Sekali lagi tentang Pemilu dan Pengetahuan Calon

Setiap lima tahun, bangsa Indonesia rutin melakukan hajat demokrasinya yakni pemilihan umum. Kegiatan tersebut bertujuan mengadakan pemilihan Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Tingkat I dan Tingkat II. Pertama kali Pemilu diadakan tahun 1955, kemudian terhenti dan mulai lagi sejak tahun 1972, zaman orde baru hingga saat ini. Biaya, tenaga, darah dan air mata dari kegiatan Pemilu ini sudah tidak terhitung, luar biasa besar. Hal tersebut wajar wajar saja karena kita memilih jalan demokrasi la roi bafih ( tidak ada keraguan atasnya ) dus berarti kita meyakini kebenaran orang banyaklah yang menentukan bukan kebenaran yang sejati karena mengikuti faham barat “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Apalagi menjelang pemilu 2014 ini, hingar bingar diskusi, promosi, pembuatan kesan, membangun amage, membangun presepsi, sampai pada kampanye putih, kampanye hitam khususnya di media elektronik yang berkembang sangat pesat pada dekade terakhir ini. 

 

Kalau kita memilih sesuatu tentu kita paham akan sesuatu. Jika hari ini kita memilih makan gudeg, karena kita berharap mendapatkan taste tentang gudeg ya manisnya, ya gurihnya, ya pedasnya. Atau hari ini kita menginginkan makan rawon setan tingkat akhir, maka kita berharap mendapatkan taste rawon yang sangat pedas. Dus kita memilih sesuatu karena kita tahu apa yang kita pilih. Masalahnya apakah dalam pemilu kita tahu betul siapa, bagimana, serta prestasi apa yang telah dilakukan. Padahal kalau kita memilih sesuatu sedangkan kita tidak tahu akan sesuatu berarti tindakan kita adalah tindakan bodoh.  Selain kita harus tahu betul apa yang kita pilih, mestinya kita mempunyai kemampuan mengkontrol apa yang kita pilih. La apa gunanya memilih sesuatu semnetara sesuatu yang kita pilih tidak mampu kita kontrol?? apakah ada kemampuan kita untuk mengetahui apa yang kita pilih dan sekaligus mengkontrolnya.

Seberapa besarkah kita mengetahui tentang sesuatu itu? dan dari mana mengetahui tentang sesuatu itu?pada umumnya sangat sedikit pengetahuan kita tentang orang yang akan kita pilih, untuk diberikan fasilitas yang cukup agar mereka bisa leluasa memimpin kita semua. Pengetahuan kita yang sedikit ini biasanya kita dapatkan dari media. Problemnya adalah apakah media bisa kita percayai?bukankah media tidak menggunakan ideologi obyektif?tapi menggunakan ideologi subyektif ” bed news is good news “. Sudah pengetahuan kita sedikit itupun kita dapatkan dari media yang sejatinya tidak kita percayai juga ” absurd ” bukan??

Disalah satu acara maiyahan di Jakarta, hadlirin disuruh membuat urutan siapa yang paling dihrmati dan dihargai masyarakat saat ini, kalau ada :

  • Orang Pintar
  • Orang Kaya
  • Orang Kuat
  • Orang Mulia dan Jujur

Untuk zaman sekarang dapat disimpulkan urutan-urutan yang dihormati masyarakat :

  1. Orang Kaya
  2. Orang Kuat
  3. Orang Pintar
  4. Orang Mulia dan Jujur

Jadi jelaslah bahwa sekarang orang berlomba lomba untuk mencari kekayaan yang sebanyak banyaknya kalau perlu sampai unlimitted. Karena semakin kaya akan semakin dihormati masyarakat. Tidak aneh para koruptor yang telah disita hartanya oleh KPK membikin kita geleng geleng kepala seakan mustahil. Apapun profesi saat ini semua berlomba untuk mengumpulkan kekayaan yang sebanyak banyaknya. Tidak terkecuali saudara saudara kita yang sedang melakukan perlombaan.

Karena kita sudah sepakati pemilu sebagai wujud dari sistem demikrasi, semnetara kita juga minim pengetahuan kita tentang calon yang akan kita pilih,bahkan mungkin kita tidak tahu yang sebenarnya. Ada baiknya kita melakukan doa minta petunjuk Tuhan, semoga dipilihkan yang terbaik. Hal ini sebagai antisipasi kalau kita memohon agar bangsa ini bisa lebih baik. Jangan sampai Tuhan balik bertanya ” bagaimana kalian mau bangsamu lebih baik wong suruh pilih pemimpin saja kalian tidak mau alias tidak mau mencoblos” maka sebaiknya kita melakukan doa agar dipilihkan yang terbaik, yang amanah, yang sayang secara benar benar sayang pada rakyat, yang mulia akhlaknya dan jujur sesuai janji janji yang telah ditebarkan dalam kampanye. Jika mereka khianat mohon ya Tuhan agar engkau melakukan interfensi dalam kehidupannya dan sementara membatalkan puasaMU untuk tidak langsung menghukum. Karena kita akan mengeluh dan mengadu kepada siapa selain kepada Engkau. Kan lucu kalau harus mengadu kepada DPR, wong itu yang kita adukan. Hanya engkaulah maha pemutus segala sesuatu.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s