Refleksi 63 Tahun Indonesia Merdeka ( Bag 2 )

Salah satu amanat yang dibebankan bangsa dan negara ini dituangkan dalam pembukaan UUD 45 adalah memajukan kesejahteraan umum. Amanat ini harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya agar tujuan didirikannya bangsa dan negara ini bisa dicapai. Berawal dari zaman penjajahan dimana aspek-aspek fital perekonomian dikuasai oleh bangsa penjajah dan dinikmati sepenuh-penuhnya untuk bangsa tersebut. Hal ini menyebabkan perekonomian rakyat demikian sengsara menjadi kelas tiga ditanah airnya sendiri. Dengan segenap kesungguhan para founding fathers negeri ini memproklamirkan kemerdekaan tepat pada 17 Agustus 1945 atau 63 tahun yang lalu. Semburat sinar harapan akan hadlirnya kesejahteraan bagi warga bangsa inipun lahir bak mentari pagi yang sedang terbit sementara petani mengharapkan dan yakin akan datangnya siang.

Seiring dengan waktu, perjalanan bangsa ini terus menorehkan sejarah. Dengan kondisi perekonomian negeri ini yang masih compang camping. Perencanaan program yang belum berjalan dengan baik, infrastruktur pertanian yang masih sangat minim bahkan bisa dikatakan betul-betul menyerahkan diri pada mekanisme alam, apalagi bicara manufaktur belum terlihat geliatnya. Pendapatan perkapita yang masih sangat rendah. Mungkin masih bisa dibilang wajar karena termasuk negeri yang baru merdeka.

Seiring dengan era baru, setelah rejim orde lama tumbang. Arah ekonomi dan pembangunan pun berubah. Qiblat ideologi bangsa ini diarahkan kepada pembangunan. Siapapun yang dikategorikan menghambat pembangunan akan di cap sebagai penghianat bangsa yang wajib dikucilkan dan sebisa mungkin tidak mendapat kue ekonomi. Pertumbuhan menjadi sasaran. Anggaran berimbang dengan menutup defisit dengan pinjaman menjadi andalan. Korupsi menggejala, karena perlindungan pada koncoisme. Terkenal dengan istilah KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ). Penyakit KKN sangat subur karena sifatnya lintas sektoral. Maksudnya tidak hanya sisi kesempatan tetapi iklim yang sangat kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya penyakit tersebut. Salah satunya adalah budaya materialisme dan hedonisme. Pada umumnya orang sangat menghargai orang yang punya materi lebih ( kaya ) dibanding dengan orang yang miskin. Meskipun untuk mendapatkan kekayaan tersebut dengan menghalalkan segala cara seperti korupsi, mencuri, merampok, menipu atau apapun yang penting adalah kaya ( lebih menghargai hasil dari pada proses ). Sementara warga yang miskin menjadi kelas dua, baik dalam pelayanan kesehatan, hukum dan sebagainya meskipun simiskin tersebut menjalani hidupnya dengan jujur dan apa adanya. Dalam kontak-kontak sosial hal ini sangat terasa ditengah-tengah masyarakat.

Dengan mendewakan pertumbuhan, tanpa upaya yang sungguh-sungguh untuk pemerataan pembangunan menyebabkan ketimpangan ekonomi yang demikian besar. Jurang pemisah antara simiskin dan sikaya ini sangat rentan dan rawan terhadap konflik sosial. Seiring dengan perkembangan dunia dan runtuhnya komunisme semakin memperkuat posisi kapitalisme, dimana ekonomi diserahkan kepada pasar tanpa campur tangan negara atau pemerintah. Ibarat dalam tinju semua dicampur aduk dan bebas bertanding antara kelas berat Vs kelas layang, kelas terbang dengan kelas bantam. Akibatnya tentu luar biasa. Si kuat akan menguasai silemah. Ditambah budaya pragmatis masyarkat semakin membudayakan ” sifat materialisme “. Agama hanya dipandang sebagai aspek riutal tanpa menyentuh esensi atau hakekatnya. Departemen agama pernah dinobatkan sebagai Departemen terkorup. Partai-Partai yang mengibarkan Islam sebagai bendera anggotanya tidak luput dari korupsi.

Era yang terbaru menamakan dirinya dengan orde reformasi. Sementara reformasi sendiri berasal dari kata re- berarti kembali, formasi- format sebelumnya ( bentuk sebelumnya ), jadi reformasi kembali ke bentuk sebelumnya. Masalahnya bentuk sebelumnya itu seperti apasih ??? apakah kita mengenal bentuk sebelumnya yang ideal ??? Wallohu a”lam bisshowab. Secara ekonomi pada orde ini ditandai dengan globalisasi. Dunia tanpa sekat-sekat, akibat majunya teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini sebetulnya juga sudah merupakan “revolusi “. Karena terjadinya perubahan perilaku manusia yang sangat mendasar. Mau tidak mau atau suka tidak suka kompetisi secara bebas akan terjadi pada warga seluruh dunia. Sayangnya dengan negara tetangga yang dekatpun kita ketinggalan jauh dengan didasarkan pada pendapatan perkapita. Data tahun 2006 ( dilansir oleh koran tempo ) : Thailand 7.440 US $. Malaysia 12.160 US $. Singapura 33.300 US $. Sementara Indonesia 3.310 US $.

Apa yang salah dengan bangsa dan negara ini ??? negara yang sangat besar dengan penduduk yang banyak, sumber daya alam yang melimpah ruah, negara yang menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa yang mempunyai petani-petani yang tangguh, bangsa yang mempunyai nelayan-nelayan yang handal, bangsa yang mempunyai kebudayaan yang tinggi, bangsa dengan toleransi dan tepo seliro yang luar biasa, bangsa yang melahirkan pahlawan-pahlawan yang gagah berani, bangsa yang melahirkan pemimpin-pemimpin politik dan militer yang handal, bangsa yang melahirkan enterpreuner-enterpreuner yang sanggung berkompetisi dengan negara lain hatta dengan negara matahari terbitpun siap dilayani dan masih banyak lagi “advanted” bangsa ini…………………….tetapi kenapa dalam realitas kita terpuruk diantara kompetisi dengan negara-negara lain??? bertanyalah pada rumput yang bergoyang……kata Ebiet GAD.

Dilihat hasil survey Human Development Indeks, Indonesia pada posisi prestasi yang sangat memprihatinkan. Salah satu hasil survey menempatkan indonesia pada posisi 12 dari 12 negara asia yang disurvey, kalah dari Vietnam yang baru saja memulai pembangunannya. Survey yang lain menempatkan Indonesia pada posisi 52 dari 56 yang disurvey hasil Human Development Indeks. Hal inilah yang menyebabkan sulit Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara lain. Memang ada yang tidak setuju akan hasil survey ini. Beberapa putra indonesia berhasil menjuaradi olimpiade Fisika, Matematika dan sebagainya itu argumentasi yang diberikan. Kita harus akui itulah fakta. Akan tetapi Indonesia tidak hanya Jakarta, Indonesia tidak hanya Jogjakarta, Indonesia tidak hanya Bandung, tetapi Wamena-Papua juga Indonesia, Aceh juga Indonesia, NTT juga Indonesia………..Pemerataan pendidikan, pemerataan infrastruktur untuk segala bidang yang emneyeluruh dan merata. Mekanisme kesejahteraan yang hanya menitik beratkan pada pertumbuhan terbukti gagal. Apalagi pertumbuhan yang didasarkan investasi padat modal. Tidak akan berpengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan yang hakiki bagi bangsa ini. Kita harus berani merubah total visi, misi, tujuan, sasaran, metode pendidikan. Agar kita mampu sejajar dengan bangsa lain.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s