Prospek HTI Pulp dan Kertas

(Saduran dan Ulasan dari tulisan Reinald Kasali ” Industri Hutan Brazil dan Indonesia ” di koran Sindo tanggal 24 Maret 2010 hal 1)

………..secara keseluruhan pemandangan hutan tropis Brazil selalu mendapat pujian. Brazil tahu persis hutan-hutan mana yang harus mereka tanam kembali, lindingi dan mana yang tidak boleh dijamah manusia. Semua ini berawal dari dibentunya Brazilian Forest Development Institute pada bulan Februari 1967 yang berhasil merumuskan ketentuan perundang-undangan kehutanan secara komprehensif.

Hasilnya 22 tahun kemudian keindahan hutan Brazil tampak dimana-mana. Seluas 6 Juta hektar mereka jadikan hutan tanaman industri ( HTI ) baru, dan melalui program reboisasi yang dilakukan pada areal seluas 300.000 hektare didapat lebih dari 500.000 lapangan kerja non skill. Sekarang sudah ada 63 Juta hektare HTI di Brazil dengan kemampuan produksi kertas 174 juta meter kubik. Hoeflich dkk pada 2002 menemukan kontribusi sektor kehutanan pada gross national produck ( GNP ) Brazil mencapai USD 20 miliar atau 4,5 % dari total GNP negara tersebut.

Hari hari ini saya mendapat kabar, Brazil telah menjadi eksportir kertas dan bahan baku kertas ( pulp & paper ) terpenting di China. Sejak 2005, produksi pulp Brazil telah meningkat signifikan 69 %. Impor China terhadap produk pulp asal Brazil sejak tahun itu meroket 280 %.

Pertanyaannya, bagaimana dengan industri kehutanan Indonesia yang telah dicanangkan Kamar Dagang dan Industri ( Kadin ) sebagai industri uatama indonesia tahun 2030?Menurut roadmap yang disusun Kadin tahun lalu itu, industri ini dapat dijadikan sumber keunggulan daya saing bangsa asal ditangani secara baik, pemerintah bersih dan berani mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang prudent. Kalau pemerintahnya bersih, mereka pasti tidak akan memilih jalan populis dengan mengentertain kelompok-kelompok pemeras atau penekan yang dibayar sponsor-sponsor tetentu.

Kita pernah mengalami masa kejayaan dengan produk-produk hasil hutan Industri Plywood kita bahkan sempat menjadi pemain utama di Amerika Serikat, Jepang, Inggris hingga tahun 2001. Setelah itu posisi Indonesia disalip oleh Malesia, China dan Brazil. Setelah ekspor kayu log dilarang dan perhatian untuk melestarikan hutan tropis meningkat disini, kita mulai lebih hati-hati menangani hutan. Tetapi, konon hasil hutan kita diambil para pencuri kayu dari negara tetangga.

Selain itu keributan-keributan terus terjadi antar para aktivis dan pengusaha HTI, polisi dan perusahaan, pejabat dan aktivis dan sterusnya. Padahal sejak tahun 1990 an industri kehutanan mulai beralih dari industri plywood ke industri kertas, sawit dan seterusnya. Keributan-keributan itu tampak cukup keras menentang HTI, meski kerusakan yang menonjol belakangan ini lebih banyak disebabkan izin-izin pertambangan batu bara yang begitu besar.

Setelah sawit, tekanan eksternal sekarang ditujukan pada pabrik kertas. Akibatnya produsen kertas yang sudah leading menanam investasi dalam jumlah besar seringkali menebang HTI yang mereka tanam sendiri. Alih alih menjadikan kertas Indonesia mengalahkan industri kertas Amerika Serikat pada 2030, tahun ini industri kertas Indonesia sedang kehilangan pijakan ” it seems going no where..” ujar analis di Brazil. Ketika China meningkatkan impor terhadap produk-produk pulp & paper, Brazil bisa memenuhinya. Sekali lagi sejak tahun 2005 impor bahan baku kertas dari China naik 280%. Bagaimana Indonesia?Impor China dari Indonesia untuk bahan baku pulp & paper justru turun 8 %. Sementara produk-produk mainan, makanan, obat-obatan dan peralatan berat asal China naik ratusan persen impornya kesini.

Setiap kali melihat keadaan seperti ini, sebagai orang yang ahli manajemen, saya merasa gemas. Kita tidak pernah berhenti berkelahi sesama kita dan membiarkan industri kita kehilangan daya saing. Saya tidak heran jika satu persatu pelaku usaha besar yang menciptakan ratusan ribu kesempatan kerja ini bersiap-siap hengkang dari sini.

Dari kalangan pelaku usaha usaha dibidang industri kertas, saya menemukan beberapa persoalan yang menyebabkan industri ini kesulitan untuk berkembang. Pertama, ada keragu-raguan dari pemerintah untuk menjaga kepentingan ekonomi industri hasil hutan. Keuda, ada ketidak jelasan aturan dan pedoman yang menimbulkan interpretasi subyektif terhadap perlakuan dilapangan dan muculnya konflik-konflik yang mengakibatkan kekacauan. Ketiga, terdapat diskrimanasi kebijakan dan perlakuan terhadap HTI antara pemakain lahan untuk penambangan, perkebunan dan industri kertas. Bila pada industri pertambangan dan perkebunan sudah ada Hak Guna Usaha ( HGU ) dan pinjam pakai yang segera bisa dieksekusi, sedangkan untuk HTI masih diperlukan izin-izin lanjutan yang jumlahnya sangat banyak.

Perlakuan seperti itu jelas berbeda dengan perlakuan yang diterima pelaku-pelaku usaha maupun negara-negara pesaing Indonesia. Kalau ini dibiarkan saya kira kita kelak akan beralih dari negara penghasil kertas menjadi negeri pengimpor kertas bekas. Mengapa demikian??Karena bisnisnya lebih gampang dan izinya tidak ribet. Lantas siapa yang diuntungkan???

Dari paparan tulisan Reinald Kasali, kita sebagai masyarakat perhutanan Indonesia, merasa lebih gemas karena kita merasakan secara langsung dilapangan. Secara umum kelambanan perkembangan HTI menyangkut beberapa faktur yang penting, yakni meliputi : Perizinan, Kepastian Hukum, Back-up perbankan, Dukungan pemerintah pusat dan daerah.

1.  Perizinan.

Perizinan yang dikeluarkan untuk HTI adalah Surat Keputusan Menteri ( SK Menteri ) berupa Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu ( IUPHHK ).  Perusahaan pemegang hak hanya mempunyai hak pengelolaan kayu saja bukan hak yang lebih ” mutlak ” seperti Hak Guna Usaha ( HGU ) atau Hak Pakai. Otomatis karena hanya mempunyai pengelolaan saja secara ” kekuatan hukum ” dalam penguasaan areal relatif lebih lemah. Hal tersebut dapat dijadikan parameter bahwa IUPHHK HTI tdiak ditempatkan sebagai asset dalam neraca sehingga tidak bisa dijadikan agunan. Implikasi ini membawa dampak yang panjang karena berkaitan dengan sektor pendanaan. Padahal HTI Pulp dan kertas memerlukan dana yang cukup besar dalam investasinya dan berdimensi jangka panjang ( long term investment ). Karena ketidak mutlakan dalam pengusaan areal pulalah maka alat-lat ( equpment ) khususnya alat berat harus ada perizinan tentang pemasukan alat.

2.  Back Up Perbankan.

Usaha-usaha perkebunan khususnya perkebunan kelapa sawit perkembangannya sangat pesat. Meskipun invetasinya culup besar dan jangka panjang. Hal ini disebabkan salah satu yang terpenting adalah adanya back up perbankan. Sejal awal telah digulirkan PBSN ( Perkebunan Besar Swasta Nasional ) sampai pada kredit KKPA ( Kredit Kepemilikan Perkebunan Anggota ). Sedangkan untuk HTI setelah DR ( Dana reboisasi ) ditarik ke APBN dan tidak boleh lagi untuk pinjaman pembangunan HTI belum ada lagi program untuk pembangunan HTI selain untuk HTR ( Hutan Tanaman Rakyat ) yang telah digulirkan pemerintah.

3.  Kepastian Hukum

Hal yang paling krusial dalam pembangunan HTI adalah masalah sosial. Hal ini disebabkan kepastian hukum batas areal yang ditetapkan oleh kementrian kehutanan masih bersifat “ngambang”. Sehingga begitu perusahaan akan melaksanakan operasional dilapangan, akan berhadapan dengan masyarakat sekitar hutan maupun masyarakat dalam hutan. Areal HTI yang biasanya pencadangannya diambil dari Hutan Produksi Tetap ( HPT ) atau HPT ( Hutan Produksi Terbatas ) didalamnya sudah banyak desa-desa dan perladangan yang  batas-batasnya tidak jelas.

4.  Dukungan Pemerintah Pusat dan daerah.

Dukungan ini bersifat mutlak dan implementatif. Salah satu yang terpenting adalah menyiapkan lahan yang “save” untuk dibangunnya HTI. Undang-undangnya mesti jelas dan diimplementasikan kelapangan. Apalagi dalam zaman reformasi ini perusahaan harus berhadapan dengan ” Pejabat, Aparat, Anggota DPR, dan masyarakat ‘ betapa banyak yang harus dihadapi oleh perusahaan untuk melaksanakan pembangunan HTI dan menyerap ribuan tenga kerja dan membawa multiplier effek ekonomi.

Terus kapan negara ini bener dalam tracknya dalam mengejar ketertinggalan dengan negara lain?????? Tuhan sajalah yang tahu…………………………………………………………………………………………………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s