Egoisme Negara2 Industri…………….

Isu lingkungan seperti global worming, emisi karbon, sampai kepada sampah yang tidak bisa didaur ulang meramaikan isu jagat alam raya ini. Negara-negara yang ” masih ” menyimpan hutan seperti Brazil, Indonesia terus diawasi oleh dunia agar hutannya bisa memberikan sebanyak-banyaknya oksigen bagi dunia ini. Diterapkanlah strategi politis seperti ” eco labeling, Sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari, dan sebagainya ” agar mengurangi deforestasi. Tujuannya semua sama agar lingkungan hidup terus terjaga dengan adanya keseimbangan produksi oksigen ( O2 ).

Akan tetapi sebaliknya negara-negara industri terus memproduksi carbon dari limbah-limbah industrinya. Ekspansi industri terus dilakukan agar mengeruk keuntungan sebesar-besaranya manfaat ekonomi. Pendapatan Domestik Brutto yang tinggi, otomatis akan menghasilkan pendapatan perkapita yang cukup. Negara makmur, teknologi berkembang pesat, pengangguran sangat minimal, lapngan kerja melimpah, sarana pendidikan yang cukup, standart hidup minimal tercapai,……..pokoknya hidup ” yang beradap “. Sebaliknya negara yang masih menyimpan hutan tergolong negara berkembang kalau tidak bisa disebut terbelakang. Produk Domestik Brutto yang rendah otomatis menghasilkan pendapatan perkapita yang rendah, lapngan kerja yang sempit, angka kemiskinan yang besar, angka pengangguran yang tingggi, kualitas pendidikan yang rendah, masih banyaknya isolasi daerah karena infrastruktur yang terbatas, adanya suku-suku pedalaman yang masih primitif ( suruh dilestarikan oleh negara maju agar bisa menjadi obyek tontonan ), kelaparan masih terjadi, anggaran pemerintah yang rendah, masih sederet hal-hal yang memilukan.

Sangat kontradiktif negara yang masih miskin diatas diharuskan melakukan budi baik ke negara-negara industri dengan cara tidak mengkonversi hutannya menjadi hal-hal yang lebih produktif, tetap melestarikan suku terasing, dan sebagainya. Padahal secara program hutan kita yang total luas 42 juta hektar telah direncanakan dan dibagi menurut fungsinya. Seperti Hutan Produksi ( HP ), Hutan Produksi Terbatas ( HPT ), Hutan Suaka Alam ( HSA ), Hutan Suaka Marga Satwa ( HSM ), Hutan Konversi ( HK ).

Secara teoritis dan perundang-undangan pengelolaan hutan di Indonesia sudah direncanakan dengan baik. Hanya pelaksanaanya yang kadang-kadang tidak sesuai. Dus berarti bukan asal tuding konversi hutan  itu salah. Tergantung peruntukan fungsinya yang perlu diperhatikan.

Dengan demikian negara seperti Indonesia harus punya kesempatan untuk mengembangkan dirinya, baik dalam bidang ekonomi, budaya, politik dan lingkungannya. Sementara negara industri selain membantu negara-negara yang masih punya hutan berupa credit carbon, juga harus memperbaiki lingkungannnya minimal dengan tidak menambah produksi emisi carbon. Hanya jangan dipolitisir seakan akan negara berkembang yang sedag merangkak harus terus digencet dengan alasan-alasan isu lingkungan. Lebih parah lagi adalah semua latah baik komponen dalam negeri sendiri ikut-ikutan meneriakkan isu-isu yang kadang-kadang keblablasan dan tidak jelas juntrungannya.

Hendaknya kita sebagai bangsa tegak dan berani menentukan nasib sendiri dengan membikin perencanaan yang lebih baik serta melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Pengembangan ekonomi dengan berbasiskan sektor agribisnis terbuka sangat lebar dan diakui atau tidak kita masih jauh dari optimal. Pengembangan Hutan Tanaman Industri, Optimalisasi Hutan Alam, Pengembangan perkebunan, Peningkatan kegiatan agribisnis yang terintegrasi dengan industri. Dengan demikian diharapkan penyerapan tenaga kerja akan lebih banyak karena sektor-sektor tersebut adalah bersifat padat karya. Selain penyerapaan tenaga kerja juga devisa negara akan terus bertambah karena kegiatan-kegiatan tersembut komponen impornya proporsinya lebih kecil dibandingkan komponen lokalnya. Sehingga nilai tambah yang diterima akan jauh lebih besar.

Hanya sayangnya bangsa ini mudah sekali diobok-obok oleh negara lain yang tidak menyukai bangkitnya negeri ini. Jika sudah ada industri yang mampu bersaing dalam skala internasional mulailah dicari- cari kesalahannya. Ada kesan agar proses produksinya terhambat agar tidak kompetitif lagi ( Mungkin  ini subyektif ) tetapi benang merah sangat nampak dan jelas. Lebih malang lagi semua ikut tunjuk hidung tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi. Kalau seperti ini kapan kita bisa menikmati seperti negara maju????????? Kita mampu kalau kita yakin kita mampu ( You can if you think you can …..Ian Wright ).  

One response to “Egoisme Negara2 Industri…………….

  1. kebijakan pemerintah sangat tidak konsekuen terhadap nasib rakyat.gimana negara ini bisa maju dan dapat melangkah di atas standart negara industri lah..wong pemerintahnya ja membantu negara itu.kenapa sih…mereka gak mau berjuang sendiri???kenapa pemerintah selalu menjadi “babu”negara2 industri???mereka gak p’nah mikirin nasib kitaaa…..MANA KEBIJAKAN KALIAN????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s