REFLEKSI Tahun 2008 Untuk mengarungi Tahun 2009

picture-0000 Detik demi detik berganti jam demi jam terus menerus sehingga berganti bulan dan tak terasa sudah 365 hari, 12 bulan kita lalui selama tahun 2008. Hari ini 31 Desember 2008. Segala rasa, segala suasana, segala warna kita lalui. Ada saat sangat berbahagia berbinar-binar ada saat duka nestapa. Suasana riuh rendah ramai, pernah pula kita alami saat yang sangat sepi menyayat. Ada saat warna kelam, kadang juga kita alami keabu-abuan, lain waktu kita ngalamin yang terang benderang.

Itulah relatifitas dunia. Sering kali kita menganggap bahwa dunia ini absolut. Pada saat sedih menyayat seakan akan selamanya kita akan mengalaminya tanpa harapan, tanpa perubahan. Begitu pula pada saat bahagia, seakan selama-lamanya kita akan menikmatinya tanpa akhir.  Padahal kalau kita refleksikan semua berjalan secara silih berganti, mau tidak mau suka tidak suka kita harus alami dan rasakan.

Coba kalau kita berefleksi tahun 2008 mulai bulan Januari sampai bulan Desember mom en sedih, momen gembira, momen marah, momen cemas, momen tenang kayak air danau yang tak berombak.  Sesulit apapun kita mampu melewatinya. Meskipun kalau kita menoleh kebelakang rasanya kayak mission impossible tapi toch faktanya mampu dan dapat kita lalui. Kita masih menghirup udara segar tanggal 31 Desember 2008 yang segera akan kita tinggalkan.

Apa yang kita dapati dari refleksi tahun 2008 adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah realtif dan temporer. Segala sesuatu akan berubah seiring dengan waktu. Dengan kesadaran ini maka memandang sesuatu tidak berlebihan, memandang sesuatu secara biasa-biasa saja. Baik dalam hal yang bersifat matterial maupun yang non matterial. Dengan demikian  kecerdasan spiritual bisa bertambah.

Pemahaman bahwa apapun yang terjadi didunia ini bersifat relatif dan temporer, maka yang absolut adalah yang berhubungan dengan Tuhan. Padahal sebagian besar investasi kita pada yang bersifat temporer. Contoh kongkrit disini adalah apabila pendapatan kita misalkan Rp. 100.000,-. Berapa investasi kita untuk yang bersifat absolut dan berapa pengeluaran kita untuk yang relatif?? Pasti sebagian besar kita keluarkan untuk yang relatif, sementara yang absolut sangat-sangat kecil bahkan terlupakan. Memang pada umumnya manusia akan mengejar yang instan, cepat dinikmati. Hal ini pula kesadaran dan pemahaman akan kehakikian kehidupan dunia.

Dengan refleksi yang tepat, maka bekal untuk mengarungi tahun 2009 akan cukup siap. Dengan pemaknaan yang relatif didunia ini, maka tidak menempatkan hasil pada faktor yang penting. Tetapi menempatkan proses menjadi faktor yang penting. Dengan demikian kinerja akan jauh meningkat, dibarengi dengan ketenangan dan jauh dari rasa cemas. Kalau kita cermatin penyakit utama manusia modern adalah rasa cemas yang berlebihan, egoisme dan hedonistik. Itu semua sebetulnya kesalahan dalam cara pandang dan pemaknaan hidup.  Cara memandang dunia secara absolutlah menyebabkan penyakit-penyakit manusia modern menjadi endemi.

Maka marilah kita berefleksi tahun 2008 dengan jujur pada hati yang terdalam dan menggunakan  kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional untuk mendapatkan arahan dalam melewati tahun 2009 dengan lebih baik dan lebih bermakna…….amin. SELAMAT TINGGAL TAHUN 2008 DAN SELAMAT DATANG TAHUN 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s