Kegelisahan Masyarakat Bola Indonesia

Sejak kabinet kerja kerja kerja mulai bekerja. Belum kelihatan produk yang mempunyai deferensiasi dengan kabinet sebelumnya tetapi sayangnya jauh lebih buruk. Baik sisi ekonomi yang mengalami pertumbuhan yang jauh dari rencana, hal ini menyebabkan penyerapan tenaga kerja menurun. Sementara pertumbuhan penduduk tidak turun. Otomatis pertambahan angka pengangguran. Dari aspek hukum bagaimana kelumpuhan KPK. Bagaimana strategi memenangkan seseorang yang diinginkan untuk tetap menjabat. Dan masyarakat lupa tidak ada reaksi. KPK menjadi bulan bulanan pengadilan, kepolisian dan sangat menyedihkan. Tidak kalah menyedihkan dan menyayat hati adalah bidang olahraga khususnya sepakbola. Salah satu cabang olahraga terpopuler dan mempunyai sejarah yang sangat panjang di Indonesia.

Sepakbola adalah bagian dari olahraga. Jika bicara olahraga ada filosofi yang dipakainya yakni sportif, jujur dan bisa menerima kenyataan. Begitu pula kalau bicara politik juga mempunyai makna filosofisnya ” tidak ada kawan yang sejati yang ada adalah kepentingan yang sejati. Untuk merealisasikan kepentingan dengan berbagai manuver, intrik, fitnah apapaun yang penting kepentingaannya tercapai.  Inilah kacaunya jika olahraga dicampur dengan politik. Apa kepentingannya tentu sangat banyak baik secara ekonomi, pencitraan sampai pada memperbanyak massa pendukung.

Sejak dibekukannya PSSI oleh Kemenporah, mulailah babak politik baru sepakbola. Seakan perulangan dari adanya PSSI dan KPSI. Dua lisme ini juga sampai pada dualisme liga Indonesia antara IPL dan ISL. Hal itu membawa kloningan klub klub. ada Arema double, Persebaya double, Persija double. Itu saja sudah memakan energi yang luar biasa besar. Akhirnya pertempuran tersebut bisa dimenangkan oleh KPSI. Sehingga bersatulagi dalam wadah PSSI. Kloningan klub ada yang bisa menyelesaikan masalahanya secara internal bahkan sampai pengadilan. Tetapi ada juga yang tidak selesai.  Sekarang pertempuran politiknya berbeda warna yakni antara pemerintah ” Kemenporah” dengan PSSI. Hal inilah yang ditabukan oleh FIFA. Ini sangat dimengerti karena ada beberapa negara begitu berganti rezim maka rezim yang baru akan memaksakan kehendak untuk menjadi player dari olahraga yang sangat populer ini. Untuk mencegah distabilisasi organisasi sepakbola inilah FIFA membuat aturan agar tidak ada campur tangan pihak ke tiga terlebih adalah pemerintah. So pasti rezim yang baru tidak akan suka dengan aturan FIFA tersebut.

Apapun yang terjadi yang menjadi korban adalah masyarakat bola sendiri. Tinggal mana yang merasakan paling parah. Tentu jajaran player langsung seperti pemain, pelatih, pengurus klub. Jika politik masih dijadikan panglima dalam menentukan kebijakan tentang olahraga paling populer ini maka gonjang ganjing dalam pengelolaan akan terus berlangsung. Jangankan biacara prestasi untuk hidup saja sulit. Mungkin Menporah lupa bahwa era sekarang ini adalah era profesional bukan era amatir. Sementa cara berfikir dan bertindak Menporah ini masih berfikir semua masih amatir sehingga semua dana harus nyadong ke pemerintah sehingga pemerintah punya kewenangan apapun untuk membuat blue print. Termasuk mengganti pengurusnya kapanpun dan dimanapun. Tidak berfikirkah sisi kemanusiaan. Atlet profesional bola menggantungkan dirinya dari bermain bola untuk manfkahi keluarganya. Dengan situasi seperti ini dari mana mereka akan mendapatkan nafkah? padahal hanya bermain bola adalah keahliannya. Kalau jajaran kemenporah ya aman aman saja karena sudah dijamin oleh pemerintah semua kebutuhanyya. Perih dan sangat menyedihkan. Sebagai pejabat yang dibiayai oleh rakyat tidak pernah berfikir tentang kebutuhan rakyatnya yang difikirkan adalah kepentingan pribadinya.

Statemen statemen sangat berbau politis. Mulai dari meragukan surat FIFA, sampai pada menabuh genderang perang pada FIFA. Seakan sepakbola itu ciptaannya sendiri. Aturan main luas lapangan dan sebagainya adalah murni “Hak Paten” FIFA. Jika menabuh genderang perang maka sesungguhnya itu tindakan bodoh disisi sportifitas tetapi syah syah saja disisi politik. Sangat aneh rasanya pimpinan negeri ini dengan statemen statemen yang bombastis tanpa berfikir konsekuensi. Bolehlah berprinsip reformasi total, dst, dst kalau menjamin hajat hidup insan sepakbola. Katanya sangat dekat dengan rakyat dan sangat memahami kebutuhan rakyat??

Masih ada hari esok apapun yang dilakukan hari ini akan menuai hasilnya esok. Karena pada hakekatnya hidup itu berjodoh jodoh. Jodohnya kebaikan adalah ketenangan, kebahagiaan. Jodohnya kedholiman adalah penderitaan. Jabatan tidak langgeng ada batasnya. Mestinya semua sadar yang harus dilakukan adalah murni untuk kebaikan bukan alasan yang dipakai adalah kebaikan padahal ada sisi target yang lain. Apapun yang dilakukan hari ini akan menjadi sejarah hari esok. Buatlah sejarah yang baik yang akan dikenang sepanjang massa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s