Privileged

Kediplinan suatu bangsa bisa dilihat dari cara berlalu lintas…….demikian kata banyak pakar soisal.  Memang benar di negara berkembang cenderung lalu lintas tidak teratur dan terkesan seenak sendiri. Kalau kita potret lalu lintas di negara kita Indonesia tercinta ini betapa kesemrawutan, kemacetan akibat lalu lintas yang malang melintang seakan tidak ada aturan, serta kecenderungan untuk seenak wudelnya sendiri. Padahal undang-undang lalu lintas sudah tidak kalah garangnya untuk mengatur agar lalu lintas teratur dan nyaman untuk seluruh warga. Tapi kenapa sampai sekarang seakan penyakit menahun yang tak bisa kunjung bisa disembuhkan???

Kalau kita cari akar permasalahan dari kesemrawutan ini adalah privileged dari seluruh stake holder pengguna lalu lintas di negeri ini. Mulai strata tertatas sampai strata terbawah, semua ingin mendapatkan privileged dalam mempergunakan jalan, dengan excuse masing-masing.

Tengoklah pejabat yang menggunakan pengawalan dengan raungan sirine yang memekakan telinga seakan mengatakan..”.hai minggir semua berhenti aku mau lewat, aku ini orang penting yang mengurus negara ini. Kalau aku terhenti maka negara ini akan terhenti, maka matilah seluruh aspek kehidupan ” tidak berduli apapun yang lain harus berhenti dan mengantri, rambu lalu lintas, traffick light yang merahpun tidak berlaku dan harus diterobos. Notabene rakyat yang membayar pajak yang pada saat itu sedang sakit harus segera sampai di rumah sakitpun tidak dipedulikan karena yang penting adalah keberlangsungan negara ini. Karena kekuasaanlah maka minta ada privilged dalam penggunaan lalu lintas…..tak peduli akibat itu akan macet, padat, dan semrawut……

Rambu lalu lintas yang mestinya satu arah dilanggar pula, ini banyak dilakukan oleh tukang becak. Hal ini sejenis privilged juga dengan dasar pemikiran kaum merekalah yang mendapatkan kue pembangunan yang paling kecil, melakukannyapun menggunakan tenaga, maka untuk memperpendek jalur agar cepat sampai ditujuan adalah dengan memotong jalur, meskipun itu satu arah dan sangat membahayakan bagi pengguna lalu lintas yang lain. Tidak peduli akibat itu kekacauan lalu lintas tak terhindarkan. Bagi mereka adalah ini priveleged yang mereka harus dapatkan…..

Berikutnya adalah privileged orang yang punya duit. Dengan membayar harga tertentu mereka dapat pengawalan khusus kayak pejabat dengan sirene yang meraung-raung memaksa pengguna yang lain untuk minggir dan mengantri. Meskipun jalanan macet dan padat mereka tidak peduli. Bagi mereka uang adalah segala-galanya dan bisa membeli apapun termasuk privileged dalam penggunaan berlalu lintas.

Anehnya lagi bagi warga bangsa ini penyeberangan jalan yang dibangun dengan mahal, malah hanya jadi hunian para peminta-minta sementara penyeberang jalan tetap saja menyebarang di jalan raya. Padahal sangat membahayakan bagi dirinya dan orang lain. Serta tidak kalah serunya adalah penanan angkot ( angkutan kota ) dan angkutan umum lainnya. Mentang-mentang kejar setoran, maka menggunakan jalan dengan seenak wudelnya sendiri. Berhenti ditengah jalan, memotong kanan kiri tanpa mengindahkan yang lain. Tindakan-tindakan tersebut seakan privileged yang harus mereka dapatkan karena mereka mencari uang ya ditengah-tengah pusaran arus lalu lintas…..meskipun akibat ulahnya itu kesemrawutan lalu lintas tak terhindarkan…….

Dengan demikian sebetulnya perbaikan Undang-Undang Lalu Lintas tidak akan sepenuhnya berhasil jika permasalahan bangsa ini tidak dibenahi, yakni keadilan sebenar-benarnya yang bermuara kepada suatu kesadaran. Kesadaran untuk mengutamakan kepentingan umum dari kepentingan pribadi. Tetapi tidak hanya slogan semata tetapi menjadi tindakan nyata untuk seluruh strata dan stake holders pengguna lalu lintas. Wajarlah apa yang dikatan ahli sosial diatas, karena ternyata permasalahan lalu lintas tidak hanya bisa dipecahkan dalam kacamata lalu lintas tetapi membutuhkan penyelesaian yang lebih mendasar………

One response to “Privileged

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s