bisa berkembang tidak malah berangsur mati agar lebih banyak merekrut tenaga kerja. Bayangkan pengangguran yang besar pada usia produktif sangat-sangat merugi baik bagi diri sendiri, daerah maupun bangsa ini. Tetapi yakinlah mereka sesungguhnya bukan bangsa pemalas hanya kesempatan yang tak kunjung ada.

Semua ini bermuara pada penjajah dulu. Belanda atau Netherlands dengan sengaja menciptakan ” image ” bahwa kooperatif dengan penjajah akan hidup enak, santai dan terpandang dimata masyarakat. Contoh para goverment dengan aneka privelegenya, ekonomi yang cukup, santai, tidak perlu kerja keras tetapi di masyarakat sangat terpandang. Akan sangat berbeda dengan Kang Karto yang petani, mandiri tidak bergantung dengan Kompeni, harus kerja keras dengan ekonomi kelas bawah dan sangat rentan terhadap ” efek politis “. Budaya ini terbangun terus. Terlebih-lebih pada zaman ORBA. ” Jika loyal maka aku kasih apa yang kau minta tetapi kalau kau berkhianat maka kuhabisin sampai anak cucumu ” sesungguhnya sangat mngerikan budaya yang demikian. Karena membunuh bangsa ini dengan cara yang sangat halus.

Bangsa bisa besar dengan kekuatan ekonomi yang cukup jika ditopang oleh enterpreneur yang handal dengan jumlah yang cukup ( minimal 1 % dari seluruh penduduk suatu negara). Semakin besar maka semakin bagus karena produktifitas akan meningkat. Tetapi apa yang terjadi di negeri ini, budaya untuk menjadi pegawai, karyawan alias buruh dan khususnya pegawai pemerintah animo demikian besar. Bukan salah siapa karena bagaimanapun masyarakat melihat realitas yang ada. 

Ekonomi, plotik dan budaya serta pendidikan seakan berhenti ditempat karena salah satu yang terpenting faktor birokrasi alias pemerintahan. Wah pemerintah dari kata ” pe-rintah ” atau tukang perintah. Suatu lembaga yang tugasnya memerintah. Siapa yang diperintah ??? Rakyat. Siapa rakyat ?? orang yang diluar pemerintah. Terus siapa yang menggaji tukang perntah??? rakyat dari pajak dan sebagainya. Wah…..la yang menggaji kok diperintah. Bahkan ada sekolah namanya ” STPDN ” Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri atau APDN ” Akademi Pemerintahan Dalam Negeri. Wah ini ya sekolah untuk menjadi tukang perintah…..makanya budaya kekerasan berkembang biak………….. Memang ini orang akan mengatakatan sekedar kosa kata. Tetapi penting sekali………kata temenku yang dari Papua Newgini………kalau disana para pegawai yang disebut ” Publick Services ” bener-bener bekerja untuk rakyat. Kita merasakan pelayanan dari mereka. Inilah yang harus dirubah dinegeri ini. Merubah cara berfikir  dari pangreh raja kepada pelayan masyarakat. Pertama perlu diusulkan perubahan nama dari pemerintah kepada pelayan publik. Tidak tepat kiranya kalau dinamakan pemerintah kecuali masih dalam alam penjajahan. Bahwa pegawai penjajah berhak memerintah, maka dinamakan pemerintah.  Sangat besar korelasi kemajuan sutau bangsa dengan birokrasi, betapa sulitnya mengadakan debirokratisasi dinegeri ini……………..tetapi dengan dirubahnya nama maka akan berubah pula mental dari dilayani menjadi pelayan dan yakinlah negeri ini bisa maju…….SEMOGA….

One response to “ASAL KATA ” PEMERINTAH “dan Mental Birokrasi.

  1. Wah, saya selama beberapa waktu belakang memang sedang memikirkan soal kata ‘pemerintah’ yang berasal dari kata ‘perintah’ karena ingin menjadikannya sebagai salah satu bahan tulisan. Sembari ‘mengais-ngais’ di sana-sini, ketemu blog ini.

    Intinya sih, saya sangat-sangat setuju dengan pendapat Sdra. Teguh.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s