Sebenarnya HUKUM Milik siapa ??

Dalam kehidupan sehari hari banyak ditemui segala tetek bengek permasalahan, baik menyangkut individu dengan individu, individu dengan pemerintah, individu dengan institusi swasta, maupun sebaliknya bahkan antar lembaga yang sama juga memungkinkan untuk saling bermasalah. Untuk membuktikan hal tersebut gampang saja coba tengok sebentar saja berita di media elektronik apa saja yang tersaji dalam berita tersebut, masih kurang puas coba kita baca di media cetak apa yang tersaji dalam berita tersebut…

Sebagai rambu rambu yang mengatur diperlukanlah hukum. Agar kompleksitas “hubungan ” dan permasalahan ada guidance. Sehingga tidak menggunakan hukum rimba ” siapa yang kuat dia yang menang ” jadi tidak ada keadilan. Kalau tidak mau dengan kondisi tersebut ya harus minggir jauh jauh dari komunitas tersebut. Tidak ada benar tidak ada salah yang ada adalah siapa yang kuat dia akan menang dan yang lemah akan kalah segala galanya. Tidak hanya zero sum game bahkan lebih dari itu. Karena secara substansinya tidak ada sudah tidak ada permainan.

Yang menarik dalam kehidupan kita sehari hari setiap permasalahan dilihat dari subyeknya bukan obyeknya dan seakan semua mengamini. Kalau orang kecil meskipun melakukan kesalahan maka harus dilindungi dan dibina. Mulai orang yang melakukan penghinaan lewat media sosial kepada calon penguasa. Karena yang melakukan orang kecil ” tukang tusuk sate ” rame rame nitizen bahkan para penguasa turun untuk melindungi dan memberi hadiah. Kalau terjadi konflik antara individu dengan corporasi, akan rame rame menuding corporasi yang salah dan individu sebagai korban. Bahkan ada undang undang kehutanan yang katanya dipakai untuk membidik korporasi sementara kalau individu dan orang kecil boleh melanggar.

Kalau hukum sudah subyektif maka akan tiba masanya hukum rimba berlaku. Entah awalnya untuk tujuan pencitraan atau tujuan populis tetapi kalau menyangkut hukum hendaknya ditegakkan secara obyektif. Sehingga tidak ada yang terdholimi. Banyak kasus masalah pertanahan yang berkait dengan perkebunan dan kehutanan. Begitu pula di kota kota besar pendudukan tanah secara tak berijin dengan semena mena yang keluar dari akal sehat. Kalau kita punya tanah kemudian diduduki tanpa ada izin apapun. kemudian kita perlu tanah tersebut maka kita diharuskan untuk memberi ganti rugi atau istilah lain dengan uang kerohiman atau istilah lain……

Apalagi di era terakhir ini, siapa yang membela individu meskipun salah maka dia menjadi pahlawan. Kalau pengadilan sudah memutuskan baik mulai dari pengadilan negeri, pengadilan tinggi bahkan sampai Mahkamah agung dan semua menyatakan bersalah….eh la pers kita yang bebas ini menyatakan sebagai pahlawan ham….termasuk penguasanya…..dan Corporasi disudutkan seakan corporasi yang jahat dan identik dengan setan. Ada lagi jelas jelas merusak taman nasional kemudian hasilnya corporasi tidak mau membantu mengangkut eh…malah masyarakat setempat marah dan merusak aset corporasi. Lantas yang dituduh corporasi yang merusak Taman Nasional….dan masih segudang kasus lagi.

Kasus yang banyak juga pengrusakan oleh para demonstan. Awalnya bertujuan untuk menyuarakan aspirasi. Tapi ujungnya adalah ada yang dirugikan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya anarki yang membuat kerusakan baik properti milik individu maupun properti milik pemerintah.  Pemblokiran jalan tol pemaksaan demo lewat pemaksaan dibukanya pintu pintu pabrik. Sehingga kalau atas nama masa semua boleh dan hukum tidak berlaku. Aparat tidak bisa apa apa. Kalau aparat bertindak keras maka akan melanggar ham. Sehingga jabatan menjadi taruhan. Demi aman maka dibiarkan saja anarkisme berlangsung. Kalau ada yang rusak ya diperbaiki wong duit negara banyak ini……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s