Refleksi 63 Indonesia Merdeka ( Bag I )

BAGIAN I

Bendera sang saka merah putih berkibar di bumi pertiwi, seakan bernyanyi riang menyongsong masa depan yang gilang gemilang. Tanah airku Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Zamrud katulistiwa, hijau, gemah ripah loh jinawi, sarwo tentrem kerto raharjo, thukul kang tanpo kinandur, bak penggalan surga. Hari itu 63 Tahun yang lalu berteapatan dengan tujuh belas agustus tahun empat lima. Dengan segala hiruk pikuk romantikanya diproklamirkanlah negara baru didunia ini yakni Indonesia. Tujuan bangsa ini sangat jelas bahwa….melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Sekarang ini bulan agustus 2008, berarti sudah enam puluh tiga tahun yang lalu sejak negara ini memproklamirkan dirinya menjadi negara yang berdaulat. Berapa banyak tujuan yang dicanangkan pada saat itu telah didapatkan atau setidak tidaknya masih dalam on the track. Mari coba kita sama- merefleksikan bangsa dan negara ini setelah 63 tahun kemerdekaannya sesuai dengan tujuan yang telah dicanangkan ( preambule pembukaan UUD 45 ) :

1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Era atau zaman bangsa ini sesuai rejim yang memimpin. Era dibawah tahun 1965 dikenal dengan era orde lama, yang ditandai dengan minimnya kesejahteraan dan pembangunan fisik. Lebih memusatkan pada national and character building. Menomor satukan politik dan menduakan ekonomi, infrastruktur yang rendah. Belum lagi pengaruh politik global yang terus terjadinya tarik menarik antara blok Kapitalis yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Blok Komunis yang dipimpin oleh Uni Sovyet ( Sekarang Rusia ) dan RRC ( Republik Rakyat China ), ikut mewarnai politik dalam negeri.
Taraf pendidikan masyarakat yang belum secara signifikan berubah, budaya feodalisme yang masih sangat kental.
Dirasakan juga oleh rakyat betapa belum terjadi perubahan yang signifikan antara merdeka atau belum merdeka kecuali para pemimpin pemerintahan berubah dari orang-orang londo kepada bangsa pribumi. Tidak lebih dari itu. Dua puluh tahun telah berlalu wabah penyakit seperti koleri, disentri, malaria dan epidemi lainnya masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi warga bangsa ini. Pemberontakan-pemberontakan separatisme yang didorong oleh ketidak puasan mewabah dimana-mana. Baik dalam skala kecil atau besar. Jelaslah pada era ini negara belum bisa secara sepenuhnya mampu melindungi segenap bangsa.

Disusul era selanjutnya yakni orde baru yang didahului oleh peristiwa politik yang kelam dan banyak warga negara yang menjadi korban tanpa proses pengadilan yang adil. Ini menyisakan tinta hitam sejarah bangsa ini. Meskipun demikian awal orde ini ditandai dengan harapan menyongsong hidup baru. Hidup yang lebih cerah, kemakmuran dan keadilan. Waktu terus berlalu pada era ini memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dengan cara mendilusi politik hak-hak warga. Privelege secara ekonomi diberikan apabila mau mengikuti arah politik penguasa. Stabilitas politik dan keamanan dijadikan prioritas utama yang sanggup mengorbankan apapun. Suara-suara kritis akan diberangus sampai seakar-akarnya. Keseragaman dan sentralisasi diajdikan sebagai pedoman dasar. Tentu saja kondisi yang demikian akan memarginalkan hak-hak mendasar dari individu warga negara. Rasa keadilan baik individu maupun daerah-daerah merasa dianak tirikan. Puncaknya adalah krisis multi dimensi yang sulit terelakkan. Tumbanglah era ini dengan menyisakan permasalahan-permasalahan yang mendasar baik ekonomi, politik, keamanan, disintegrasi bangsa dan masih banyak lagi…

Era orde baru tumbang, terbitlah era reformasi. Ditandai dengan kebebasan dan demokrasi. Press bebas, Partai-partai politik tumbuh bak cendawan dimusim hujan. Gegap gempita demokrasi yang luar biasa. Akan tetapi mekanisme demokrasi tidak seiring dengan kesadaran hukum. Akibatnya ada bermacam-macam dampak yang dirasakan sampai dengan saat ini. Dampak yang paling terasa adalah siapa yang kuat dia yang akan memaksakan kehendak, hukum menjadi nomor dua. Asal bisa mengerahkan masa maka dia akan menjadi kekuatan penekan yang luar biasa meskipun secara hukum jelas salah. Ini sebetulnya yang patut diwaspadai dan perlu dirubah pada era reformasi ini sebab kalau menjadi budaya tak mustahil akan lahir lagi era baru entah dinamakan era apalagi…………………..Lanjutan……

One response to “Refleksi 63 Indonesia Merdeka ( Bag I )

  1. Melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia adalah tugas negara yang diamanatkan oleh pembukaan UUD 45 yang tidak bisa diubah……..maka haruslah sekuat tenaga rejim pemerintah yang berkuasa untuk merealisasikannya…………………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s