Hukum dan Keadilan

Wah sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini, maklum kadang-kadang fokus hidup terdapat pergeseran sehingga kadang kita lebih kepada fokus tertentu dan meninggalkan fokus yang lain. Ini pula yang menyebabkan lama absen menulis di blog ini karena sedang fokus dibidang lain…………

By the way…masalah fokus akhir-akhir ini adalah adanya peperangan ” Cicak Vs Buaya ” adalah suatu istilah yang di buat oleh salah satu pejabat Polri berkenaan dengan ” Perang kebenaran hukum di masing-masing ” pihak antara Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ), Kepolisian RI, Kejaksaan Agung RI ( Mungkin ke tiganya bukan instsitusi tapi oknum atau personil “. Entahlah karena kadang kala kita sulit membedakan antara oknum, pejabat ataupun institusi. Carut marut, kong kalikong, rekayasa tidak perduli fitnah, menghalalkan segala cara, dengan kecanggihan skenario yang luar biasa sehingga kita semua ikut turbulensi kebingungan sesungguhnya ” kebenarannya ” yang sebenarnya seperti apa sih??

Hari terus berganti kejutan demi kejutan informasi datang silih berganti, kita semua tetap berkesulitan untuk menentukan kebenaran yang sesungguhnya. Paling memungkinkan adalah kita menentukan secara subyektif kebenaran itu dan berpihak kepadanya, meskipun kita tidak yakin-yakin amat. Problemnya adalah apakah betul ” hukum yang kita junjung tinggi itu ” akan memberikan kebenaran yang sejati?? Hukum sesungguhnya adalah salah satu sistim untuk menegakkan keadilan. Untuk mencapai suatu konklusi, hukum memerlukan saksi, alat bukti, urutan kejadian ( waktu ), tempat kejadian dan sebagainya agar dapat diyakinkan bahwa keputusan yang diambil berdasarkan pada keadilan.

Oleh para cerdik pandai dengan memahami sistim hukum bisa dibuat skenario terlebih dahulu sambil dibuatlah alat bukti untuk meyakinkan skenarionya itu dan bekerja sama dengan oknum aparat hukum, maka lengkaplah jalan ceritanya. Kemudian masyarakat yang meyakini semangat legal formalistik akan meyakini dan bersemangat memperjuangkan ” skenario hukum itu “.

Kalau dibayangkan betapa kejamnya apabila terjadi yang tidak bersalah dinyatakan bersalah dan yang bersalah bebas lenggang kangkung dengan pesta poranya. Tidak saja keluarganya yang menanggung tapi seluruh keturunanya akan terbebani sejarah kelam. Padahal sesunggguhnya itu tidak pernah ada….sangat mengerikan benarlah kiranya pepatah yang menyatakan ” Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan “. Tapi heranya tindakan seperti itu dilakukan dengan ringan dan kesannya masing-masing tidak merasa bersalah…..

Bagaimana akhir dari cerita ini hampir seluruh masyarakat menanti dengan harap-harap cemas, emosional, gemes, kesal, dan bingung….layaknya sinetron yang skenario ceritanya sangat bagus dan mengalahkan ratting di TV acara infotainmen yang selama ini mendominasi. Peristiwa akhir-akhir ini adalah rangakaian cerita yang saling membelit dan tidak berdiri sendiri…..sampai para pemainnya sudah pada puncak kelelahan sehingga secara naluriah berpegangan akhir pada Tuhan yang maha menggenggam kehidupan ini, sehingga paling praktis adalah pada melakukan sumpah atas nama Tuhan.

Hukum memang bisa dijadikan panglima sepanjang semua subyek dan pelaku penegakan hukum betul-betul amanah atas hak dan kewajiban yang diberikan. Perlunya dibuat langkah-langkah yang antisipatif untuk memberantas mafia hukum yang telah mencengkeram sistim hukum di negara ini. Marilah kita sama-sama berdoa agar Tuhan membantu negara ini untuk membersihkan dari kemunafikan, fitnah dan keserakahan….sambil kita sama-sama menunggu akhir dari cerita ini ” Walluhu alam bishowab……”

Dimata orang awam seperti saya ini hukum kita kandungan subyektifitasnya masih tinggi, misalkan dalam penentuan orang yang sudah menjadi terdakwa apakah harus sudah ditahan atau masih boleh pulang alias masih bebas ditentukan oleh pejabat meskipun ada kriterianya. Tapi kriteria itu dipakai atau tidak masih ditentukan oleh subyektifitas pejabat. Hal ini menurut hemat saya adalah tidak revolusionernya ” kemerdekaan ” bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s