Refleksi Membangun Usaha Minyak Atsiri

Membangun usaha adalah sesuatu yang khas dalam hidup ini.  Khas karena sifatnya yang khusus. Dalam tulisan-tulisan terdahulu sudah banyak dikupas tentang bagaimana membangun usaha dan jurus-jurus mulai membangun usaha. Pada episode ini lebih banyak akan dikupas setelah bendera usaha kita kibarkan khususnya dalam usaha minyak atsiri, apa yang dialami dan bagaimana lika dan likunya.

Memang secara prinsip membangun usaha minyak atsiri seperti halnya usaha-usaha lainya sangat sederhana yakini adanya bahan baku, proses produksi dan pemasaran. Berbicara mengenai bahan baku saja tentu sudah memakan energi yang demikian besar dan bahan baku inilah merupakan sumber kelemahan dalam industri minyak atsiri. Hal ini disebabkan kecenderuangan bisnis ini tidak terintegrasinya antara bahan baku dan proses produksi. Dengan demikian sering kali berkesulitan dalam membikin perencanaan yang detail dan baik karena realisasi dari perencanaan tersebut masih banyak bergantung dengan pihak lain, seperti petani, suplaier dan lain-lain. Belum lagi pada tahap yang paling awal apa yang akan kita produksi??? Lebih dari 100 jenis bahan baku yang bisa diproduksi menjadi minyak atsiri. Akan tetapi tidak setiap jenis itu pasarnya telah terbangun. Jadi harus mulai dari mana??Kalau kita pengin pada posisi yang “aman-aman” saja lebih baik menentukan jenis yang sudah marketable alias jaringan pasar sudah terbentuk dan kuenya sudah cukup besar seperti ” Pachouly oil, clove oil, nutmeg oil, vetiver oil, dan sebagainya “. Tetapi ada juga yang berfikir bahwa jarang orang produksi sehingga memungkinkan untuk menjadi “market leader” lebih mudah karena kompetisi produk yang belum begitu besar seperti ” Gingger oil, gaharu buaya, masoia oil dan sebagainya “. Tetapi apapun yang kita pilih rasanya harus memenuhi unsur 3K. Kualitas, Kontinyuitas dan Kuantitas.

Untuk mengukur bahan baku yang memenuhi unsur 3 K juga sanat variatif karena faktor produktifitas persatuan waktunya, umur dan karakteristis daerah yang kita rencanakan, teknologi budidaya yang kita kuasai dan sebagainya. Tetapi apapun harus bisa direncanakan kebutuhan bahan baku persatuan waktunya misalkan perbulannya yang disesuaikan dengan volume mesin penyulingan itu sendiri. Sekali lagi ” penguasaan bahan baku adalah mutlak “.

Setelah kita mempersiapkan bahan bakunya, maka yang tidak kalah pentingnya adalah proses produksi. Hal ini menyangkut teknologi yang dipilih, bahan bakarnya, volumenya dan sebagainya. Pada prinsipnya teknologi distilasi ini sederhana, air dipanaskan sampai mendidih sehingga timbul uap yang akan membawa juga uap dari bahan baku, kemudian didinginkan sehingga dari uap berubah menjadi cairan, selanjutnya cairan ditampung kedalam separator. karena berat jenis minyak dan air berbeda maka akan terjadi pemisahan. sederhana!!!!

Teknologi jenis apa yang akan kita pilih, apakah teknik kohobasi atau uap langsung atau menggunakan steam atau uap tidak langsung. Masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Setelah kita memilih teknologi distilasinya, selanjutnya kita dihadapkan pada pilihan bahan bakarnya. Mana yang paling efisien dan handlignya paling mudah. Awal penyulingan para petani penyuling banyak menggunakan kayu bakar. Karena memang kayu bakar ini dipandang pada saat itu paling murah dan mudah. Seiring dengan kesulitan mendapatkan kayu bakar dan melimpahnya energi alternatif yakni dari fosil yang banyak dan murah maka beramai-ramailah para penyuling beralih ke energi yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan solar. Dengan naiknya harga minyak dunia, negara kita mengambil kebijakan dengan subsidi. Nach ini mulai jadi problematika tersendiri. Kebiasaan para penyuling adalah membeli solar di pompa bensin….padahal solar yang ada disitu adalah solar yang bersubsidi, maka menjadi makanan empuk bagi aparat hukum dengan tuduhan menggunakan solar bersubsidi untuk industri….meskipun itu industri rumahan yang masih punya hak untuk mendapatkan subsidi BBM.  Beberapa penyuling beralih ke batu bara, karena dipandang bahan bakar tersebut memenuhi persyaratan teknis dan ekonomis untuk menggantikan bahan bakar minyak. Akan tetapi selain sifatnya yang korosif luar biasa juga resiko toksik terhadap lingkungan sangat besar. Pada umumnya penyuling tidak menggunakan lahan yang luas dan jauh dari lingkungan sehingga ” efek” terhadap toksik terhadap lingkungan sangat kentara. Sebagian beralih ke kayu bakar karena ” njauhin” problema hukum……..

Penggunaan kayu bakar secara teknik pelaksanaan mempunyai problem tersendiri khususnya pada jenis bahan baku yang perlu tekanan dan suhu yang tinggi serta waktu yang relatif panjang.  Untuk menjaga konsistensi tekanan dan suhu diperlukan kalori yang cukup dan kontinyu. Tentu untuk memenuhi syarat itu perlu handling yang intensif dan relatif berat….. maka harus dicari laternatif kalori yang cukup dengan handling yang mudah sehingga menghasilkan efisiensi….

Beberapa titik-titik penting dalam distilasi, seperti pada condensor, tekanan pada steam boiler dan pada tangki reaktan, air pengisi yang kontinyu, dan sebagainya. Secara pokok pada condensor yang perlu diperhatikan adalah ukuran yang disesuaikan uap yang akan diproduksi, volume dan suhu air untuk pendingin, kekuatan pompa menyangkut kecepatan dan daya tekan air.  Seringkali kita menghadapi adalah volume air yang kurang cukup sehingga condensor posisi masih relatif panas sehingga proses pendinginan atau perubahan dari uap menjadi air tidak maksimal. Memang kekurangan volume air yang berasal dari sumber air bisa diatasi dengan cooling tower cuma biaya investasinya relatif mahal. MaAF YA ……Capek banget kita terusin episode ini dalam tulisan lanjutan ya alias to be conued…………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s