Minyak atsiri dan Produk Unggulan

Sore ini sambil nyantai saya mendengarkan radio yang salah satu themanya adalah pidato menteri UKM ( Usaha Kecil Menengah ) yang menyatakan bahwa produk unggulan UKM adalah ukiran jepara dan kerajinan perak Bali.  Ya kita sangat setuju, akan tetapi masih banyak sesungguhnya produk unggulan dan telah terbukti peran ekspornya dari zaman baheula sampai sekarang. Kalau kita ingat Belanda dulu datang ke Indonesia karena salah satunya adalah daya tarik rempah-rempahnya. Bahkan Belanda mampu membangun perkebunan-perkebunan di seluruh antero Nusantara dan  masih bisa dinikmati sampai sekarang.  Justru sekarang ini perhatian terhadap produk unggulan ini sangat rendah, bahkan cenderung dibiarkan berjalan tanpa dukungan yang cukup berarti…

Dari zaman baheula sampai sekarang Nusantara ini mengekspor rempah-rempah sebagian besar masih berupa bahan mentah alias bahan baku industri.  Zaman yang terus berubah, mulai zaman atom sampai zaman global dengan kemajuan dalam teknologi informasi ini ternyata tidak banyak mengubah pola dan tataniaga produk rempah-rempah.  Industri penyulingan minyak atsiri masih dengan teknologi yang sangat sederhana, tataniaga yang kurang sehat, unit skala ekonomis yang rendah, dan sebagainya menyebabkan kualitas produk yang rendah, quantitas yang tidak konstan cenderung naik turun, serta kontinyuitas yang tidak terjamin.

Kalau dilihat dalam peta perdagangan dunia salah satu yang paling kongkrit adalah ” pachouly oil ” dari industri hulu tanaman nilam, yang berfungsi sebagai fiktatif minyak wangi ( kelas minyak wangi yang mahal ). Memainkan peran 86 % dari total perdagangan dunia untuk keperluan pachouly oil . Dalam volume antara 1500 Ton sampai 2000 Ton per tahun. Inilah salah satu produk unggulan yang belum dilirik alias belum diperhatikan oleh pemerintah. Dengan bahan baku yang 100 % lokal dan sangat diperlukan oleh masyarakat dunia dan terbukti kualitas produk ini unggul dibandingkan dengan negara lain (Kualitas tanamannya bukan teknologi penyulingannya ). Sayangnya kue yang didapat Indonesia ini masih dalam bentuk crude oil.  Contoh minyak atsiri pachouly oil berkadar PA ( pachouly alkoholnya ) pada kisaran 30 % sampai 35 %.  Sehingga nilai tambahnya masih sangat kecil karena masih dalam industri yang paling hulu. Inilah produk unggulan yang belum dimaksimalkan oleh pemerintah sebagai penghasil devisa. Banyak hal yang harus dilakukan sekaligus diimplementasikan dalam skala lapangan.  Beberapa hal yang harus dilakukan adalah kemudahan fasilitas permodalan, perbaikan tata niaga, research and development yang terencana.

Selama ini permodalan yang dilakukan pemerintah adalah salah satunya dengan membantu pengadaan mesin suling kepada kelompok tani. Kalau kita lihat implementasi dilapangannya mesin bantuan pemerintah cenderung tidak berkualitas asal bikin dan jauh dari standart peralatan untuk produksi yang efisien. Pemerintah sudah keluar uang cukup banyak tapi tidak termanfaatkan dengan baik. Belum lagi kalau mengartikan modal hanya alat itu kesalahan cara berfikir yang mendasar.  Pengertian modal disini diartikan bagaimana seorang produsen bisa mempunyai bahan baku yang memenuhi syarat 3 K ( Kualitas, kuantitas dan kontinyuitas ), proses produksi yang efisien serta mampu menciptakan pasar yang kompetitif.  Sedangkan berbicara mengenai tata niaga minyak atsiri ini merupakan hal yang krusial, sampai saat ini dibiarkan berjalan sendiri tanpa konsep dan implementasi pemasaran yang jelas. Memang sudah sekian tahun yang lalu pemerintah telah merencanakan ” sistim cluster ” , inipun tidak ada implementasi dilapangannya. DAI menelorkan ide ” cultiva ” intinya penentuan harga disetiap pelaku dan ada agreement, inipun kayak ditiup angin tak berbekas. Secara inti pemerintah harus mampu menstabilkan harga. Karena harga minyak atsiri khususnya pachouly oil cenderung fluktuatif yang merugikan petani. Caranya dengan berbagai cara yakni salah satunya membentuk badan untuk bisa membuffer manakala harga turun yang tidak proporsional dengan harga internasional.  Seperti dalam bahasan didepan bahwa teknologi penyulingan masih sangat sederhana bahkan bisa dikatakan belum beranjak dari zaman kolonial. Untuk itu diperlukan R & D yang implementataif tidak hanya pada penyulingan tahap hulu tetapi juga produk turunannya yang nilai tambahnya jauh lebih besar. Misalkan purifikasi, yang mengambil unsur tertentu yang diperlukan oleh industri.

Dari telaahan diatas bagi enterpreneur justru memuat peluang yang demikian besar, karena opportunity yang masih demikian besar. Karena pada prinsipnya seorang interpreuner akan membalikkan dari kelemahan menjadi kekuatan. Kelemahan disegi teknologi maka masih ada peluang secara relatif mudah untuk mengambil advantednya dengan sedikit sentuhan teknologi misalnya. Kelemahan segi tata niaga masih sangat memungkinkan untuk memainkan trading short timenya akar mendapatkan keuntungan. Belum lagi produk turunannya yang sebagaian masih diimpor oleh end user, hal ini merupakan peluang yang tidak kecil. Meskipun untuk itu semua perlu menundukkan challenge yang sangat jelas didepan kita. Jleaslah bahwa peluang yang demikian besar ada didepan kita……….tinggal kita beranikah menyambut tantangan???

One response to “Minyak atsiri dan Produk Unggulan

  1. ty info2 atsirinya mas…ditunggu kelanjutannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s