ASAP YANG JADI MASALAH

Hampir setiap tahun dari zaman baheula untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan selalu panen asap, khususnya pada musim kemarau. Hanya pada tahun terakhir ini setelah terbukanya informasi dan kesadaran akan pentingnya udara bersih untuk menjaga kesehatan maka menjadi head line news baik media elektronik maupun media cetak tak ketinggalan pula media soisial. Ramai dan silang sengkarut informasi sama halnya dengan hilangnya pesawat Malaesia Air Line MH 370 yang menimbulkan banyak spekulasi.

Eskalasi informasi karena kabut asap di Riau sudah luar biasa karena sudah melibatkan puncak eksekutife negeri ini yakni Presiden SBY, tentu sibuklah Kapolri dan jajarannya, Kementerian Kehutanan dengan Manggala Agninya, Kementerian Lingkungan Hidup, BNPB, tak ketinggalan jajaran TNI yang diharuskan mengerahkan pasukannya untuk ikut menyelesaikan kabut asap Riau tersebut, lebih lagi kesempatan bagi NGO/LSM untuk menyuarakan aspirasinya.

Riau yang memiliki lahan gambut yang cukup luas, memiliki riseko kebakaran yang lebih tinggi dibanding daerah yang mengandung tanah mineral yang lebih besar. Gambut merupakan material organik baik telah terdekomposisi maupun yang belum. Kedalaman lahan gambut mulai dari yang dangkal dibawah 1 meter sampai diatas 5 meter. Sehingga jika terjadi kebakaran tidak hanya kebakaran di permukaan tetapi juga bisa terjadi kebakaran di dalam.

Land preparation atau persiapan lahan merupakan keniscayaan dalam bercocok tanam, baik untuk tanaman semusim maupun untuk tanaman tahunan. Standart Operating Prosedure ( SOP ) land preparation dengan sistim manual, dimulai dari ” tebas, tebang, cincang, bakar I, cincang II dan bakar II. Hal ini dipandang paling efisien baik dari segi ekonomis maupun teknis. Sementara untuk land preparation secara mekanis sopnya adalah land clearing, bajak i, bajak ii, herrow I dan herrow ii atau bisa juga land clearing dengan sistim jalur dengan menumpuk material secara larikan. Sistim ini membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dengan hasil yang kurang maksimal karena masih banyak material dilapangan ( kurang bersih ) disamping terjadi pemadatan tanah.

Budaya petani luar jawa adalah berawal dari peladang berpindah. Artinya setiap tahun atau musim tanam akan berpindah dari suatu lokasi ke lokasi lain, karena dipandang ladang yang telah dibuka dan ditanami akan menurun kesuburannya. Sehingga harus mencari ladang baru. Sistim land preparation yang digunakan adalah secara manual dan mutlak harus ada pembakaran untuk membersihkan material yang ada dilapangan. Setelah musim hujan tiba dilakukan penugalan untuk menanam padi atau polowijo yang lain. Hal tersebut dilakukan secara bersamaan.

Dipandang asap dan pembakaran sudah membahayakan lingkungan dan kelestrian hutan maka maka dalam Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan telah mencantumkan pelarangan pembakaran hutan sesuai pasal 50 serta perbuatan membakar hutan diancam dalam pasal 78 ayat 3 dan 4. Serta Undang Undang No 32 Tahun 2009 tetang Lingkungan Hidup. Ancaman para pencemar udara diancam dalam pasal 98, 99 dan 108.

Dengan ancaman yang berat tersebut baik denda maupun ancaman kurungan penjara, mustahil kiranya perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan maupun kehutanan berani melakukan pembakaran dengan terencana alias sengaja. Kalau itu dilakukan berarti perusahaan tersebut diharapkan collapse karena resiko yang harus dihadapi para pengurusnya. Yang menjadi maslahnya adalah adanya pasal karet ” karena kelalainnya ” ini ada di UU 41 maupun UU 32 yakni dalam pasal 78 ayat 4 dan ayat 99 pada UU 32. Bisa saja karena tidak suka akan keberadaan perusahaan kemudian dilakukan pembakaran dengan sembunyi sembunyi agar perusahaan terkena pasal tersebut, bisa saja terjadi demikian. Atau memang karena ketidak sengajaan terjadi api loncat yang menyebabkan kebakaran, banyak kemungkinan terjadi. Hanya secara obyektife harus dilihat motivasinya apa?jangan sampai sudah jatuh tertimpa tangga pula. Artinya banyak perusahaan yang sudah dirugikan karena kebakaran ini karena tanamannya yang perlu investasi yang tidak kecil sudah terbakar tapi masih diancam ancam oleh hukum pidana dan denda. Sementara agar dikira populis banyak pihak ramai ramai menuding perusahaan adalah penyebab kebakaran tanpa pernah mengetahui hal ikhwalnya. Malah lebih jauh perusahaan dituduh binatang yang rakus yang semua mau dimakan tanpa menyisakan apapun.

Mestinya jalan keluar yang dilakukan oleh pemerintah adalah mencari akar masalahnya agar dicari solusinya. jangan sampai menanggulangi suatu masalah menyebabkan masalah yang lain dan hal tersebut tidak diketahui. Dengan dilarang membakar, maka para petani tradisional harus dicarikan solusi bagaimana mereka menyiapkan lahannya??siapkan melakukan perubahan budaya dengan membalik telapak tangan?karena ketakutan mereka tidak bisa membuka ladang, kemudian bagaimana dengan beras mereka?sementara lahan terbentang luas, bukankah hal ini sama saja dengan tikus mati di lumbung padi??sejauh ini mendengar dari diskusi para birokrat, NGO dan lain lain tidak ada yang mengupas tentang hal ini. Yang dilakukan adalah saling menuduh, mematikan satu dengan yang lain tanpa solusi yang jelas. Para penegak hukum dengan bersemangat melakukan instruksi untuk penegakan hukum tanpa pernah bisa memberi solusi jadi ” asal pokoknya tidak boleh”. Mau dibawa kemana asap Riau ini??????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s