Membangun Pendidikan dan Industri…………

Pendidikan pada hakekatnya adalah meningkatkan sumber daya manusia melalui jalur formal.  Dengan ditetapkannya Anggaran Pendapatan Belanja Negara ( APBN ) sebesar 20 % merupakan suatu modal dasar untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan.

Permasalahan yang paling krusial dalam bidang ini adalah ketidak siapan lulusannya dalam bidang industri atau lebih mudahnya menghasilkan tenaga terdidik yang siap pake. Dsini kita akan membahas link antara dunia pendidikan dan industri. Memang dalam benak penulis ” apakah lulusan pendidikan harus menjadi buruh yang harus melamar kesana kemari apakah tidak akan diarahkan untuk mandiri dan menciptakan lapangan kerja?? disini kita tidak akan membahas hal tersebut karena untuk membahas hal tersebut perlu ditulis artikel secara khusus.

Seringkali kita rasakan didunia industri dalam perekrutan tenaga kerja baik untuk tingkat SMK maupun Sarjana yang masih fresh graduate dihadapkan pada ketidak siapan dalam menangani pekerjaan baik ditinjau dari aspek teknis maupun dari aspek manajemen.  Sehingga industri harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk membentuk si tenaga kerja tersebut siap pakai. Biaya disini diartikan sebagai waktu dan materi. Hal ini terjadi karena kurikulum pendidikan yang ada masih terlalu teoritis dan sangat kurang dalam praktek yang nyata dilapangan.

Untuk mengeliminir kelemahan tersebut perlunya pendidikan yang diarahkan pada kesiapan tenaga kerja akan kebutuhan dunia industri. Kurikulum mesti dirubah disesuikan dengan kebutuhan industri. ” Kurikulum yang membumi”……..

Untuk menciptakan kurikulum yang membumi maka diperlukan link dengan industri. Dengan semangat otonomi daerah adalah trigger untuk membangun pendidikan berdasarkan besaran industri didaerah tersubut. Misalkan Kabupaten Ketapang Provinsi kalimantan Barat. Sebagian besar industri adalah Perkebunan sawit, Hutan tanaman industri dan Hutan alam.  Setelah mengidentifikasi industri yang ada didaerah tersebut maka tinggal disusun kurikulum yang mengarah pada pengelolaan perkebunan dan kehutanan.

Anak didik mulai dari awal sudah diperkenalkan apa itu kebun sawit, apa itu hutan tanaman industri serta apa itu hutan alam. Selanjutnya bagaimana mengelola perkebunan sawit mulai dari perencanaan, persemaian, pembibitan, pengolahan lahan, perawatan, pemanenan, pengolahan hasil dan pemasaran.  Selanjutnya anak didik harus praktek dan magang untuk seluruh pekerjaan tersebut dan sampai mampu mengerjakan setiap pekerjaan.  tentu lembaga pendidikan harus bekerja sama dengan industri yang terkait termasuk membuat memorandum of understanding ( MOU )  dengan disupport oleh Pemerintah daerah.  MOU tersebut berisi kesdiaan perusahaan untuk menjadi tempat magang dan menampung anak didik jika telah lulus. tentu sesuai dengan kebutuhan industri tersebut.

Dengan demikian ada simbiose mutualisme antara dunia pendidikan dan industri. Dunia pendidikan akan menelorkan tenaga kerja yang siap pakai dan diterima didunia industri, sementara keuntungan dunia industri adalah menerima tenaga kerja yang siap pakai tanpa harus mendidik yang mengeluarkan cukup biaya dan waktu. Selain itu dunia industri juga bisa mempekerjakan masyarakat setempat tanpa harus mengimpor dari luar daerah yang sering menyebabkan kecemburuan sosial.

Untuk mewujudkan itu semua, perlunya upaya yang sun bigguh-sungguh dari berbagai pihak, baik pelaku pendididkan maupun aparat pemerintah daerah.  Kita yakin kalau program seperti diatas bisa berjalan maka pendidikan tidak perlu subsidi dari pemerintah dan lembaga pendidikan tersebut akan surplus dan diminati banyak siswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s