Telahaan Kritis Tentang Asap ” Siapa yang bisa menjadi kambing hitam ??”

Setiap tahun media baik cetak maupun elektronik dihebohkan oleh berita tentang asap.  Seiring dengan hujan maka hilang asap hilang pula pemberitaannya. Begitu masuk musim kemarau, maka kembali asap akan timbul, hebohlah berita, tidak terkecuali para birokrat, bahkan pada level ring 1 termasuk Prsedien sibuk tentang asap. Kerugian ekonomi tidak terhitung baik langsung maupun tidak langsung. Penerbangan yang terganggu akan menimbulkan multiplier effect yang tidak kecil karena asap.

BNPB ( Badan Nasional Penaggulangan Bencana ), Manggala Agni, Personil Militer, Kepolisian semua dikerahkan. Termasuk BBPT ( Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) berusaha merekayasa cuaca dengan hujan buatannya dengan menerjunkan garam berton ton. Tetapi seiring belum rutinnya turun hujan maka asap pekat yang nota bene sudah tingkat ” Bahaya ” bagi kesehatan belum juga sirna.

Sudah biasa terjadi di negeri ini, yang paling mengasyikkan adalah ” siapa pelaku pembakaran ?? ” . Secara politik untuk menjawab pertanyaan itu adalah siapa yang akan dijadikan kambing hitam atas suatu peristiwa. Yang paling mudah dan paling lemah secara politik adalah kaum borjuis yang serakah, dalam entitas disebut dengan ” corporasi “.  Dilawankan dengan kaum proletar yang tertindas. Dieksposelah adanya kematian akibat asap. Penyakit Ispa dimana mana……terus diulang ulang pemberitaan agar tercipta presepsi bahwa ” Corporasi membakar hutan dan lahan untuk mengurangi biaya Land Clearing menyebabkan asap yang pekat pada taraf membahayakan. Korbannya adalah masyarakat yang tak berdaya hanya menerima kepulan asap dari pengusaha.  Para lembaga sosial kemasyarakatan berteriak ” hukum bangsa borjuis ” dengan penjara, cabut izinnya sehingga sudah tidak punya usaha lagi….dan itu diaminkan oleh media, birokrat dan aparat penegak hukum. Sehingga diumumkanlah sekian corporasi sudah dilakukan penyeledikan, penyidikan dan segera akan dituntut.

Kalau kita coba secara obyektife menilai apa yang terjadi dan siapa sesungguhnya pelakunya. Kita harus cermat sehingga obat yang harus ditelan betul betul tepat sasaran sehingga ada efek penyembuh dikemudian hari tidak akan terjadi. Yang jelas dengan pola pola diatas tidak pernah berhasil buktinya setiap tahun terjadi dan setiap tahun pula berulang cara cara yang lama dan usang.

Adanya Undang Undang Lingkungan Hidup dengan pasal karetnya, serta Undang Undang Pokok Kehutanan, tentu bisa mengancam siapapun corporasi yang melakukan pembakaran. Baik sengaja maupun tidak sengaja. Suatu tindakan bodoh jika corporasi dengan sengaja melakukan pembakaran untuk mendapatkan nilai efisiensi dalam membuka lahan. Karena jelas jelas akan dikenakan secara hukum baik pidana maupun perdata. Jika benar terjadi demikian maka wajar calau corporasi itu harus gulung tikar alias bangkrut karena dikelola dengan tidak prudent dan tidask menggunakan analisa resiko. Benarkah pengusaha yang mempunyai cukup besar kapital tapi dasarnya bodoh? mungkin ada tapi jumlahnya minimal. Itu secara logis dan rasional. Sehingga jika terjadi pada areal corporasi itu sesungguhnya adalah ” kecelakaan ” dan corporasi itu menjadi korban bukan pelaku. Ini yang terbalik dari mainstream dalam media bahwa corporasi adalah pelaku. Dengan pasal karet ” Kelalaian menyebabkan kebakaran ” maka aparat hukum dengan mudah menjatuhkan status terdakwa dengan menemukan kebakaran didalam areal konsesi corporasi. Padahal dalam areal tersebut ada tanaman yang ikut terbakar. Sudah rugi tanamannya terbakar, menjadi tersangka pula.

Sudah jelas seharusnya provinsi mana saja yang banyak menghasilkan asap? bagaimana pengelolaan tata ruangnya. Berapa besra kawasan hutan yang masih open akses. Berapa banyak lahan tidur yang tidak diupayakan untuk budi daya. Provinsi yang tahun 2015 paling banyak asap adalah : Sumatera : Riau, Jambi dan Sumatera Selatan. Sedangkan Kalimantan : Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Secara budaya, pada areal yang lahan tidurnya luas, disitu terdapat budaya ladang berpindah. Budaya ladang berpindah adalah dengan menyerahkan sepenuhnya pada alam.  Sebelum masuk penghujan maka para peladang akan melakukan land clearing dengan tebas tebang dan bakar. Jika hujan mulai turun mulai diadakan penugalan untuk ditanam benih. Setelah benih tumbuh maka akan ditunggu sehingga panen tiba.  Materi hasil pembakaran tersebut diperlukan untuk menyuburkan tanaman sebagai pupuk. Secara UU Lingkungan juga diperbolehkan seluas 2 ha per peladang.  Dalam teori juga harus diberi sekat bakar agar tidak merambat. Jika dalam suatu daerah jumlah peldang bisa ribuan hektar, bisa dibayangkan efeknya. Ini yang tidak pernah dicari solusinya oleh pemerintah.

Mengenai pasal kelalaian ” jika kebakaran terjadi pada daerah kawasan hutan yang open akses ” siapa yang dituduh ” kelalaian menyebabkan kebakaran. Jika terjadi pada Taman nasional, apakah pejabat BKSDA dikenakan pasal :kelalaian menyebabkan kebakaran??

Maka solusi yang paling cerdas adalah ” karena asap berasal dari api ” maka api harus segera dipadamkan. Pemadaman dibagi menjadi dua : Dalam konsesi menjadi kewajiban corporasi sedangkan diluar wilayah konsesi menjadi tanggung jawab pemerintah. Dibikin komitment dan jadwal yang ketat. Kapan pemadaman itu harus dilaksanakan. Tentu bangsa ini sudah terbagi kedalam tata pemerintahan Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Itulah komponen yang harus dimobilisasi oleh pemerintah untuk melakukan pemadaman.  Sehingga sudah tidak ada lagi api diseluruh desa setelah satu minggu. Pemerintah dengan jajarannya membantu peralatan sesuai dengan urgensinya. Sedangkan untuk corporasi harus juga ditarget seminggu sudah tidak ada api di konsesinya. Jika masih ada maka sesungguhnya corporasi tersebut tidak mampu mengelola konsesinya dengan baik, maka perlu dilakukan evaluasi misalnya pemotongan konsesi bahkan penjabutan kalau total tidak ada daya dan upaya.

Ini cara paling cermat dan cerdas tanpa ada nuansa potilis dan tidak merugikan semua pihak dan tidak meninggalkan efek yang berkelanjutan……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s