Pemilu, Sisitim Kekuasaan dan Elit Politik.

Pemilu ( Pemilihan Umum ) telah memanggil kita seluruh rakyat menyambut gembira, hak demokrasi pancasila…..dan setrusnya adalah mars pemilu pada zaman orde baru. Pemilu dari masa ke masa dengan warna dan hakekat hasil yang berbeda-beda. Pada zaman orde baru pemilu secara hakekat adalah pemilu formalitas. Bagaimana tidak, mulai dari proses pemilihan umum itu sendiri, kompisisi anggota MPR antara yang diangkat dan dipilih, sistim partai politik khususnya Golkar secara ineternal yang menempatkan Dewan Penasehat sebagai kekuasaan tertinggi bisa membatalkan Munas dan membubarkan kepengurusan dan sebagainya adalah sistim-sistim yang diciptakan agar kekuasaan akan langggeng. Tiga jalur yang memungkinkan untuk pengambil alihan kekuasaan pada zaman orde baru ditutup rapat-rapat. Jalur Politik, Jalur TNI dan jalur Birokrasi. Jalur politik diciptakanya sistim kekuasaan yang berujung pada satu titik kekuatan yakni Dewan pembina, jalur TNI sangat jelas karena Presiden adalah panglima tertinggi ( PANGTI ) sedangkan jalur birokrasi diciptakan sistim monoloyalitas………..jadi kalau tiadak hanya karena Tuhan saja kekuasaan tidak akan berubah..???? Penikmat kekuasaan yang seperti ini adalah para elit politik. dengan aksesibilitas yang besar pada aset-aset ekonomi memungkinkan para elit politik menumpuk harta dan itu syah-syah saja sepanjang tidak merusak sistim kekuasaan yang dibangun.

Setelah era reformasi bergulir dengan tumbangnya rezim orde baru, maka terjadilah apa yang dinamai ” euforia demokrasi”, yang ditandai dengan demonstrasi dimana-mana baik dengan perusakan maupun yang tertib, teori penekanan dengan menggunakan massa untuk menggolkan keinginan meskipun harus menabrak undang-undang, terbersit dalam fikiran kita bahwa siapa yang bisa mengerahkan massa yang banyak dia yang menang dan itu difahami sebagai esensi demokrasi.
Untuk membentuk pemerintahan diperlukan pemilu. Dengan pemilu tersebut diharapkan wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR dan DPD betul-betul dari pilihan rakyat. Penunjukan anggota MPR seperti masa orde baru dihapus. MPR saat ini bukan merupakan suatu lembaga tertinggi negara tetapi hanya sebagai lembaga tinggi negara. Dengan keputusan Mahkamah Konstitusi bahwa suara terbanyak yang akan duduk di DPR, maka sedikit banyak mengurangi power dari partai politik. Cukup tepat apa yang diputuskan MK. karena tadinya berfikir ini perwakilan rakyat atau perwakilan partai??? nah bagaimana menurut susduk DPR tentang hak recall partai???kalau masih ada hak recall maka tidak nyambung antara sistim perekrutan dan pelaksanaanya. Pemilu 2009 mempunyai arti yang strategis untuk terus memberikan bukti bahwa sistim demokrasi adalah sistim yang paling cocok untuk Indonesia. Diakui atau tidak memang pemilu ditahun ini ada carut marut…..mulai dari DPT ( daftar pemilih tetap ) sampai pada distribusi logistik dan pelaksanaan pemilu itu sendiri………………ya memang harus diakui ada kelemahan manajemen KPU ( Komisis Pemilihan Umum ) tetapi hendaklah para elit politik tidak memanfaatkan kondisi tersebut untuk tujuan politis sehingga menambah carut marutnya negeri ini.

Bapak-bapak para elit politik……apakah bapak menyadari rakyat pada umumnya sudah jenuh bin capek mengikuti jagat perpolitikan di Indonesia mulai pilihan lurauh, pilkada bupati dan gubernur…..sekarang pemilu legislatif……next pilihan presiden………….yang dibutuhkan rakyat adalah adanya perubahan yang nyata….perubahan itu diartikan sangat sederhana oleh rakyat, kalau nyari duit gampang, sehingga tidak pusing mikirin kebutuhan sehari-hari…pendidikan anak yang terjangkau yang memungkinkan anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik agar punya masa depan yang lebih baik….rakyat tidak perduli siapapun yang memimpin, tapi rakyat menanti hasil karya ntatanya. Jadi mohon kepada para elit politik untuk menyadari dan jangan GR ( gegedhen Rumongso ). Kalau mendapat suara kecil akuilah dan dukung yang mendapat suara besar untuk negara dan bangsa ini seperti sering dipidato-pidato para elit politik. Jangan bersifat munafik….apa yang dikatakan bedha dengan apa yang dilakukan. Sebab hanya dengan persatuan dan satu resultante dari seluruh komponen bangsa maka bangsa ini akan bangkit dan jaya.

Kita harus menyadari dalam setiap even kompetisi selalu ada yang kalah dan menang. Ada yang mendapatkan suara banyak, ada yang dapat suara sedikit….jadi tdk mungkin semua ingin dapat suara banyak…kalau elit politik seperti itu sangat disayangkan kualitas kepemimpinan yang kekanak-kanakan. Demokrasi ini juga masih hipotesis sebab alam demokrasi ini baru kita jalani semenjak tahun 1998 kalau dihitung dari lahirnya era reformasi, jadi baru 10 tahun……sedangkan orde baru berlangsung 32 tahun yang menganut faham otoriter, sedangkan orde lama berlangsung 21 tahun……Nah orde yang paling lama adalah monarchi absolut yakni orde para raja…ratusan tahun…….bahkan bisa ribuan tahun………..Jadi sebetulnya belum bisa membuktikan secara absolut bahwa demokrasi adalah sistim yang paling cocok bagi bangsa ini. Sebab perjalanannya masih terlalu pendek. Karena saat ini kita semua seluaruh komponen bangsa secara mayoritas memutuskan untuk menggunakan sistim demokrasi ya harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Demokrasi yang dimaksud disini adalah demokrasi yang kita copy saja dari negara barat. Meskipun sesungguhnya bangsa ini juga punya sejarah demokrasi. Lihat demokrasi dayak, demokrasi Sunda, demokrasi Batak, demokrasi Jawa dan sebagainya. Demokrasi tersebut berpijak pada keselarasan, tidak hanya selaras antar manusia tapi juga keselarasan antara manusia dan lingkungannnya. Demokrasi barat cenderung hanya pada aspek manusianya saja…………….Pada prinsipnya demokrasi ini bertitik tumpu pada Pemilu, sistim kekuasaan dan elit politik.

3 responses to “Pemilu, Sisitim Kekuasaan dan Elit Politik.

  1. Persoalane, demokrasinya banci…parlementer kagak presidentiil kagak…mestinya pilih salah satu wae…sekalian uji-coba…(kata dikau…copy dari barat, misalnya kaya AS)..nah, sekarang yang ribut kan yang lagi milih parlemen…teeeeeeeerrrrrrrr, Ok, Guh ?

  2. apa yang dipikirkan politik bagi penguasa dan rakyat udah jauh berbeda antara berkuasa, penguasa. Azaz melayani dilayani…..berat tapi emang sistim kita ndak make sistim jaman nabi atao para sahabat sehingga kejadiannya gini, korupsi….nepotis…..coba literatur nabi dan sahabat dijadikan kita peganga…..makmurlah kita

  3. jangan-jangan pemilu langsung itu salah satu siasat untuk melemahkan kita, berapa duit yang mesti dibayar oleh rakyat, kalau dihitung kita musti melaksanakan pemilu langsung secara nasional itu 4-5 kali jika pil pres 2 putaran, di kab tertentu duit bayar rapelan peg. dipakai unt pemilu bupati,..kadang kita kalau dicekoki demokrasi itu mesti kita telan mentah, nanti nyoloti pak, demokrasi pancasila paling cocok untuk kita….salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s