Analisa Makro Minyak Nilam

Tanaman Nilam ( Pogostemon cablin Benth ) merupakan salah satu penghasil minyak atsiri yang penting. Nilam dapat tumbuh dan berkembang didataran rendah sampai tinggi. Menurut beberapa pustaka nilam dapat ditanam sampai pada ketinggian 1200 m dpl. Akan tetapi nilam akan tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 50 – 400 m dpl. Tanaman ini mengehendaki suhu yang panas dan lembab, serta membutuhkan curah hujan yang merata sepanjang tahun. Curah hujan yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman nilam berkisar antara 2000 – 2500 mm/th, suhu optimum 24 – 28 C dengan kelembaban lebih dari 75 %.

Di Indonesia daerah sentra produksi nilam terdapat di Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh Darussalam, kemudian berkembang di Propinsi Lampung, jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lain. Total luasan yang dicatat oleh Dirjen bina Produksi Perkebunan pada tahun 2002 adalah sebesar 21.602 ha. Indonesia merupakan pemasok minyak nilam terbesar......dipasaran dunia dengan kontribusi 90 %. Ekspor minyak nilam pada tahun 2002 sebesar 1.295 Ton. Perkiraan pemakaian dunia tahun 2006 adalah sebesar 1500 Ton/tahun ( Mengenal Pasar Minyak Atsiri indonesia, Arianto Mulyadi ).

Permasalahan yang dihadapi bisnis minyak nilam di Indonesia pada umumnya adalah : 1. Kontinyuitas bahan baku, 2. Efisiensi produksi 3. Fluktuasi harga.  Ketiga hal ini saling berkait, karena ketiadaan perencanaan dan pendataan yang baik.  Ini yang perlu dianalisis lebih lanjut. Karena yang selalu dikemukakan para ” pemain ” adalah hukum suply demand yang mengakinatkan terjadinya fluktuasi harga minyak nilam. Dari efek inilah menjadikan kontinyuitas bahan baku yang tersendat dan lambatnya pengembangan teknologi produksi minyak nilam karena iklim usaha yang fluktuatif.

ANALISIS MAKRO :

Dengan menggunakan asumsi-asumsi yang pesimistik kita mencoba menganalisa berapa sih luasan tanam yang optimal agar tidak terjadi over supply maupun over demand minyak nilam.

Asumsi yang digunakan :

  1. Produktifitas kebun nilam perha : 5 Ton ( Basah )/Ha/ panen.
  2. Perbandingan basah dan Kering : 5 : 1.
  3. Rendemen penyulingan tenera kering 2 %.

Kalau keperluan pertahun 1500 Ton atau setara dengan 1500.000 Kg. Maka diperlukan 100/2 x 1500.000 kg tenera kering = 75.0000.000. Kg tenera kering atau 5 x 75000.000 kg = 375.000.000 kg tenera basah.  kalau produktifitas sekali panen 5.000 Kg, maka total luasan pertahun =  75.000 Ha. Andai dalam satu hektar rata-rata bisa dipanen dalam satu tahun 2 kali, maka diperlukan luasan = 37.500 Ha. Dengan asumsi semua yang tertanam menghasilkan minimal 5 ton per hektar dan bisa dipanen dua kali dalam satu tahun, maka tanaman nilam Indonesia optimalnya pada kisaran luasan 37.500 Ha.

  1. Inilah yang perlu dievaluasi dan dikaji berapa sih yang real tanaman nilam di tiap-tiap profinsi ??? apakah betul over supply? jangan sampai kelemahan pendataan dipakai para kartel atsiri untuk memainkan harga dengan alasan over supply…….Wallahu alam bishowab………

7 responses to “Analisa Makro Minyak Nilam

  1. Guh…wah ini bisa buat referensi proposal ki… Prospek 2009 gimana Guh ?

  2. BISA MINTA HITUNGAN BEP NYA? YG DIBUTUHKAN 1500 TON MINYAK, BENARKAH?
    ATAU 1500 TON TERNA KERING?
    TLG DIJAWAB SEGERA. TRIMS

  3. Kalau menghitung BEP, maka harus menggunakan analisa mikro minyak nilam……….Dihitung mulai cost bahan baku, rendemen, cost produksi………Nilai penjualan……….

    Trims for all…..

  4. sy punya kebun nilam 1,5 Ha , tanam sejak agust ’08 lalu sampai skrg sdh panen 2 kali ( 6 bulan dan 2 bulan ), tapi hasilnya sangat jauh dr perhitungan awal ( 4-5 ton ) yaitu hny dpt 500 kg, dengan kondisi daun kecil2. Knp ya pak ? apa ada mskn / solusi ?
    ket : 1. lahan persawahan
    2. di dataran tinggi wonosalam jombang jatim.

  5. Tak jawab disini ya……harus tau posisi dimana??tapi menurut pendapatku sih kurang hara…..atau tanahnya terlalu asam, atau bisa juga kurang air……tapi biasanya kuning. Trims

  6. @upit

    nilam itu paling bagus ditanam di dataran rendah. berdasarkan observasi di daerah jawa barat, nilam yang di tanam di dataran rendah memiliki daun yang lebih lebar. sedangkan yang di dataran tinggi lebih kecil. apalagi yang berada di bawah tegakan hutan lindung. karena intensitas matahari cukup berperan.

    atau mungkin juga panen yang prematur, karena biasanya. untuk panen pertama memang 6 bulan, tapi yang kedua dan ketiga 4 bulan.

    mungkin juga karena penyakit, sehingga banyak yang mati. atau yang di aceh terkenal dengan mati bujang. penyebabnya Pseudomonas solanacearum. atau mungkin penyakit lainnya seperti budok.

  7. TERIMAKASIH TULISAN DAN INFORMASI DALAM BLOGNNYA, CUKUP BERMANFAAT. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT HARGA BAHAN-BAHAN PERTANIAN, HASIL BUMI BERUPA NILAM, KEMENYAN, KOPI, ADAT-ISTIADAT, PEMBANGUNAN DAERAH DAN LAIN-LAIN DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s