Marketing Minyak Atsiri Bag I

Komoditi minyak atsiri sebagian besar bahkan hampir seluruhnya boleh dikatakan merupakan komponen lokal. Sedangkan pasarnya sebagaian besar adalah pasar ekspor. Namun anehnya dalam neraca perdagangan minyak atsiri dan turunannya berdasarkan statistik tahun 2004 adalah minus. Artinya lebih besar impor dari ekspor. Nilai ekspor pada tahun 2004 adalah sekitar 47 Juta dollar, sedangkan nilai impornya 217 juta dollar. Kenapa demikian???

Hal ini terjadi karena penjualan minyak atsiri oleh ekportir kita adalah dalam bentuk Crude oil. Sedangkan impor kita sudah dalam bentuk purifikasi ( pemurnian ). Kalau kita telaah lebih jauh tentang pemasaran minyak atsiri, menurut hemat penulis terdiri dari :
1. Rantai konvensional : Penyuling, Pengepul dan Eksportir.
2. Rantai non konvensional : End users ( Fabrikan ) dan Individual.

ad.1. Rantai Konvensional.
Rantai ini yang paling umum dipakai, karena lebih mudah. Biasanya pengumpul akan hunting atau mendatangi penyuling. Bahkan pengumpul ini sudah menitipkan uang terlebih dahulu kepada penyuling. Sehingga ada ikatan antara penyuling dan pengumpul tersebut. Dengan demikian penyuling tidak akan menjual minyaknya kemana-mana. Sementara pengumpul juga ada kepastian mendapatkan minyak dari penyuling, karena pada umumnya pengumpul dibebani target tertentu dari ekportir. Misalnya harus bisa menyetor 200 ltr minyak nilam perbulan.
Setelah terkumpul sesuai target atau dibagi kedalam beberapa termin pengumpul akan menyetorkan minyaknya ke eksportir. Selanjutnya eksportir akan mengekspor minyaknya keluar negeri. Banyak negara negara tujuan ekspor.
Negara tujuan ekspor adalah Amerika Serikat 23 %, Inggris 19 %, Singapura 18 %, India 8 %, Spanyol 8 %, Perancis 6 %, China 3 %, Swiss 3 %, Jepang 2 % dan Negara-negara lain 8 %. ( Strategi pengembangan Minyak Atsiri Indonesia / Balai Penelitian Obat dan Aromatik ).
Negara yang merupakan reeksportir ( jadi bersifat trading ) adalah India dan Singapura.

ANALISIS PASAR :
Namanya harga pasar harus tunduk pada hukum suplay demand. Kalau sulpay banyak demand kurang maka harga akan turun begitu pula sebaliknya kalau demand tinggi suplay kurang maka harga akan turun. Kecuali ada monopoli atau oligopoli yang dilakukan secara kartel. Hukum tersebut akan terjadi kekecualian.
Akan tetapi hendaklah para pelaku harus mengingat keberlangsungan suplay atau pasokan dari rantai yang terbawah. Salah satu kasus adalah komodity nilam yang dikenal dipasaran dengan Pachouly oil. Pada saat bahan baku banyak/melimpah maka harga akan turun, bahkan sampai kepada nilai yang tidak rasional lagi. Pada suatu saat pasokan rendah maka harga akan melambung.
Kalau kita cermati antara eksportir dengan importirnya sudah terjalin kontrak, biasanya dengan harga tetap. Sebab kalau eksportir dan importir tdk menggunakan harga tetap akan sulit tercapainya syarat Kualitas, Kuantitas dan
Kontinyuitas. Begitu pula antar eksportir dengan para pengumpul. Akan tetapi dilapangan fluktuasi harga bisa terjadi dalam skala bulanan atatu harian. Hal ini pasti ada yang memperainkan harga ditingkat penyuling. Permainan harga ini tidak akan terjadi jika benar-benar berlaku pasar bebas atau hukum pasar bisa terjadi. Atau dengan kata lain fluktuasi harga yang demikian cepat bisa terjadi jika dan hanya jika kekuatan besar yang kompak atau kita sebut kartel yang melakukannya.
Posisi yang paling lemah dan tidak kompak adalah antara penyuling dan petani penanam bahan baku. Dengan modal pas-pasan mau tidak mau, suka tidak suka akan mengikuti apapun kemauan dari kekuatan besar tersebut. Logikanya adalah pada saat harga turun sampai posisi tidak rasional, maka ditahan saja tidak usah dujual agar suplay menurun sementara demand tetap maka harga akan naik. Akan tetapi dalam pelaksanaanya jangankan untuk menahan, untuk membeli bahan baku saja sudah berhutang terlebih dahulu. Ini berlaku untuk petani dan penyuling. Sehingga banyak sekali keluhan tetapi tidak punya kemampuan untuk merubahnya. Kalau ini dibiarkan maka akan terjadi penurunan suplai karena akan mengganggu kontinyuitas. Akan tetapi hal ini mirip dengan yang terjadi pada petani temakau di jawa tengah. Pada saat orang jarang menananm maka harga akan tinggi sehingga menggiurkan petani yang lain. Pada periode berikutnya ramai-ramai petani menanam komoditas tersebut dan yang terjadi adalah harga akan turun. Hal itu terjadi terus menerus…………….KITA TIDAK PERNAH BELAJAR DARI YANG SUDAH DILAKUKAN………………….ternyata ” Kapitalisme selalu merajalela ” meskipun pada suatu saat pasti akan runtuh karena ketidak adilan…………………………………………………

6 responses to “Marketing Minyak Atsiri Bag I

  1. Senang ada artikel ini. Trims. Semoga up-date-nya rajin .. bakal saya ikutin perkembangannya..
    Nanya ya? Kalau peluangnya minyak atsiri sirih, sereh dan jeruk purut itu gimana?

  2. Tak jawab disini ya…….sirih merah bahan baku udah mahal, sedangkan kalau sirih paper batle bagus harga minyaknya 1,5 jt/kg. Jeruk purut bagus pasarnya………selamat

    • Makasih ya. Saya punya ketiga jenis tanaman itu (yg sirih jenis yg piper betle). Sekarang, lagi belajar bikin minyaknya. Engga nulis artikel pembuatan minyak atsiri skala kecil/lab?

    • siapa tau bisa bantu saya, butuh minyak cendana kupang,

      • Kami ingin kerja sama, kami punya bahan baku minyak cendana mysoram. Kami butuh pihak yang membeli minyak hasil penyulingan kami. Stok melimpah, mau? Call me on 085269191294

  3. kami penyuling minyak cendana jenis mysoram india..kami siap memenuhi quota permintaan utk export..berminat serius bisa hubungin sy di 081385267789..posisi sy di jakarta dan lahan perkebunan kami di lebak banten..Trimaksh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s